Merapi dalam Kosmologi Jawa: Takdir, Cobaan, atau Peringatan?

Infografik Merapi Dalam Kosmologi yogyakarta
Kepulan asap putih atau sulfatara terlihat dari puncak Gunung Merapi di Tlogolele, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu (2/6). ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho.
Oleh: Irfan Teguh - 19 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
Sejak Mataram membangun basis kekuasaannya di selatan Jawa, Gunung dianggap sebagai salah satu tempat sakral bagi dinasti tersebut.
tirto.id - Minggu malam (16/12) sekitar pukul 19.00, Gunung Merapi meluncurkan lava pijar sejauh 300 meter ke arah hulu kali Gendong. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan intensitas guguran lava relatif rendah dan mengimbau masyarakat sekitar Gunung Merapi tetap tenang. Masyarakat juga diminta untuk tetap waspada dan mengikuti informasi pertumbuhan kubah dan guguran lava.

Dalam riwayat panjang aktivitas vulkaniknya, Gunung Merapi kerap memakan korban jiwa dan kerugian materi yang tak sedikit. Meski demikian, Merapi punya tempat istimewa di tengah masyarakat Jawa yang menganggapnya sebagai bagian dari kosmologi kehidupan. Dua tempat lain yang juga menjadi bagian dari kosmologi itu adalah keraton dan laut selatan.

Dalam pelbagai catatan tentang Keraton Mataram, ketiga tempat ini merupakan poros spiritual utara-selatan. Menurut Keraton Jawa (2017) yang ditulis oleh Ashadi, sumbu ini disebut sebagai poros sejati kelanggengan dinasti Mataram yang merupakan simbol dari proses kehidupan manusia menuju keabadian.

“Hal ini dipersonifikasikan oleh persetubuhan dua makhluk halus berlainan jenis, yaitu Kyai Sapu Jagad sebagai penguasa Gunung Merapi dan Ratu Kidul sebagai penguasa Laut Kidul, yang buah dari dari perkawinan itu adalah benih raja-raja Mataram,” tulisnya.

Namun, pendapat tentang siapa yang kawin dengan penguasa laut selatan sehingga tempat ini menjadi bagian dari poros utara-selatan memang tidak tunggal. Berbeda dengan Ashadi, H.J. De Graaf dalam Kerajaan-kerajaan Islam Pertama di Jawa (1989) menyebutkan bahwa justru yang kawin dengan Nyai Rara Kidul adalah seorang raja Mataram saat dinasti ini mulai muncul.

Lebih lanjut ia menerangkan, dalam pelbagai kisah dan adat istiadat, di daerah-daerah sepanjang pesisir selatan Jawa itu bahkan dijumpai sisa-sisa ritual penghormatan dari zaman pra-Islam terhadap kekuasaan penguasa Segara Kidul atau Laut Selatan.

“Di sekitar muara Sungai Opak dan Sungai Progo di Segara Kidul di daerah Mataram, kepercayaan itu bertahan lama,” imbuhnya.


Hal ini bertalian juga dengan keberadaan gunung di sekitar Keraton Mataram, yakni Gunung Lawu dan Gunung Merapi, yang juga dihormati dengan upacara keagamaan untuk menghormati para dewa gunung.

Saat Panembahan Senopati menyusuri Sungai Opak ke arah hilir sungai menuju kediaman Dewi Segara Kidul, tulis De Graaf dalam Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintah Senopati (1985), pamannya yang bernama Juru Martini menuju ke utara ke puncak Gunung Merapi untuk mencari kesaktian.

Artinya, sejak semula pendirian Mataram Islam, simpul utara-selatan yang terdiri dari Gunung Merapi-Keraton-Laut Kidul, memang telah menjadi poros penting bagi Mataram, baik sebelum maupun setelah Perjanjian Giyanti yang membelah kekuasaan raja Jawa.

Sementara Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya 3: Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris (2018) menyatakan gunung sebagai bagian dari konsep lama tentang kekuasaan. Amatan Lombard berangkat dari perwajahan sampul buku Tahta untuk Rakyat: Celah-celah Kehidupan Sultan Hawengku Buwono IX (1982) yang menampilkan wajah Sultan dengan latar belakang Gunung Merapi yang tengah meletus.

“Tanpa komentar pun, asosiasi ini mengingatkan kita pada posisi raja-raja zaman dulu sebagai raja gunung,” tulisnya.

Letusan Merapi bagi Perang Jawa

Dalam Perang Jawa (1825-1830), letusan Gunung Merapi pada Desember 1822 disusul oleh gempa berturut-turut pada tahun-tahun berikutnya. Di tengah ketegangan antara Diponegoro dengan Belanda, penduduk Jawa tengah-selatan menganggap peristiwa alam ini sebagai pertanda penting akan datangnya perubahan.

“Selain kerusakan fisik akibat letusan itu, peristiwa-peristiwa tersebut hampir pasti membantu meningkatkan harapan-harapan akan Ratu Adil menjelang pecahnya Perang Jawa,” tulis Peter Carey dalam Kuasa Ramalan Jilid 2: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855 (2011)

Dalam Babad Diponegoro, seperti yang dikutip Peter Carey, letusan ini digambarkan begitu dahsyat:

Gunung Merapi terbakar/pucuknya bagai terlontar ke langit/Yogyakarta serasa tertutup olehnya/Langit berubah menjadi api/gemuruhnya menggentarkan/ia menggelegar dan mengguntur/apinya memancar ke segara arah/Dalam kegemparan besar/semua/di mana-mana orang berusaha sekuatnya cari selamat.

Dalam situasi seperti itu, tambah Carey, Diponegoro tengah tertidur ketika pecah letusan pertama. Ia terbangun karena mendengar jeritan dan langsung menuju halaman bersama istrinya, lalu memandangi langit. Dahsyatnya peristiwa alam itu ia anggap sebagai pertanda amarah Allah.

“Renungan batin Diponegoro bahwa peristiwa itu adalah pertanda amarah Ilahi tentulah akan timbul juga di hari orang banyak […] disusul dengan sejumlah gempa pada Desember 1823, Januari 1824, dan September 1925, dipercaya sebagai bukti lanjutan bahwa Jawa akan memasuki suatu zaman baru,” tulis Carey.




Peninggalan Hindu dan Tafsir Letusan

Pandangan Gunung Merapi sebagai tempat sakral bagi masyarakat Jawa tidak bisa dilepaskan dari kepercayaan lama yang mengandung unsur agama Hindu. Menurut Guru Besar Antropologi UGM Heddy Shri Ahimsa-Putra, sebagai pecahan dari Mataram Islam, Keraton Yogyakarta dibangun atas kesadaran penuh akan hal ini.

Sampai sekarang, penghormatan terhadap Gunung Merapi tidak hanya dilakukan oleh keraton sebagai institusi, tapi juga hidup dalam keseharian sebagian masyarakat.

Jika keraton mengadakan upacara labuhan sebagai upaya membangun relasi dengan “penjaga-penjaga” gaib yang ada di daerah-daerah di Gunung Merapi dan Gunung Lawu, maka masyarakat menjadikan gunung-gunung tersebut sebagai tempat bertapa, tempat menyendiri, dan tempat mencari “inspirasi”.


“Orang-orang tertentu yang aliran Kejawen, kadang-kadang naik gunung dengan gurunya dan melakukan juga seperti [memberi] sesaji atau semedi. Masih ada seperti itu [dalam kehidupan] sehari-hari,” ujar Heddy Shri Ahimsa-Putra ketika dimintai komentar oleh Tirto.

Letusan Merapi memang sangat terbuka untuk ditafsirkan oleh pelbagai lapisan masyarakat Jawa. Termasuk oleh Diponegoro menafsirkan letusan Gunung Merapi pada 1822 sebagai amarah Ilahi sampai-sampai ia yakin untuk melawan Belanda.

Heddy Shri Ahimsa-Putra berpendapat bahwa secara umum tafsir tersebut terbagi tiga, yakni takdir, cobaan, dan peringatan.

Masyarakat kecil, tambahnya, biasanya menyikapi gunung meletus itu sebagai takdir. Sementara sebagian pejabat menyebutnya cobaan. Para ulama serta paranormal meyakininya sebagai peringatan.

Kecil atau besar, letusan Gunung Merapi sejatinya tidak sekadar peristiwa alam, tapi juga peristiwa sosial yang berkaitan dengan sejarah panjang kosmologi Jawa dalam memperlakukan alam, dalam hal ini gunung.

Maka sikap Mbah Maridjan yang tewas setelah menolak meninggalkan kediamannya ketika Merapi meletus pada Oktober 2010 kiranya dapat dilihat dari sudut pandang ini.

Baca juga artikel terkait GUNUNG MERAPI atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Irfan Teguh
Editor: Windu Jusuf
DarkLight