Misinformasi Kehamilan adalah Bukti Inkompetensi Pejabat KPAI

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra, Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty, Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pribudiarta Nur Sitepu, dan Ketua KPAI Susanto dalam jumpa pers tentang Audisi Beasiswa Bulutangkis Djarum di Jakarta, Kamis (1/8/2019). ANTARA/Dewanto Samodro
Oleh: Aditya Widya Putri - 27 Februari 2020
Dibaca Normal 4 menit
Di Indonesia, misinformasi soal kesehatan menempati urutan pertama di antara berita-berita hoaks lainnya.
Tak mudah bagi Indonesia mencapai target-target kesehatan nasional, apalagi ketika pejabatnya punya hobi sebar misinformasi soal kesehatan.

Seringnya pesan-pesan kesehatan misinformasi beredar di grup-grup Whatsapp keluarga, diteruskan antar-awam hingga diyakini kebenarannya. Tapi sebagian lain ikut didistribusikan oleh pejabat publik dan media sehingga menambah runyam edukasi seks yang sudah minim.

Seperti misal yang baru saja dilakukan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Seorang komisionernya, Sitti Hikmawatty, yang membidangi Kesehatan, Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA) membuat pernyataan sesat soal informasi kesehatan reproduksi.

Dalam wawancara bersama Tribunnews, Jumat, 21 Februari 2020, ia memperingatkan perempuan agar berhati-hati saat berenang karena dapat membikin hamil. Pikirnya, kehamilan bisa terjadi lantaran sperma “kuat” berenang di air dan dengan mudah masuk ke vagina secara random. Kehamilan ini disebut Sitti sebagai contoh hamil tak langsung.

“Walaupun tidak terjadi penetrasi, tapi ada pria terangsang dan mengeluarkan sperma, dapat berindikasi hamil,” bebernya.

Pernyataan itu dilontarkan dalam satu kerangka wawancara bertemakan edukasi kesehatan reproduksi anak. Sitti mengatakan anak-anak perempuan penting dibekali cukup ilmu soal kesehatan reproduksi untuk proteksi dari kehamilan usia dini.

"Selama perempuan sudah bisa memproduksi sel telur dan laki-laki memproduksi sperma, kemudian bertemu, baik langsung atau tidak langsung, maka bisa terjadi kehamilan. Ini yang jadi bagian kita perlu membekali anak-anak dengan ilmu kesehatan reproduksi."

Sitti mengaku mendapat informasi tersebut dari referensi jurnal luar negeri. Namun ia tak menyebut spesifik, jurnal mana yang dimaksud. Sementara jika ditelusuri, sudah sejak lama misinformasi berita soal kehamilan akibat berenang di kolam renang umum beredar dan dipopulerkan oleh beberapa situs berita bodong.

Di luar Indonesia, urban legend ini termuat dalam situs World News Daily Report, Huzlers, Nigerian Info, dan Not Allowed To. Sementara di Indonesia kabar tersebut pernah dipublikasikan situs Islamdetikini.com, namun sudah dikategorikan berita hoaks oleh Kementerian Informasi dan Informatika.


Hamil itu Bukan Perkara Mudah

Dalam logika keilmuan Sitti--yang merupakan doktor dan lulusan ilmu gizi--pembuahan bisa terjadi hanya cukup dengan dua syarat: sperma dan ovulasi. Tapi ia lupa (atau mungkin tidak tahu) bahwa jika hamil semudah itu, tentu sedari dulu tenaga kesehatan sudah melarang aktivitas berenang di tempat umum, atau tak akan ada teknologi bernama inseminasi dan bayi tabung untuk membantu kehamilan.

“Kalau perempuannya sedang fase subur, itu bisa saja terjadi. Kan tidak ada yang tahu bagaimana pria-pria di kolam renang kalau lihat perempuan,” katanya, masih kepada Tribunnews.

