Menuju konten utama

Pasar Saham "Memerah" oleh Trump

Donald Trump terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat, menggantikan Barrack Obama. Pasar saham ikut merah. Merah bukan karena berada di pihak Trump dan Partai Republik, tetapi merah karena anjlok.

Pasar Saham
Seorang karyawan perusahaan perdagangan valuta asing bekerja didekat monitor yang menayangkan calon presiden Amerika Serikat dari partai Demokrat Hillary Clinton dan calon presiden Amerika Serikat dari partai Republik Donald Trump di berita televisi, kurs yen Jepang terhadap US dolar (kiri atas) dan harga Nikkei Jepang di Tokyo, Jepang, Rabu (9/11). ANTARA FOTO/REUTERS/Toru Hanai

tirto.id - “Pasar keuangan menjelaskan kepada dunia tentang apa yang mereka pikirkan tentang Trump sebagai presiden. Kalau pasar tak keliru, Trump adalah sosok yang buruk bagi pertumbuhan ekonomi dan perdagangan.”

Kalimat itu diungkapkan Stephen Koukulas sekitar dua jam sebelum Trump resmi memenangkan posisi Presiden Amerika Serikat. Koukulas adalah ekonom terkemuka Australia. Ia juga peneliti di Per Capita, lembaga think tank independen di Negeri Kangguru itu.

Ungkapan Koukulas ini bukan omong kosong belaka. Setidaknya, lima jam sebelum kemenangan Trump, pasar saham memang sudah bergejolak. Sementara Trump terus memimpin perolehan suara.

Sebelum ia dinyatakan menang, kontrak berjangka atau futures di Dow Jones, salah satu indeks saham di Amerika sempat anjlok hingga 800 poin. Perdagangan saham reguler lainnya di Amerika untuk Selasa waktu setempat sudah ditutup, sedangkan perdagangan Rabu belum dibuka.

Pasar saham di Asia dan Pasifik yang telah buka ketika penghitungan suara yang tampak terkena imbas lebih awal. Perdagangan reguler di Nikkei, indeks saham di Jepang anjlok 919 poin atau 5,36 persen saat ditutup dalam perdagangan Rabu (9/11). Ini adalah dampak dari aksi jual yang dilakukan para investor di pasar saham Asia.

Nikkei tak sendirian, Hang Seng, indeks saham di Hong Kong juga merah. Ia ditutup turun 494 poin atau minus 2,16 persen pada perdagangan hari ini. Taiwan TSEC 50 Index juga melorot, ia ditutup turun 274,23 poin atau 2,98 persen. Australia menutup bursa sahamnya dengan penurunan 1,92 persen hari ini.

Keunggulan Trump saat ia belum benar-benar dinyatakan menang sudah tampak menekan kinerja pasar saham di negara berkembang. Indeks di Korea Selatan dan Malaysia turun setidaknya 0,7 persen pada perdagangan pagi pukul 11.00 WIB tadi. Pada waktu yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta pun tampak jatuh 1,85 persen. Jelas sekali bahwa pasar tidak menyukai Trump.

Hari ini, IHSG ditutup turun 56 poin ke level 5.414,32. Dalam laporannya, Bahana Sekuritas mengatakan penurunan ini adalah dampak dari sentimen negatif bursa global setelah terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS. Beberapa sektor yang tampak turun di antaranya pertambangan, agribisnis, properti, infrasktruktur, dan keuangan.

Namun, keterpurukan paling parah dialami mata uang Meksiko, peso. Nilai peso turun 12,18 persen karena gelombang penjualan akibat kepanikan. Hal ini akan memaksa otoritas Meksiko untuk menaikkan suku bunga agar mata uang kembali stabil.

Selama masa Kampanye, Trump menyatakan akan membangun tembok di perbatasan Amerika Serikat-Meksiko. Ini bisa jadi menjadi pemicu kekhawatiran para investor.

Infografik Pergerakan Saham Bursa Dunia

Domonic Rossi, Global CIO Equities di Fidelity International memberikan pandangan singkatnya tentang tren negatif di pasar saham ini. “Kita sedang menuju ke dunia dengan risiko politik yang belum pernah terjadi sebelumnya,” katanya seperti dikutip The Guardian.

Ketika Trump resmi mengalahkan Hillary Clinton, pasar tak membaik. FTSE 100, indeks saham di London tertekan 2 persen saat dibuka di awal perdagangan. Saham-saham blue chips di FTSE 100 anjlok hingga 141 poin saat pembukaan Rabu. Hampir seluruh saham tampak merah. Saham Aviva dan Prudential turun 4 persen.

Mengapa pasar bereaksi sedemikian rupa dalam menyambut kemenangan Trump? Bursa saham sangat sensitif atas berbagai sentimen, termasuk persoalan politik. 2014 lalu, ketika Jokowi terpilih sebagai presiden, pasar menyambut positif dengan warna hijau di mana-mana, terutama di IHSG.

Ini adalah persoalan ketidakpastian. Jika para investor menghadapi ketidakpastian, mereka akan lakukan aksi jual, aksi jual besar-besaran akan membuat anjlok indeks saham. Sebaliknya, jika mereka yakin akan ekonomi yang kian membaik, mereka akan melakukan aksi beli, aksi beli besar-besaran akan menaikkan harga saham.

Saat Jokowi terpilih sebagai presiden, para investor yakin akan ada kebijakan ekonomi yang lebih baik. Mereka lalu melakukan aksi beli. Kali ini, para investor tak yakin dengan sosok Trump dan kebijakan ekonomi yang akan diterapkan. Maka mereka berbondong-bondong menjual sahamnya, dan menunggu sampai kondisi ekonomi kembali kondusif.

Investor, ekonom, dan pebisnis di seluruh Amerika Utara ikut merespon dan memperkirakan masa depan bisnis mereka di masa depan. Mohamed El-Erian, Kepala Penasehat Ekonomi Allianz SE mengatakan

“Jika pasar bergerak turun lebih jauh, ada kemungkinan akan menjual sedikit pada perdagangan besok,” ujar Mohamed El-Erian, chief economic adviser to Allianz SE.

Sementara itu, CEO salah satu perusahaan properti FivePont, Emile Haddad meyakini, dalam jangka panjang, kondisi akan lebih stabil dan bersahabat bagi para pengembang. “Trump memicu ketidakpastian, tetapi saya pikir dalam jangka panjang, ia akan fokus pada regulasi dan akan mengeliminasi hambatan bagi bisnis properti,” katanya.

Pada perdagangan Selasa, hari ketika masyarakat Amerika memilih, bursa saham tampak positif. Ini karena kemenangan diperkirakan jatuh ke tangan Hillary. Pada penutupan perdagangan Selasa, Dow Jones naik 73,14 poin, Nasdaq naik 27,316 poin, dan S&P 8,04 poin. Semuanya hijau.

“Brexit adalah tentang ketidakstabilan UK, sementara Trump adalah tentang ketidakstabilan global,” ungkap Jill Treanor, seorang editor spesialis keuangan di The Guardian. Mantan Chief Economist International Monetary Fund (IMF), Simon Johnson memperingatkan, kemenangan Trump akan memicu resesi global.

infografik pemilu AS

Baca juga artikel terkait PILPRES AS atau tulisan lainnya dari Wan Ulfa Nur Zuhra & Wan Ulfa Nur Zuhra

tirto.id - Bisnis
Penulis: Wan Ulfa Nur Zuhra & Wan Ulfa Nur Zuhra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti