Menuju konten utama

Pedagang Daging: Kenaikan Harga Bukan Karena Wabah PMK

Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) DKI Jakarta menilai harga daging naik karena pola konsumsi masyarakat rendah.

Pedagang Daging: Kenaikan Harga Bukan Karena Wabah PMK
Pedagang menata daging sapi yang dia jual di Pasar Minggu, Jakarta, Kamis (10/6/2021). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc.

tirto.id - Harga daging sapi konsumsi belum juga mengalami penurunan pasca Idulfitri 2022. Rerata harga daging konsumsi di Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi (Jabodetabek) saat ini masih dibandrol Rp150.000/kg, dari sebelumnya Rp140.000/kg.

Sekretaris Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) DKI Jakarta, Mufti Bangkit Sanjaya menilai harga meroket bukan karena wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang saat ini sedang mewabah. Tetapi murni karena pola konsumsi masyarakat rendah.

"Tetapi kadang teman-teman pedagang banyak mengatakan ini imbas wabah PMK juga. Sebenarnya tidak seperti itu juga," kata Mufti saat dihubungi reporter Tirto, Sabtu (4/6/2022).

Dia menilai saat ini masyarakat Indonesia kehilangan daya beli. Puncaknya terjadi setelah Lebaran kemarin, karena masyarakat telah menghabiskan uangnya untuk keperluan mudik dan kebutuhan.

"Karena siklus tahunannya seperti itu. Industri belum pulih. Warung penjual daging belum kembali. Misalnya tukang baso di Jakarta rata-rata mereka tidak pulang kampung pas Lebaran. Setelah dua minggu Lebaran dia baru pulang kampung, sehingga daya belinya memang tambah turun," bebernya.

Akibat lemahnya daya beli masyarakat, siklus perputaran uang pedagang daging pun ikut berdampak. Bahkan, diperkirakan pelemahan daya beli ini terus berlangsung sampai dengan sepuluh hari setelah Iduladha.

"Cuma jadi catatan adalah daerah di luar Jabodetabek yang kebutuhan daging konsumsi dipasok dari sapi lokal berpengaruh. Ini berpengaruh terhadap penjualan di pedagang sendiri di samping siklusnya tetap aja sama," jelasnya.

Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) sebelumnya menyoroti kenaikan terhadap harga daging terjadi karena faktor pasokan. Ditambah adanya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK), membuat beberapa komoditas khawatir dipotong atau dijual.

"Makanya daging mengalami kenaikan itu tidak hanya musiman karena jelang hari raya Idul Adha tetapi musim haji tapi juga persoalan PMK itu," kata Ketua Dewan Pimpinan Pusat IKAPPI, Abdullah Mansuri.

Baca juga artikel terkait HARGA DAGING atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Intan Umbari Prihatin