Menuju konten utama

Negosiasi Mandek, Trump Tak Puas dengan Proposal Iran

Trump pada Jumat menyurati para legislator dengan menyatakan bahwa permusuhan telah berakhir, meski tidak ada perubahan dalam postur militer AS.

Negosiasi Mandek, Trump Tak Puas dengan Proposal Iran
Presiden AS Donald Trump berbicara setelah menandatangani perintah eksekutif tentang penipuan di Ruang Oval di Gedung Putih di Washington, DC, pada 16 Maret 2026. AFP/Alex Wong/Getty Images
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menyatakan ketidakpuasan terhadap proposal negosiasi terbaru dari Iran, di tengah mandeknya pembicaraan damai meski gencatan senjata telah berlangsung selama beberapa pekan.

Mengutip laporan kantor berita IRNA, Iran menyerahkan teks proposal tersebut kepada Pakistan selaku mediator pada Kamis (1/5/2026) malam. Namun, tidak ada rincian lebih lanjut terkait isi dokumen itu.

“Pada saat ini saya tidak puas dengan apa yang mereka tawarkan,” kata Trump dilansir dari CNA, Sabtu (2/5/2026).

Hal itu diungkapkan Trump seraya menyalahkan kebuntuan negosiasi pada perselisihan yang luar biasa di dalam kepemimpinan Iran. Trump juga mengemukakan dua opsi yang dihadapi Washington.

“Apakah kita ingin pergi dan menghancurkan mereka sepenuhnya dan mengakhiri mereka selamanya, atau kita ingin mencoba membuat kesepakatan?” ujarnya.

Trump pun menambahkan bahwa dirinya lebih memilih tidak mengambil opsi pertama atas dasar kemanusiaan.

Perang yang dimulai oleh Amerika Serikat dan Israel melalui serangan mendadak pada 28 Februari itu kini berada dalam status jeda sejak 8 April. Sejauh ini, baru satu putaran perundingan langsung yang digelar, namun berakhir tanpa hasil.

Di tengah tekanan domestik agar memperoleh persetujuan Kongres, Trump pada Jumat menyurati para legislator dengan menyatakan bahwa permusuhan telah berakhir, meski tidak ada perubahan dalam postur militer AS.

Sementara itu, Iran masih mempertahankan kendalinya atas Selat Hormuz, yang menghambat aliran utama minyak, gas, dan pupuk ke pasar global. Sebagai respons, AS menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Meski kebuntuan terus berlangsung, gencatan senjata relatif tetap bertahan. Namun, konflik di kawasan lain masih berlanjut.

Di Lebanon, Israel tetap melancarkan serangan mematikan meski telah ada gencatan senjata sejak 17 April dengan kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Kementerian kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 12 orang tewas dalam serangan di wilayah selatan, termasuk di kota Habboush yang sebelumnya telah mendapat peringatan evakuasi dari militer Israel.

Kantor berita resmi National News Agency menyebut pesawat tempur Israel melancarkan serangkaian serangan besar kurang dari satu jam setelah peringatan tersebut dikeluarkan.

Di sisi lain, Washington juga mengumumkan persetujuan penjualan senjata besar ke sekutunya di Timur Tengah. Di antaranya adalah kesepakatan sistem rudal Patriot senilai US$4 miliar untuk Qatar dan hampir US$1 miliar untuk sistem persenjataan presisi ke Israel.

Kepala lembaga peradilan Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, menegaskan bahwa negaranya tidak pernah menghindari negosiasi, namun menolak segala bentuk pemaksaan dalam proses tersebut, sembari tetap berupaya menghindari konflik lanjutan.

Gedung Putih belum memberikan rincian isi proposal Iran. Namun, situs berita Axios melaporkan bahwa utusan AS Steve Witkoff mengajukan amandemen yang kembali memasukkan isu program nuklir Iran ke dalam pembicaraan.

Amandemen tersebut dilaporkan mencakup tuntutan agar Iran tidak memindahkan uranium yang telah diperkaya dari lokasi yang dibombardir atau melanjutkan aktivitas di sana selama negosiasi berlangsung.

Kabar mengenai proposal Iran sempat menekan harga minyak hingga turun hampir 5 persen, meski masih berada sekitar 50 persen di atas level sebelum perang akibat penutupan Selat Hormuz.

Seorang pejabat Uni Eropa menyebut kepala kebijakan luar negeri Kaja Kallas telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi terkait upaya membuka kembali jalur tersebut.

Baca juga artikel terkait IRAN VS AS atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Fahreza Rizky