Park Yeol, Kaneko Fumiko, dan Kesunyian Anarkisme

Oleh: Arif Abdurahman - 14 Oktober 2017
Dibaca Normal 3 menit
Anarchist from Colony bekerja linear layaknya film dokumenter sejarah dengan beberapa romantisasi ala drama Korea.
tirto.id - Belajar dari pengalaman asmaranya, gadis tersebut menyimpulkan bahwa "orang pergerakan", semuanya, penuh omong kosong. Bahkan yang katanya Kiri, tak lepas dari hipokrit dan fuckboy, malah lebih buruk.

Gadis itu, Fumiko Kaneko, adalah seorang anarkis sekaligus seorang nihilis, yang dipengaruhi Max Stirner, Mikhail Artsybashev, Nietzsche dan Kropotkin. Meski pendidikan pas-pasan, dia rakus membaca dan terpapar pula beragam gagasan dari Bergson, Herbert Spencer, serta Hegel.

Kemudian, si gadis anarko-nihilis Jepang ini menemukan sang anarkis bandel dari Korea. Dalam memoarnya, Kaneko menulis dengan penuh gairah saat menceritakan perkenalannya dengan Park Yeol. Jauh sebelum bertemu dengannya, Fumiko membaca sebuah puisi yang Park Yeol terbitkan dalam sebuah pamflet sosialis delapan halaman, dan tertegun oleh keindahan dan kekuatan kata-katanya. "Aku merasa seperti baru saja menemukan di sini, dalam puisi ini, sesuatu yang kucari," ungkapnya pada seorang teman.

Park Yeol hidup layaknya anjing liar, seperti dalam puisi yang ditulisnya. Dia menginap di rumah teman yang berbeda setiap malam, sering sakit, tapi memiliki pengaruh kuat. "Apa yang sedang dikerjakan orang ini? Apa yang membuatnya begitu tangguh?" renung Fumiko.

"Aku ingin mencari tahu dan menirunya." Fumiko terinspirasi, senang, dan benar-benar terobsesi. Apa pun yang sedang dikerjakan Park Yeol, kehancuran apa pun yang sedang dia rencanakan, Fumiko ingin menjadi bagian darinya.

Kisah cinta antara Park Yeol dan Fumiko ini yang kemudian dijadikan kunci penting dalam Anarchist from Colony (2017). Anarkisme, penolakan terhadap segala bentuk otoritas, selain sebagai gerakan global anti-kolonial, terkait pula dengan feminisme modern dalam memandang hubungan kasih yang setara.

Anarchist from Colony: Upaya Menggiring Si Anarkis ke Sinema

"Sekitar 20 tahun yang lalu saya membaca soal anarkisme dalam riset untuk Anachists," jelas Lee Joon-ik pada The Korea Herald, mengacu pada film thriller tentang anarkis Korea yang berusaha menggulingkan pemerintah militer Shanghai tahun 1920, yang diproduksi olehnya. "Saat pembacaan, saya menemukan Park Yeol," katanya.

"Park Yeol punya rekam jejak yang aneh dan dia meninggalkan foto mengejutkan ini," ungkap Joon-ik. Foto tersebut, dirilis pada tahun 1927 ketika Park diadili atas percobaan pembunuhan kaisar Jepang. Foto yang menunjukkan Park Yeol meletakkan tangannya di payudara Kaneko di ruang interogasi gedung pengadilan. Ini menunjukkan kepercayaan diri yang menantang sekaligus mengejek sistem hukum Jepang.

Sebagai bangsa yang masih sakit hati, bikin film dengan sentimen menjelek-jelekkan Jepang tentu lumrah. Di tahun ini, dirilis pula The Battleship Island yang menyorot kekejaman imperialisme Jepang. Namun, Joon-ik mengatakan bahwa dia ingin mencoba mengubah perspektif ini, dengan mencoba menawarkan cara pandang baru pada pendudukan Jepang atas Korea.

"Bagi penonton Jepang, karakter utama film ini bukanlah Park Yeol tapi Fumiko Kaneko," kata Joon-ik. Fumiko, yang diperankan Choi Hee-seo, menunjukkan seorang wanita yang bersimpati dengan orang-orang yang tertindas, berani memberontak terhadap negaranya dan menolak ditempatkan di bawah kendali siapa pun. Anarchist from Colony sendiri didasarkan pada biografi Fumiko Kaneko yang ditulis oleh Shoji Yamada.

