tirto.id - Perusahaan teknologi raksasa Microsoft menawarkan program pengunduran diri sukarela kepada sekitar 60.000 karyawan. Program yang diumumkan pada Senin (26/10/2026) tersebut menjadi bagian dari langkah perusahaan untuk menekan biaya operasional sekaligus mendanai investasi besar-besaran dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Program ini memberikan kesempatan kepada karyawan yang ingin meninggalkan perusahaan untuk mengundurkan diri dengan dukungan kompensasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Penawaran tersebut mencakup sejumlah divisi, termasuk pengembangan AI, Copilot, keuangan, sumber daya manusia, Xbox, serta Windows + Devices.
Chief People Officer Microsoft, Amy Coleman, memperkenalkan program tersebut melalui memo internal yang disampaikan kepada karyawan pada Senin, 26 Oktober 2026. Menurut Coleman, penawaran ini ditujukan kepada karyawan yang sedang mempertimbangkan masa depan di luar perusahaan dan ingin beralih dengan dukungan dari Microsoft.
"Penawaran ini memberikan pilihan bagi karyawan yang mungkin sedang mempertimbangkan masa depan di luar perusahaan untuk melakukan transisi tersebut sekarang, dengan disertai dukungan. Hal ini juga memberikan cara bagi unit-unit terkait untuk menyesuaikan tenaga kerja mereka dengan kebutuhan yang terus berubah," ujar Amy Coleman dalam memo internal tersebut dikutip CNA, Selasa (27/10/2026).
Coleman menjelaskan bahwa program tersebut juga memberikan pilihan bagi organisasi di dalam perusahaan untuk menyesuaikan jumlah dan komposisi tenaga kerja dengan kebutuhan bisnis yang terus berubah.
Berdasarkan informasi dari sumber yang mengetahui persoalan tersebut, penawaran mencakup karyawan di berbagai unit, termasuk tim yang menangani pengalaman AI, Copilot, keuangan, sumber daya manusia, Xbox, serta Windows + Devices. Namun, sejumlah bagian, seperti pemasaran, bisnis komersial, dan keamanan, tidak termasuk dalam program tersebut.
Microsoft menyatakan bahwa program ini berlaku bagi karyawan yang memenuhi persyaratan di tim-tim tertentu di Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan India. Penawaran tersebut ditujukan kepada karyawan pada level 70 ke bawah, termasuk sejumlah pemimpin senior hingga tingkat wakil presiden.
Program ini bersifat sukarela dan dibatasi waktu, sehingga karyawan yang memenuhi syarat dapat mempertimbangkan apakah akan menerima tawaran tersebut.
Besaran Kompensasi bagi Karyawan yang Mengundurkan Diri
Karyawan yang menerima penawaran akan memperoleh pembayaran pesangon yang dihitung berdasarkan masa kerja mereka di Microsoft. Besaran dan ketentuan kompensasi dapat berbeda di setiap negara karena harus mengikuti peraturan ketenagakerjaan setempat, tetapi perusahaan menyebut paket tersebut akan mengikuti standar kompensasi bagi karyawan yang berpisah dari perusahaan, seperti dilaporkan Fortune, Senin (26/10/2026).
Sebagai contoh, di Amerika Serikat, paket pengunduran diri sukarela tersebut mencakup pembayaran setidaknya setara delapan minggu gaji, kelanjutan vesting saham sesuai ketentuan program, manfaat layanan kesehatan, serta dukungan layanan karier. Ketentuan khusus di negara lain dapat berbeda mengikuti hukum dan aturan ketenagakerjaan yang berlaku.
Berdasarkan informasi yang disampaikan perusahaan kepada Fortune, karyawan yang memenuhi syarat di Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan India harus menerima penawaran paling lambat pada pekan pertama Desember 2026. Karyawan yang mengikuti program tersebut dijadwalkan meninggalkan perusahaan pada 31 Desember 2026.
Microsoft belum mengumumkan jumlah pasti karyawan yang diperkirakan akan menerima penawaran itu. Namun, seorang juru bicara perusahaan merujuk pada pengalaman sejumlah perusahaan teknologi lain yang menjalankan program serupa, dengan tingkat partisipasi sekitar 3 hingga 5 persen dari karyawan yang memenuhi syarat.
Microsoft Memiliki 223.000 Karyawan di Seluruh Dunia
Dalam laporan tahunannya, Microsoft mencatat memiliki sekitar 223.000 karyawan tetap secara global per 30 Juni 2026. Jumlah tersebut turun sekitar 5.000 orang dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Jika dibandingkan dengan total tenaga kerja tersebut, penawaran pengunduran diri sukarela kepada sekitar 60.000 karyawan setara dengan lebih dari seperempat jumlah karyawan Microsoft.
Kebijakan ini juga bukan kali pertama Microsoft menawarkan program pengunduran diri sukarela. Pada April 2026, perusahaan memberikan penawaran serupa kepada sekitar 7 persen tenaga kerjanya di Amerika Serikat, atau sekitar 9.000 karyawan. Program tersebut terutama menyasar karyawan dengan masa kerja panjang dan menjadi pengalaman pertama Microsoft menerapkan skema semacam itu.
Selain menawarkan pengunduran diri sukarela, Microsoft juga telah melakukan pengurangan tenaga kerja melalui pemangkasan posisi. Pada Juli 2026, perusahaan mengumumkan penghapusan sekitar 4.800 pekerjaan, atau sekitar 2,1 persen dari total tenaga kerja globalnya, sebagai bagian dari restrukturisasi bisnis gim Xbox.
Langkah tersebut menyusul gelombang pemutusan hubungan kerja yang terjadi pada 2025, ketika Microsoft memangkas lebih dari 15.000 pekerjaan menurut laporan yang dikutip Fortune. Perusahaan juga mengalami perubahan pada jajaran kepemimpinan, termasuk pengumuman pensiun sejumlah eksekutif senior di bidang gim serta pengalaman dan perangkat.
Perubahan organisasi ini berlangsung ketika CEO Microsoft, Satya Nadella, berupaya memperkuat posisi perusahaan dalam persaingan pasar AI dan komputasi awan. Perusahaan teknologi lain juga melakukan langkah penghematan serupa.
Google, misalnya, menawarkan program pengunduran diri sukarela kepada karyawan tertentu pada Juni 2026, sedangkan Amazon memangkas pekerjaan di sejumlah divisi setelah melakukan pengurangan tenaga kerja dalam skala besar sejak akhir 2025 hingga awal 2026.
Dengan program terbaru ini, Microsoft berupaya memberikan pilihan kepada karyawan yang ingin meninggalkan perusahaan sekaligus menyesuaikan kebutuhan tenaga kerja di tengah perubahan strategi bisnis.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id







































