Kanno Sugako: Anarkis Jepang yang Berencana Membunuh Kaisar

Infografik Kanno Sugako
Ilustrasi Kanno Sugako. FOTO/Wikipedia
Oleh: Eddward S Kennedy - 1 Februari 2019
Dibaca Normal 5 menit
Kanno Sugako adalah satu-satunya tahanan perempuan yang dihukum mati dalam sejarah Jepang.
tirto.id - Dia adalah perempuan pertama--atau lebih tepatnya aktivis politik perempuan--yang dihukum mati dalam sejarah Jepang, bahkan jika dihitung sejak kemunculan kata “Nippon” pertama kali dalam Old Book of Tang ketika masa Dinasti Tang tahun 617. Namanya Kanno Sugako.

Lahir di Osaka pada 1881, Kanno merupakan anak pertama Kanno Yoshihige, seorang pengusaha tambang yang cukup sukses. Ia memiliki seorang adik perempuan bernama Hide dan adik laki-laki. Ketika Kanno berusia sembilan tahun, usaha ayahnya bangkrut. Lalu setahun kemudian, ibunya meninggal dunia. Dari sini, petaka mulai hadir ke dalam kehidupan Kanno.

Selang beberapa tahun setelah sang istri meninggal, ayah Kanno menikah kembali dengan seorang perempuan berperangai bajingan. Ia pernah menghasut seorang pekerja tambang agar memerkosa Kanno (PDF) yang kala itu berusia 15 tahun. Kejadian tersebut membuat Kanno remaja begitu frustasi dan berjuang seorang diri untuk menyembuhkan trauma yang dialaminya.

Di tengah proses pemulihannya, Kanno membaca esai Sakai Toshihiko, seorang sosialis Jepang yang namanya ketika itu cukup disegani. Dalam esainya tersebut, Sakai sempat membahas tentang pemerkosaan. Ia menekankan agar para korban pemerkosaan tidak perlu merasa bersalah atas apa yang menimpa mereka. Melalui esai tersebut, Kanno kian termotivasi untuk pulih. Tak hanya itu, ia juga makin intens membaca lebih banyak tulisan-tulisan Sakai. Dari sinilah Kanno mulai terpapar oleh para pemikir sosialis lainnya.

Namun, tekanan yang didapat Kanno dari ibu tirinya tidak kunjung berhenti. Hal tersebut membuat Kanno memutuskan menempuh cara ekstrem: Pada September 1899, ketika usianya 17 tahun, ia menikah dengan Komiya Fukutarō, seorang anak dari keluarga pedagang asal Tokyo. Itu bukan pernikahan atas dasar kasih sayang. Kanno melakukannya semata agar dapat pergi dari siksaan ibu tirinya. Pada 1902, ibu tirinya tersebut pergi meninggalkan suaminya. Kanno pun kembali ke rumah untuk merawat sang ayah.

Di sela-sela mengurus ayah dan adik-adiknya, Kanno terus melatih kemampuannya menulis. Ia berkenalan dengan Udagawa Bunkai, seorang penulis sekaligus sejarawan yang cukup kawakan. Suatu ketika, Udagawa berhasil mendapatkan pekerjaan untuk Kanno di Osaka Choho (Osaka Morning Paper), sebuah surat kabar harian di Osaka. Di sana, Kanno diminta untuk menulis berbagai serial cerita pendek, esai, dan macam-macam artikel.

Ketika Kanno sempat dirawat di rumah sakit, Udagawa juga turut menemaninya. Bahkan ia juga membantu mengurus keluarga Kanno. Kebaikan Udagawa tersebut membuat Kanno terkesan. Mereka pun akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun demikian, relasi mereka perlahan kandas setelah pada 1905, Kanno memutuskan bergabung dengan Women's Moral Reform Society, sebuah gerakan yang menginisiasi kampanye melawan sistem selir dan mengadvokasi kemerdekaan perempuan.

Namun, cerita soal Kanno tentunya tidak sekadar mengenai asmara dan keluarganya belaka. Ada satu hal lain yang semestinya patut dikenang dari Kanno: bagaimana ia, dengan segala keberanian dan kelemahannya, bertekat untuk meruntuhkan kekaisaran.

Karier Jurnalistik dan Lika-Liku Ideologi

Ayah Kanno meninggal pada 3 Juni 1905. Dalam jarak waktu yang tak terlampau jauh, adiknya hijrah ke Amerika Serikat untuk sekolah. Kanno pun tinggal bersama adik perempuannya, Hide. Hal ini membuat Kanno lebih leluasa untuk terlibat dalam gerakan sosial yang ia ikuti.

Situasi politik yang cukup pelik dihadapi Kanno pada 1906. Ketika itu, aparat berwenang memenjarakan Mori Saian, editor surat kabar harian yang berbasis di Wakayama, Muro Shinpō (Muro News), karena dianggap telah menghina pihak otoritas. Sakai yang bekerja sebagai editor sementara di Muro Shinpo meminta Kanno menggantikan posisi Mori yang lowong. Meski awalnya enggan karena ketika itu Kanno sudah memiliki kesibukan sendiri, ia akhirnya menuruti permintaan guru menulisnya tersebut.

Sebelum Mori dijebloskan ke dalam penjara, ia sempat meminta bertemu dengan Kanno demi membicarakan ihwal tugas-tugas keredaksian. Alhasil, setelah akhirnya Mori masuk bui pada 13 Maret 1906, Kanno justru menjadi Pemimpin Redaksi di Muro Shinpō. Pada periode ini, ia sempat berkenalan dengan Arahata Kanson, salah satu kontributor di surat kabar tersebut. Mereka relatif akrab karena latar belakang yang sama: pernah ikut organisasi Kristiani dan (menganut) Sosialisme.

Pada akhir Mei 1906, Kanno pindah ke Tokyo bersama adiknya, Hide, sekaligus bekerja untuk Mainichi Denpo (Tokyo Telegraph). Kendati demikian, dia masih aktif menulis artikel untuk Muro Shinpō. Sekitar periode yang sama, Hide terkena penyakit keras yang membuat kesehatannya terus memburuk, sebelum akhirnya meninggal pada 22 Februari 1907 karena Kanno dan Arahata tidak memiliki uang cukup untuk membawa gadis kecil itu untuk dirawat di rumah sakit.

Pada tahun yang sama pula, Kanno tertular TBC, dan sempat menempuh pengobatan alternatif selama dua bulan. Sejak menderita TBC, Kanno menjadi sosok yang temperamental dan amat sensitif. Arahata yang tidak tahan dengan hal ini memutuskan menjauh sebelum akhirnya hubungan mereka selesai. Kendati demikian, relasi mereka sebagai dua sosok yang sama-sama idealis tetap tak berubah.

Hal itu diperlihatkan ketika Kanno menghadiri rapat umum yang diadakan oleh Arahata, Sakai, dan para pemimpin sosialis-anarkis lainnya pada Juni 1908. Inilah momentum yang kelak membelokkan rute ideologis dan perjuangan Kanno ke depannya hingga akhir hayat. Rapat ini dikenal dengan Insiden Bendera Merah (Red Flag Incident).

Pemerintah Jepang kala itu sempat membubarkan rapat umum tersebut, namun penolakan para pesertanya berujung dengan perkelahian massal. Pihak berwenang yang ditugaskan untuk menyeruduk ruang rapat akhirnya berhasil dibuat tunggang langgang. Kendati setelahnya mereka kembali lagi dengan jumlah massa yang lebih banyak dan menangkapi para peserta, terutama para pimpinan rapat.

Ketika kemudian para pemimpin sosialis-anarkis di rapat tersebut dipenjara, Kanno sempat mendatangi kantor polisi untuk menanyakan tentang mereka. Di sana, ia melihat rekan-rekannya disiksa dan polisi justru juga turut menangkapnya. Kanno pun didakwa hukuman dua tahun penjara dengan tuduhan terlibat insiden tersebut. Pada periode menjalani hukuman di penjara ini, Kanno mulai mengubah kepercayaan ideologisnya.

Anarkisme, Rencana Pengeboman, dan Hukuman Mati

Menurut Kanno, metode sosialisme damai yang selama INI ia dukung (dan membuatnya menjadi seorang pasifis) tidak efektif untuk menghadapi sistem otoritarianisme Jepang kala itu. Ia percaya bahwa satu-satunya jalan hanyalah dengan menggunakan kekerasan. Setelah menyelesaikan hukumannya, Kanno menjadi pribadi yang berbeda dan akibatnya ia dipecat dari Muro Shinpo.



Pada masa ini, ia kembali menjalin relasi dengan sosok bernama Kōtoku Shūsui. Laki-laki ini sebelumnya telah dikenal Kanno sejak ia masih bergabung dengan Fujin Kyofukai, organisasi perempuan Kristiani yang fokus menentang pendirian rumah bordil dan reformasi pemerintahan. Ketika masa perang Rusia-Jepang terjadi pada 1904, Kanno sempat menjadi kontributor Heminsha Shinbun, semacam tabloid anti-perang yang dikepalai oleh Sakai dan juga Kōtoku.