Untuk peran Park Yeol dipilih si flower boy Lee Je-hoon, yang menjalani diet agar makin menghayati akting kelaparannya. Je-hoon, yang ingin tetap setia pada tokoh kehidupan nyata, membaca teks sejarah, juga mengambil pelajaran bahasa Jepang.

"Kami melihat foto-foto Park dan mencoba mereplikasi (penampilannya)," sang aktor menjelaskan. "Selama lima minggu dari periode syuting enam minggu kami, saya hanya meminum cairan protein.”

Saat berakting sebagai sang anarkis, Je-hoon mengatakan bahwa dia menyadari bahwa kebebasan yang tercipta bagi dia sekarang ini merupakan sesuatu yang baru saja diperoleh.

"(Park Yeol) bukanlah sosok yang terkenal, tapi dia berkontribusi untuk mengguncang imperialisme Jepang," kata Je-hoon. "Ini membuat saya bertanya-tanya apakah saya masih bisa mengekspresikan diri saya secara artistik seperti yang saya lakukan sekarang jika bukan karena aktivis kemerdekaan seperti dia."

infografik anarchist from colony


Sejoli Anarkis di Kala Histeria Anti-Kiri

Tanpa eksperimentasi gaya, Anarchist from Colony bekerja linear layaknya film dokumenter sejarah dengan beberapa romantisasi ala drama Korea. Dengan riset mendalam, Lee Joon-ik memang piawai dalam meracik film sejarah. Sebelumnya, dia telah membikin biopik Dongju: The Portrait of the Poet (2016) dan beberapa film kolosal, yang paling laris King and the Clown (2005).

Dengan berpusat pada Park dan Fumiko, film ini menarasikan bagaimana pengkondisian paranoia yang diciptakan elit negara bekerja. Kebijakan yang, meski berdarah, akan tetapi benar-benar mangkus.

Pada tahun 1923, gempa besar di Kanto menghancurkan kota Tokyo dan sekitarnya, berlanjut dengan kebakaran besar, yang menewaskan lebih dari 100.000 orang. Kekacauan tercipta. Para pemangku kebijakan Pemerintahan Imperial melihat bakal adanya aksi protes dari rakyat, yang kemungkinan besar menciptakan kerusuhan lanjutan.

Oleh karenanya, diciptakan histeria bahwa orang Korea yang tinggal di Jepang memanfaatkan bencana tadi untuk meracuni sumur dan menanam bom. Semua itu tidak benar, tapi itu tak masalah; Kelompok preman yang berafiliasi dengan sayap kanan, tentara dan warga biasa mulai membantai orang Korea yang bisa mereka temukan. Pada saat episode kekerasan berhenti, lebih dari enam ribu orang Korea meninggal.

Park Yeol dan kelompok anarkisnya memilih untuk menyerahkan diri pada polisi saat genosida terjadi, dengan alasan lebih aman. Gagasan ini mula-mula berjalan baik, tapi tak lama kemudian tuduhan tak benar mulai dilancarkan terhadap mereka: dimulai dengan pelanggaran terhadap undang-undang kontrol bahan peledak, dan akhirnya aksi makar tingkat tinggi. Tuduhan ini dirancang untuk menutupi genosida orang Korea tadi.

Untuk melindungi kelompoknya, Park Yeol mengajukan diri sebagai martir. Bahwa dialah seorang yang bertanggung jawab dalam rencana pembunuhan Pangeran Hirohito sang putera mahkota. Namun, meski hukuman mati yang menanti, Fumiko pun ikut-ikutan menyerahkan diri. Dari sini, Park Yeol dan Fumiko melayani praktik culas pemerintahan Jepang, malah bermain-main dengannya.

Dengan istilah anarki yang sering disalahpahami hari ini, Anarchist from Colony bisa jadi semacam pembacaan dasar. Anarki bukanlah keinginan untuk menciptakan dunia tanpa peraturan, melainkan dunia tanpa ada orang lain yang mengklaim sepihak untuk mengaturmu secara paksa.

Baca juga artikel terkait ANARKISME atau tulisan menarik lainnya Arif Abdurahman
(tirto.id - Film)

Reporter: Arif Abdurahman
Penulis: Arif Abdurahman
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti