Pahlawan Nasional 2018: Kisah Andi Depu Bertempur demi Republik

Oleh: Iswara N Raditya - 10 November 2018
Dibaca Normal 4 menit
Ibu Agung Hajjah Andi Depu adalah pemimpin Kerajaan Balanipa di Sulawesi Barat yang gigih berjuang menjaga Republik.
tirto.id - Ibu Agung Andi Depu Maraqdia Balanipa adalah perempuan tangguh. Srikandi dari Mandar yang gigih memimpin rakyat untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan ini, bersama lima tokoh lainnya, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 8 November 2018. Hingga saat ini, Andi Depu adalah satu-satunya Pahlawan Nasional dari Sulawesi Barat.

Kisah heroiknya bermula pada 15 Januari 1946. Hari itu suasana mencekam. Puluhan tentara Belanda berseragam NICA dengan senjata lengkap tiba-tiba datang tanpa diundang. Mereka mengepung Istana Balanipa yang memang menjadi markas para pejuang republik di Mandar, Sulawesi Barat.

Beberapa serdadu NICA di barisan terdepan bergerak maju, bermaksud menurunkan Sang Saka Merah-Putih yang dikibarkan di halaman istana. Belum sempat orang-orang asing itu mendekat, terdengar suara nyaring, berseru dengan lantangnya:

“Hei kau, anjing Belanda! Kalau kalian berani, tebaslah tiang bendera ini bersama dengan tubuh saya. Langkahi mayat saya sebelum kalian menurunkan Sang Saka ini!” hardik perempuan yang tidak lain adalah si empunya istana alias Ratu Balanipa.

Seperti yang dikisahkan Suradi Yasil dalam Ensiklopedia: Sejarah, Tokoh, Kebudayaan Mandar (2004), para pemuda yang mengawal sang ratu langsung bersiaga, bersiap angkat senjata jika bentrokan tidak bisa lagi dihindari. Namun, nyali lawan rupanya terlanjur ciut, mereka pun terpaksa mundur teratur (hlm. 82).

Putri Raja Pemimpin Rakyat

Lahir di Tinambung, Polewali Mandar, Sulawesi Barat (sebelumnya termasuk wilayah administratif Sulawesi Selatan), pada 1908 dengan nama Sugiranna Andi Sura, Andi Depu Maraqdia Balanipa memang benar-benar putri raja dalam arti yang sesungguhnya. Ia adalah anak perempuan Raja Balanipa ke-50, La’ju Kanna Idoro.

Alih-alih manja laiknya putri raja, Mania—panggilan sang putri—justru gemar melakoni permainan yang biasa dilakukan anak-anak lelaki. Ia suka memanjat pohon, menunggang kuda, bahkan main perang-perangan. Diungkapkan Hartai Kamaruddin dalam tulisan bertajuk "Ibu Depu: Suatu Studi Mengenai Kepeloporan Seorang Wanita Islam di Mandar" (1986), sang putri juga senang bergaul dengan siapapun.


Sebagai anak gadis meskipun berasal dari keluarga raja, pendidikan formal Andi Depu rupanya amat terbatas. Namun, itu rupanya tidak terlalu bermasalah baginya. Ia justru bisa memanfaatkan waktu-waktu luangnya untuk semakin mendekatkan diri dengan rakyat Mandar, juga untuk memperdalam ilmu agama.

Maka itu, tidak heran jika nantinya Andi Depu menjadi pemimpin rakyat. Hal tersebut mulai terlihat ketika masa pendudukan Belanda di Indonesia berakhir dan digantikan Jepang. Pada 1943, Andi Depu memelopori berdirinya Fujinkai di Mandar sebagai wadah pergerakan kaum perempuan di daerahnya.

Saat terdengar kabar Jepang mulai terdesak oleh Sekutu dalam Perang Asia Timur Raya, Andi Depu turut menggagas dibentuknya organisasi bernama Islam Muda pada April 1945. Muhammad Amir dalam buku Kelaskaran di Mandar Sulawesi Barat (2010) menyebutkan, perhimpunan ini bertujuan mencapai kemerdekaan yang berasaskan Islam (hlm. 135).

Indonesia akhirnya merdeka tanggal 17 Agustus 1945. Andi Depu dan rekan-rekan seperjuangan segera bergerak menyebarkan berita gembira ini ke seluruh pelosok Mandar dan sekitarnya. Bendera Merah-Putih pun langsung dikibarkan di halaman depan Istana Balanipa.

Namun, suka-cita tidak berlangsung lama. Hanya beberapa pekan usai proklamasi, Sekutu datang lagi, diboncengi Belanda (NICA). Kedaulatan rakyat Mandar kembali terancam. Andi Depu pun segera menyusun kekuatan demi menjaga kemerdekaan. Bahkan, ia menjadikan Istana Balanipa sebagai markas para pejuang Republik di Mandar.

Pada periode itu, yakni tahun 1946, atas permintaan para tokoh adat dan masyarakat, Andi Depu dinobatkan sebagai Arayang atau Maraqdia Balanipa di Mandar. Arayang atau Maraqdia merupakan sebutan bagi raja atau pemimpin kerajaan. Andi Depu dengan demikian menjadi pemimpin perempuan pertama dalam sejarah Kerajaan Balanipa.

Sejak saat itu, Andi Depu lebih akrab dipanggil Ibu Agung, bukan Arayang, Maraqdia, ataupun Ratu, lantaran ia sangat dekat rakyat Balanipa di Mandar dan wilayah-wilayah lain di sekitarnya.

Dinobatkannya Andi Depu sebagai Arayang Balanipa semakin mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin rakyat Mandar dalam upaya mempertahankan kemerdekaan. Andi Depu dengan dibantu oleh segenap elemen perjuangan lainnya berhasil menggelorakan semangat rakyat untuk melawan ambisi Belanda yang ingin berkuasa lagi.


Riset M. Darwis Tahir bertajuk “Perjuangan Andi Depu dalam Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia di Mandar 1945-1950” (2017) memaparkan, perjuangan rakyat Mandar melawan Belanda kala itu bersifat semesta. Artinya, hampir seluruh kalangan rakyat di Mandar turut berjuang sesuai keahliannya masing-masing (hlm. 34).

Islam Muda yang dibentuk sebelum kemerdekaan berubah menjadi Kelaskaran Rahasia Islam Muda (KRIS MUDA), Andi Depu bertindak sebagai panglimanya. Laskar ini berjuang bersama-sama dengan sejumlah elemen perjuangan lainnya di Mandar.

Bersama KRIS MUDA, Ibu Agung Andi Depu menolak kembalinya Belanda di Mandar. Peristiwa Merah-Putih pada 15 Januari 1946 di Istana Balanipa menjadi bukti kecintaan Andi Depu akan tanah airnya, akan keutuhan Republik sebagai negeri merdeka. Maka, ia amat murka ketika serdadu Belanda ingin menurunkan Sang Saka dari tiangnya.

Jejak Juang Srikandi van Mandar

Ibu Agung Andi Depu kerap bergerak sendirian menemui masyarakat secara langsung untuk menyerukan semangat perjuangan. Hal ini seringkali membuat suaminya, Andi Baso Pabiseang, tidak berkenan karena ia tidak mau mencari gara-gara dengan Belanda.

Tidak jarang Andi Baso mengirim utusan untuk mencari Ibu Agung Andi Depu. Namun, setiap kali disuruh pulang, Andi Depu selalu menolak. Dikutip dari Biografi Pahlawan Hajjah Andi Depu Mara'dia Balanipa (1991) karya Aminah Hamzah dan kawan-kawan, ia selalu berkata: “Sekali berjuang tetap berjuang, merdeka atau mati demi bangsaku!” (hlm. 37).

Pergerakan Andi Depu dan para pejuang Republik di Mandar memang sangat meresahkan Belanda, termasuk dengan mengutus dua orang kepercayaannya ke Yogyakarta pada akhir Februari 1946 untuk memperoleh infomasi terkini terkait perjuangan yang digelorakan di ibu kota RI tersebut.


Infografik Hajjah Andi Depu Maradia Balanipa


Seperti yang diterapkan di Jawa maupun di tempat-tempat lain, perjuangan yang dipimpin Andi Depu di Mandar juga dilakukan secara gerilya. Cara ini amat merepotkan Belanda. Beberapa kali pecah bentrokan bersenjata, namun Andi Depu selalu dapat meloloskan diri.

Tulisan Abdul Rahman Hamid berjudul “Nasionalisme dalam Teror di Mandar Tahun 1947” yang terhimpun dalam Jurnal Paramita (Volume 26, No. 1, 2016) mengungkapkan bahwa Andi Depu memang menjadi incaran utama Belanda (hlm. 99). Ia dianggap sebagai kunci pergerakan rakyat Mandar, khususnya gerakan KRIS MUDA. Maka, Belanda dengan segala upaya berusaha menangkap Andi Depu.

Misi Belanda itu akhirnya membuahkan hasil pada Desember 1946. Andi Depu kala itu dalam perjalanan pulang dari Makassar usai melakukan koordinasi dengan pejuang Republik di sana. Pasukan Belanda sudah siap menyergap dan terjadilah pertempuran sengit selama beberapa jam. Banyak korban berjatuhan. Andi Depu yang berada dalam situasi terdesak pun ditangkap.

Mula-mula, Andi Depu dipenjara di Makassar. Namun, dengan maksud agar semangat perjuangan rakyat Mandar melemah dan untuk menyulitkan upaya para pejuang yang ingin membebaskannya, lokasi penahanan Andi Depu sering dipindahkan, tidak kurang dari 28 kali. Selama menjadi tahanan, Andi Depu kerap disiksa serdadu-serdadu Belanda.

Waktu terus bergulir. Belanda pada perkembangannya mampu memecah-belah Indonesia dengan membentuk sejumlah negara boneka. Salah satunya adalah Negara Indonesia Timur (NIT). Sementara itu, Andi Depu masih meringkuk di bui.

Andi Depu dan para pemimpin perjuangan rakyat Mandar akhirnya bebas menjelang penyerahan kedaulatan Indonesia secara penuh pada akhir 1949 sesuai hasil Konferensi Meja Bundar (KMB). Selepas dari penjara, Andi Depu turut mendukung pembubaran NIT. Akibatnya, ia sempat ditahan lagi oleh sisa-sisa orang-orang NIT selama sebulan.


Setelah bebas untuk keduakalinya, Andi Depu kembali ke Mandar lantaran diminta untuk memimpin bekas wilayah Kerajaan Balanipa yang saat itu sudah beralih wujud menjadi swapraja. Amanah ini diembannya hingga 1956 sebelum Andi Depu undur diri karena masalah kesehatan.

Sejak saat itu, Andi Depu kerap bolak-balik ke Makassar untuk memeriksakan kesehatannya. Namun, ia tetap beraktivitas untuk kepentingan rakyat dengan terlibat di berbagai kegiatan sosial.

Tanggal 18 Juni 1985, setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Pelamonia Makassar, Ibu Agung Hajjah Andi Depu Maraqdia Balanipa meninggal dunia dalam usia 78. Jenazah sang ratu-pejuang dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Panaikang Makassar, Sulawesi Selatan.

Baca juga artikel terkait PAHLAWAN NASIONAL 2018 atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan