Meruntuhkan Negara Bersama Federazione Anarchica Informale (FAI)

Oleh: Eddward S Kennedy - 15 Maret 2019
Dibaca Normal 4 menit
FAI merupakan grup anarkis pro jalan kekerasan demi mewujudkan masyarakat tanpa negara.
tirto.id - Dalam salah satu karyanya yang termashyur, De Cive, Thomas Hobbes menganggap kondisi alamiah manusia adalah homo homini lupus: serigala bagi serigala yang lain. Oleh sebab itu, demi menjamin agar manusia tidak tergelincir ke dalam perang antar sesama, perlu didirikan negara. Jika perlu, negara berhak menjadi leviathan yang memaksa dan menciptakan ketakutan demi terciptanya ketertiban antar warga.

Bagi kalangan anarkis, konsep itu hanyalah omong kosong belaka. Negara dianggap sebagai “musuh” utama oleh para anarkis karena dianggap memonopoli otoritas yang justru bersifat destruktif bagi masyarakat. Untuk menyebut contoh, misalnya, kekuasaan teritorial, kekuasaan yurisdiksi, kekuasaan menguasai kekayaan sumber daya alam, hingga kekuasaan atas imajinasi maupun gagasan masyarakat terkait bentuk suatu bangsa.

Dengan segenap otoritasnya pula sebagai legitimasi, negara juga merasa berhak mendefinisikan mana ‘yang terlarang’, ‘yang normal’, ‘yang pembangkang’, dan lainnya untuk kebutuhan stabilitas sekaligus melanggengkan kekuasaan. Negara juga merasa berhak mengatur urusan paling privat individu seperti, misalnya, perihal seks dan keyakinan. Tak jarang untuk pelanggengan tersebut negara menggunakan segala cara (Machiavellian). Mulai dari memperalat aset, kekayaan, juga dengan me(re)produksi kepalsuan dan ketidakbenaran.

Pada praktiknya, kaum anarkis kemudian membedakan antara negara (state) yang bersifat politis dengan masyarakat (society) yang bersifat sosial. Jika negara sebagai konsep yang politis termanifestasi dalam kekuasaan, otoritas, hierarki, dan dominasi, masyarakat merupakan asosiasi antar manusia yang bersifat spontan dalam rangka mewujudkan kebutuhan dan kepentingan bersama.

Untuk itulah, bagi kaum anarkis, meruntuhkan negara dan menggantikannya dengan konsep self-governance dianggap sebagai cara terbaik dalam mengelola kebutuhan dan kepentingan sendiri secara kolektif. Dalam hal ini, otoritas diartikan sebagai pembagian peran secara kooperatif dan non-hierarkis yang memungkinkan tatanan berjalan dan tercapainya keadilan sosial. Dengan kata lain, tidak ada individu superior atas individu lainnya sebab semua saling berkontribusi. Sebagaimana definisi anarkisme yang dijelaskan Peter Kropotkin di Encyclopedia Britannica:

“[…] di mana masyarakat yang dicita-citakan adalah yang tanpa pemerintahan—keharmonisan dalam masyarakat dicapai bukan dengan mematuhi undang-undang, atau suatu otoritas, namun melalui kesepakatan bebas yang dicapai di antara berbagai kelompok, wilayah dan profesi, yang bergabung secara sukarela—untuk produksi dan konsumsi—dan juga untuk pemenuhan berbagai macam kebutuhan dan aspirasi mahluk yang beradab.”

Seiring perjalanannya, kekerasan menjadi sesuatu yang inheran dalam perjuangan kaum anarkis mewujudkan masyarakat tanpa negara. Mikhail Bakunin, misalnya, sepakat bahwa bentuk aksi langsung (direct action) yang menggunakan kekerasan dapat diperlukan selama ditujukan kepada negara. Demikian pula dengan Antifa yang memilih jalan kekerasan sebagai bentuk perlawanan terhadap fasis.

Pada masa Perang Dunia I juga ada Bonnot Gang, gerombolan bandit anarkis di Perancis yang hobi menggasak uang kaum borju dan mempelopori gaya merampok dan kabur dengan mobil curian. Dan bukankah Haymarket Riot, kampanye kaum buruh di Chicago sepanjang 1-4 Mei 1886 yang kelak melahirkan May Day, juga identik dengan kekerasan?


Dalam spektrum kekerasan inilah juga muncul Federazione Anarchica Informale (FAI): grup anarkis insureksioner dari Italia yang kerap melakukan aksi bersenjata demi meruntuhkan segala bentuk otoritas.

Mengenal FAI dan Serangkaian Aksi Mereka

Berdasarkan keterangan pihak intelejen Italia, FAI memiliki struktur horizontal dengan banyak grup anarkis lain. Antara lain: July 20 Brigade, Five C's, International Solidarity, Cooperative of Hand-Made Fire & Related Items, May 22 Group, Cell against the capital, Circle of Asymmetric Urban Warfare, juga Santiago Maldonado.

Selain grup-grup tersebut, FAI juga menjalin aliansi dengan New Red Brigades/Communist Combatant Party, grup ekstrimis sayap kiri di Italia yang berhaluan Marxisme. Kolaborasi antara grup anarkis dengan kelompok Marxis sebetulnya kerap menjadi perdebatan di kalangan sayap kiri karena pandangan mereka terkait posisi negara. Namun demikian, dalam konteks kekerasan sebagai taktik perjuangan, FAI dan New Red Brigades sepakat menggunakannya.

