tirto.id - Pemerintah Kota (Pemko) Padang, Sumatera Barat, memperkuat ekosistem kuliner dan ekonomi kreatif sebagai bagian dari upaya meraih pengakuan sebagai kota gastronomi dunia dari UNESCO.
Wali Kota Padang, Fadly Amran, menjelaskan bahwa kota gastronomi tidak hanya berkaitan dengan daya tarik makanan lokal seperti rendang atau nasi Padang. Pemerintah daerah pun perlu bersinergi dengan pelaku usaha dari berbagai sektor kreatif hingga organisasi kreator guna mengoptimalkan promosi Kota Padang sebagai destinasi gastronomi global.
"Kita berusaha menjadi contender untuk kota gastronomi dunia recognized by UNESCO," kata Fadly dalam acara An Intimate Evening with Pegadaian di Jakarta, Jumat (5/9/2026).
Fadly mengatakan, Pemko Padang telah mempersiapkan para pelaku ekonomi kreatif di daerahnya untuk mendukung misi tersebut. Harapannya, pengakuan internasional ini tidak hanya mendongkrak citra daerah, tapi juga memberikan dampak ekonomi secara langsung kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dia menekankan bahwa UMKM dan sektor ekonomi kreatif harus menjadi bagian integral dari ekosistem gastronomi yang sedang dibangun di Kota Padang.
"Ini bukan hanya berbicara outcome-nya. Banyak proses yang harus kita jalani. Proses itu harus memastikan UMKM masuk di situ, sektor-sektor ekonomi kreatifnya masuk," ujarnya.
Pembenahan Kualitas Sektor Kuliner
Salah satu fokus perhatian utama Pemko Padang saat ini adalah meningkatkan kebersihan, kerapian, dan standar pelayanan di berbagai pusat kuliner. Fadly mengatakan bahwa, meski makanan Padang memiliki daya tarik yang kuat, aspek kebersihan lingkungan dan estetika kawasan masih perlu diperbaiki.
"Kita tidak ragu kalau misalnya soal rasa makanan. Tapi kalau misalnya pergi ke Padang, bagaimana ini bersih, bagaimana ini rapi, bagaimana ini indah. Saya rasa itu juga sama-sama penting,” katanya.
Sebagai langkah nyata, Pemko Padang mulai membenahi sejumlah pusat kuliner, termasuk dengan mengganti gerobak pedagang dan memperketat standar kebersihan. Pemko Padang bahkan mengalokasikan anggaran Rp60 miliar pada tahun ini untuk revitalisasi pasar.
Menurut Fadly, pembenahan tersebut diharapkan membuat pasar dan pusat-pusat kuliner di Padang dapat menjadi bagian dari destinasi wisata gastronomi yang menarik.
Salah satu fokus pembenahan adalah Pasar Raya Padang. Pemko Padang ingin menjadikan pasar tersebut sebagai pusat rempah yang dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata gastronomi. Dengan begitu, wisatawan tidak hanya datang untuk mencicipi makanan, tetapi juga mengenal berbagai rempah yang menjadi bagian penting dari masakan Padang.
Selain pasar tradisional, kawasan kota tua juga akan dibenahi. Fadly mengatakan kawasan tersebut memiliki kekayaan kuliner dan budaya yang dapat menjadi bagian dari kekuatan wisata gastronomi di Padang.
"Kita ingin kota tua direnovasi, dibersihkan. Pelaku UMKM-nya pun kita bina," lanjutnya.
Melibatkan Pelaku UMKM dan Ekonomi Kreatif
Fadly menegaskan, pengembangan Kota Padang sebagai kota gastronomi tidak boleh hanya berorientasi pada restoran mewah. Pedagang kaki lima dan pelaku UMKM kuliner juga harus menjadi bagian dari proses tersebut sehingga dapat memperoleh manfaat dari peningkatan kunjungan wisatawan jika Kota Padang memperoleh pengakuan dari UNESCO.
"Kami tidak ingin mengecewakan. Jangan sampai hanya tampak depan saja yang menarik," kata Fadly.
Ia mengatakan, Pemko Padang melakukan pembenahan pasar, pusat kuliner, hingga street vendors (pedagang kaki lima) dengan meningkatkan standar kebersihan, pengelolaan lingkungan, serta kualitas penyajian kuliner. Dengan demikian, UMKM lokal dapat tumbuh bersamaan dengan berkembangnya wisata gastronomi di Kota Padang.
Membawa Kuliner Indonesia ke Kancah Global
Menurut Fadly, kuatnya identitas kuliner setiap daerah bisa menjadi modal memperkenalkan masakan Indonesia secara lebih luas ke publik internasional. Ia memandang keberagaman sebagai kekuatan utama Indonesia, setiap daerah punya kuliner khasnya masing-masing.
Fadly berharap langkah Kota Padang mengejar status sebagai kota gastronomi UNESCO dapat mendorong daerah lain untuk melakukan hal serupa.
"Kalau masakan-masakan daerah banyak dikenal, kan nanti yang dikenal adalah masakan Indonesia," tambahnya.
Ia mencontohkan keberhasilan Korea Selatan dalam memanfaatkan budaya populer seperti K-pop dan K-drama untuk memperkenalkan kuliner khasnya ke kancah global. Pendekatan yang sama, dapat diterapkan Indonesia melalui kolaborasi erat antara pemerintah, industri kreatif, pelaku usaha, dan sektor pariwisata.
Fadly juga menilai promosi gastronomi perlu dilakukan melalui berbagai kanal secara lebih kreatif. Promosi makanan lokal perlu didukung dengan hadirnya pengalaman dan cerita di balik kuliner.
Meskipun demikian, membawa kuliner Indonesia menjadi global cuisine memiliki tantangan tak mudah. Ekspansi ke pasar luar negeri memerlukan dukungan ketersediaan bahan baku, rantai pasok (supply chain), konsistensi rasa, kualitas sumber daya manusia, hingga model bisnis yang matang.
Pengalaman pelaku usaha yang membuka restoran Indonesia di Dubai bisa jadi pelajaran. Restoran itu menyediakan nasi goreng, salah satu menu yang paling diminati konsumen di sana. Namun, ada kendala rantai pasok sehingga sejumlah bahan baku khas Indonesia tak selalu tersedia di luar negeri.
Karena itulah pengembangan kuliner Indonesia di tingkat global butuh dukungan ekosistem yang lebih terintegrasi dan kolaborasi antara pemerintah, pengusaha, hingga pelaku budaya serta ekonomi kreatif.
Fadly mengatakan pemerintah daerah perlu mengambil peran aktif agar potensi kuliner tak dibiarkan berkembang tanpa dukungan. Sebagai contoh, ketika Nasi Padang sudah dikenal di berbagai negara, pemerintah perlu memastikan perkembangan itu mendapat dukungan maksimal sekaligus memberikan manfaat bagi pelaku usaha di daerah asalnya.
"[Pemerintah perlu] Pastikan ekonomi kreatif pun terlayani," katanya.
Fadly menilai penguatan ekosistem kuliner menjadi tantangan terbesar sekaligus bagian penting dari perjalanan Kota Padang menuju kota gastronomi dunia.
Ia berharap dalam beberapa tahun ke depan, pembahasan mengenai bagaimana membuat kuliner Indonesia mendunia tidak lagi menjadi persoalan utama karena ekosistemnya sudah terbentuk.
Editor: Addi M Idhom
Masuk tirto.id






