Kanadi Sumapradja, dokter spesialis kandungan dari RSPI menjelaskan proses pembuahan secara umum. Setiap bulan perempuan memproduksi sel telur dari indung telur, pertumbuhan sel telur hingga bisa dibuahi bergantung pada beragam kombinasi hormon yang dihasilkan otak.

“Di tengah siklus sel telur akan menetas, ketika dibuahi sperma akan jadi embrio,” ungkapnya.

Setelahnya indung telur akan menghasilkan hormon progesteron untuk mempertahankan kehamilan. Artinya sperma harus bertemu dengan ovum dalam lingkungan mendukung barulah pembuahan bisa terjadi. Dalam kondisi normal sperma harus penetrasi vagina, sementara kondisi buatan seperti bayi tabung/In Vitro Fertilisation (IVF) dilakukan dengan teknik kultur inkubasi di dalam laboratorium khusus.

Dengan penetrasi alami, satu ejakulasi mengandung sekitar 250 juta sperma. Agar terjadi pembuahan, diperlukan minimal satu sperma yang mencapai ovum. Sperma-sperma ini akan terseleksi jumlahnya ketika melewati lingkungan asam pada vagina, lendir serviks, dan perjalanan sepanjang 18 cm dari serviks untuk mencapai rahim.

Setelah itu sperma akan mendapat bantuan dari kontraksi rahim dan ditarik menuju sel telur di saluran tuba fallopi.



“Sperma yang masuk melalui penetrasi dapat hidup selama lima hari dalam rahim,” demikian laman Healthline menuliskan masa aktif sperma dalam kondisi normal.

Sedangkan pada kondisi buatan seperti bayi tabung atau inseminasi, sperma yang sudah dicuci bisa bertahan selama 72 jam dalam inkubator, atau hitungan tahun jika dibekukan dalam lingkungan kontrol. Tapi berbeda dengan kedua kondisi di atas, sperma yang berada di air akan mati dalam beberapa menit karena pengaruh zat kimia lain seperti klorin di dalam kolam renang atau suhu.

Kalaupun sel sperma masih hidup dan berada di kolam renang umum, kondisi itu tak akan serta merta membikin kehamilan. Mustahil sperma bisa berenang masuk ke vagina, melalui leher rahim, kemudian sampai ke dalam saluran tuba.

Menurut laman The National Health Service (NHS), sistem jaminan kesehatan Inggris, risiko kehamilan tanpa penetrasi hanya mungkin terjadi jika sisa semen langsung menyentuh vagina, ejakulasi atau ereksi menempel di sekitar vagina. Meski begitu peluang pembuahan dengan cara ini sangat rendah karena sperma tak bisa hidup lama di luar tubuh.


Sperma Tak Sekuat Fantasimu, Bu Sitti.


Narasi Sitti soal “sperma kuat” yang mampu berenang di air penuh kaporit dan “menembus” celana, kemudian sampai di vagina adalah produk cuci otak dari teori maskulinitas. Selama ini kita dipaksa percaya oleh pendapat sains usang, bahwa pembuahan merupakan upaya dari sperma terkuat yang menang mengalahkan sperma lainnya menuju ovum.

Seolah dalam teori fertilitas perempuan adalah objek pasif. Ovarium juga digambarkan sebagai alat reproduksi yang memiliki stok ovum terbatas. Sementara testis selalu diungkapkan memproduksi sperma baru seumur hidup. Tapi jarang diungkap bahwa tingkat infertilitas pria akan menurun ketika ejakulasi mereka hanya menghasilkan kurang dari seratus juta sperma.

Teori “sperma terkuat” yang mendapatkan ovum sebagai hadiah kemenangan jelas salah. Faktanya, seperti dilansir dari Aeon, sistem reproduksi perempuan akan menyisihkan sperma dengan kelainan fisik dan menyeleksi agar tidak banyak sperma lolos ke saluran telur.

Dari ratusan juta sperma hanya ratusan yang bisa sampai di saluran telur. Mereka bukannya menang melawan sperma lain, tapi mujur karena tidak tersisih oleh rintangan asam vagina dan lendir serviks. Sperma juga tidak benar-benar berenang sendiri menuju sel telur, tapi dibantu kontraksi rahim dan ditarik menuju sel telur di saluran tuba fallopi.

Setelah sampai di saluran telur, mekanisme reproduksi perempuan hanya mengizinkan beberapa sperma lepas dan mendekati telur. Jika jumlah sperma terlalu banyak, maka akan muncul risiko pembuahan lebih dari satu sperma (polispermia) yang mengakibatkan keguguran.

Evolusi membuat serangkaian hambatan dalam saluran reproduksi perempuan untuk secara ketat membatasi jumlah sperma yang mengelilingi telur. Artinya peran perempuan dalam fertilisasi tidak pasif seperti yang sering kita atau Sitti asumsikan.

Namun, sepertinya teori dasar kesehatan reproduksi ini belum dipahami sekelas pejabat publik seperti Sitti. Setelah wawancara pertama dilakukan pada Jumat, 21 Februari 2020, keesokan harinya Tribunnews kembali mengonfirmasi pernyataan Sitti. Ia masih dalam keyakinan yang sama bahwa kehamilan bisa terjadi akibat berenang di kolam renang umum. Tirto sempat menghubungi komisioner KPAI lain, Retno Listyarti untuk menanyakan kajian KPAI terhadap teori tersebut.

“Pribadi itu, kami tidak pernah membicarakan hal tersebut,” kata Retno menegaskan pernyataan Sitti tak mewakili KPAI.




Pada Minggu, 23 Februari 2020, Sitti mencabut pernyataan kontroversialnya. Ia meminta maaf karena telah memberi informasi yang tidak tepat dan meminta agar kasus tersebut tidak lagi diperpanjang dan disebarluaskan. Sayang ketika misinformasi sudah terlanjur menyebar, ia akan cenderung lebih populer ketimbang klarifikasinya.

Studi di Jurnal Science (2018) menyebutkan bahwa berita bohong, menyebar jauh lebih cepat dibanding berita terpercaya. Satu persen hoaks paling populer menyebar ke seribu hingga 100 ribu orang, sementara informasi valid jarang menyentuh lebih dari seribu orang.

Misinformasi kesehatan di Indonesia memang menempati urutan pertama yang paling banyak disebarkan. Menurut survei Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tahun 2017, dari seribu berita hoaks sejak Februari 2016 hingga Februari 2017 yang menjadi sampel penelitian, 27 persennya berisi soal kesehatan.

Kasus ini sekaligus menjadi gambaran betapa edukasi seksual dan kesehatan reproduksi belum dipahami secara baik. Bahkan oleh mereka yang notabene memiliki gelar akademis dan menduduki posisi strategis dalam jabatan publik. Mungkin tak jadi soal jika orang-orang minim kompetensi ini tak berkomentar perihal ilmu yang tidak mereka kuasai.

Tapi yang bikin situasi makin runyam, mereka getol membuat misinformasi yang berdampak buruk bagi masyarakat. Bayangkan, seorang komisioner KPAI yang melakukan pengawasan di bidang kesehatan anak turut ambil bagian memupuk misinformasi. Bagaimana penegakan kasus kesehatan anak bisa berjalan maksimal jika teori dasar kesehatan reproduksinya salah?

Media-media arus utama pun mengulang berita semacam itu tanpa menambahkan narasumber kompeten. Tribun misalnya, memang berusaha meluruskan teori dengan mewawancarai dokter, tetapi dengan spesialisasi anak.

Mungkin usaha menguraikan informasi kusut itu akan lebih tepat jika tenaga ahli yang dijadikan rujukan adalah dokter spesialis kandungan. Dengan begitu bantahan terhadap teori Sitti akan lebih akurat dan bisa dipertanggungjawabkan keilmuannya.

Baca juga artikel terkait PENDIDIKAN SEKSUAL atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Windu Jusuf
DarkLight