FAI memang meletakkan pandangan ideologis mereka selayaknya organisasi teroris dengan mengacu kepada aksi langsung pengeboman atau ancaman teror lain. Pada 2003, misalnya, FAI mengaku bertanggung jawab atas serangkaian paket bom surat yang dikirim dari Bologna, Italia, dengan target beberapa institusi Uni Eropa dan tokoh penting lainnya seperti: Europol (badan khusus kriminalitas Uni Eropa), Eurojust (Unit Kerja Hukum Peradilan Uni Eropa), dan Jean-Claude Trichet (Presiden Bank Sentral Eropa).

Target lain yang juga diincar adalah Presiden Komisi Eropa, Romano Prodi. Ia bahkan sempat terkena ledakan berdaya rendah ketika membuka salah satu paket bom tersebut di rumahnya. FAI juga turut mengirim surat ke surat kabar La Repubblica bahwa serangan itu merupakan bagian dari penentangan terhadap Uni Eropa. Mereka menulis: “Supaya babi itu tahu bahwa serangan baru saja dimulai mengarah kepadanya dan mereka yang mirip dengannya.”

Pada 2010, FAI juga mengklaim bertanggung jawab atas surat ancaman berisi peluru yang ditujukan kepada Perdana Menteri Silvio Berlusconi. Surat dengan amplop besar yang diduga dikirim dari sebuah kantor pos di pinggiran Libate, utara kota Milan, tersebut bertuliskan: “Anda akan mati seperti seekor tikus!”.

Di tahun yang sama pula, FAI mengklaim bertanggung jawab terkait meledaknya beberapa paket bom di kedutaan Swiss dan Cile di Roma, kendatipun sempat diduga bahwa pelakunya berasal dari kelompok lain.

Serangan FAI selanjutnya terjadi pada 31 Maret 2011, juga dengan memakai bom surat yang ditujukan ke kantor Swissnuclear di Olton, Swiss. Ledakan bom tersebut melukai dua orang. Maju ke bulan Desember di tahun yang sama, sebuah paket bom surat sempat dikirim FAI ke Josef Ackermann, kepala eksekutif Deutsche Bank, namun berhasil dicegah oleh otoritas setempat.

Infografik Federazione Anarchica Informale
Infografik Federazione Anarchica Informale. tirto.id/Fuad


Sedangkan pada Mei 2012, FAI mengklaim aksi penembakan yang menimpa Roberto Adinolfi, seorang Italia yang berposisi sebagai salah satu eksekutif di sebuah perusahaan nuklir. Tahun berikutnya, 9 April 2013, FAI mengirimkan paket bom ke kantor La Stampa, surat kabar harian yang berbasis di Turin. Beruntung, bom tersebut tidak sempat meledak.



Kendati secara teritorial FAI berpusat di Italia dan kerap melancarkan serangan di sana, beberapa kelompok lain yang beraliansi dengan mereka di daerah lain juga tercatat pernah melakukan bentuk teror serupa. Kalangan anarkis di Rusia yang berafiliasi dengan FAI, misalnya, tercatat pernah melakukan beberapa kali aksi pembakaran yang menyasar simbol kapitalisme dan otoritas (bank, kantor pemerintahan, pusat militer) sepanjang 2009-2011.

Pada Mei 2012, FAI di Inggris sempat mengumumkan niat untuk "melumpuhkan ekonomi nasional" selama Olimpiade 2012 di London. Peringatan tersebut diikuti dengan serangan kelompok May 22 Group pada jalur kereta api di daerah Bristol, serangan terhadap walikota setempat, juga serangan yang mengarah kepada Geoff Gollop, sosok politikus konservatif sayap kanan di Inggris.

Pada awal tahun berikutnya, FAI Inggris juga membakar sebuah stasiun pemancar di Bath, sebuah kota kecil di Somerset, hingga mengakibatkan sekitar 80.000 rumah mengalami pemadaman televisi dan radio. Sementara pada 25 November 2014, FAI juga mengklaim bertanggung jawab atas kebakaran yang menghancurkan lima mobil mewah di sebuah daerah di pinggiran Bristol, Long Ashton.

Di Bolivia pada 30 Mei 2012, empat pemuda yang diduga terkait dengan FAI ditangkap setelah melakukan serangan dinamit ke barak militer Bolivia dan pemboman sebuah dealer mobil mewah. Lalu pada September 2012, grup FAI di Meksiko mengaku bertanggung jawab atas penembakan tiga petugas polisi kota di Mexico City hingga menyebabkan kematian.

Sementara di Indonesia, kasus pembakaran ATM yang terjadi di Jogjakarta pada tahun 2012 disinyalir juga merupakan aksi dari FAI Indonesia. Pasalnya, sebagaimana diberitakan BBC Indonesia, ketika itu ditemukan juga sebuah selebaran yang bertuliskan: "Maka selama negara dan kapitalisme masih eksis, tak pernah akan ada kata damai antara mereka yang tak berpunya dengan mereka yang berpunya. Long Live Luciano Tortuga Cell- International Revolutionary Front - FAI."

Baca juga artikel terkait ANARKISME atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Nuran Wibisono