Kōtoku sebelumnya juga sempat dipenjara karena tulisannya yang provokatif di Heminsha Shinbun. Setelah bebas, ia sempat pergi ke AS selama enam bulan dan dari sanalah ia mulai banyak mempelajari anarkisme. Pada 1909, demi menjalin relasi yang lebih serius dengan Kanno, Kōtoku menceraikan istri keduanya. Namun demikian, banyak rekan Kanno yang merasa kesal karena relasinya bersama Kōtoku dianggap telah mengkhianati Arahata yang kala itu masih dipenjara.

Relasinya dengan Kōtoku membuat Kanno banyak mempelajari diskursus Anarkisme sekaligus berjejaring dengan para anarkis lain di Jepang. Pada tahun 1909, ia bertemu dengan Miyashita Daikichi, sosok militan penentang kekaisaran yang mengklaim telah membuat bom untuk membunuh kaisar. Miyashita dulunya adalah mantan pekerja pabrik yang dipengaruhi oleh Morochika Umpei, salah seorang anggota Heminsha.

Para Anarkis Jepang kala itu memiliki satu kepercayaan ideologis yang sama dan begitu subversif: kaisar bukanlah sosok ilahiah dan karenanya wajib untuk digulingkan, jika perlu dibunuh. Miyashita juga seorang pembaca tekun tulisan-tulisan Uchiyama Gudo, anarkis lain yang berpendapat bahwa kaum tani sengaja dimiskinkan dan dieksploitasi oleh para elite, yakni kaisar dan pemilik tanah. Uchiyama pun turut mengurai asal-usul kaisar, di mana ia berkesimpulan bahwa mereka hanyalah bandit bentukan pihak asing yang ditugaskan untuk menyengsarakan masyarakat lokal.



Kanno amat tertarik dengan gagasan Uchiyama. Selain itu, ia juga tengah terkagum-kagum dengan sosok Sophia Perovskaya, anarkis Rusia yang turut serta dalam pembunuhan Tsar Alexander II. Ketika Uchiyama ditangkap pada Mei 1909, Kōtoku dan Kanno menjadi dua sosok sentral yang terus mengkritik kekaisaran. Sementara itu, rencana pengeboman tetap berlangsung, namun berakhir dengan kegagalan tragis.



Syahdan, Miyashita sempat memberikan bom rakitannya kepada rekannya bernama Shimizu Taichiro. Orang ini rupanya pengkhianat yang kemudian melaporkan rencana Miyashita dkk. ke polisi. Alhasil, pada Mei 1910, pemerintah menangkapi seluruh pihak terkait yang terkait rencana tersebut. 26 orang orang diadili dan 24 dari mereka dijatuhi hukuman mati, dan Kanno menjadi satu-satunya wanita yang turut serta.

Di persidangan, Kanno memilih untuk tidak bungkam dan justru secara terang-terangan menyatakan pemberontakannya. Sebagaimana tercatat dalam "Reflections On the Way to the Gallows" (PDF), ia mengatakan:

"Pada dasarnya, bahkan di antara kaum anarkis lain, saya adalah pemikir yang lebih radikal. Ketika saya dipenjara pada bulan Juni 1908 sehubungan dengan insiden Bendera Merah, saya marah atas perilaku brutal polisi. Saya menyimpulkan bahwa penyebaran prinsip-prinsip kami secara damai tidak mungkin dilakukan dalam keadaan seperti itu. Sebab itulah, kesadaran orang-orang perlu dibangkitkan dengan cara membuat kerusuhan, revolusi, atau lewat pembunuhan.

Saya berharap untuk menghancurkan tidak hanya kaisar, tetapi juga unsur-unsur lainnya. Kaisar Mutsuhito (Kaisar Meiji), dibandingkan dengan Kaisar-kaisar lain dalam sejarah, tampaknya sosok yang populer di kalangan rakyat, walaupun saya merasa kasihan kepadanya. Ia, sebagai kaisar, adalah orang yang paling bertanggung jawab atas eksploitasi rakyat secara ekonomi. Dan secara intelektual, dia adalah penyebab utama atas segala kepercayaan takhayul.

Saya menyimpulkan, seseorang dalam posisi seperti itu, harus dibunuh.

Pada 25 Januari 1911, Kanno dihukum mati dengan cara digantung.

Baca juga artikel terkait JEPANG atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight