Menteri Rini: Pembelian Hak Partisipasi Rio Tinto Masih Finalisasi

Oleh: Maya Saputri - 24 Mei 2018
Dibaca Normal 1 menit
Menteri Rini enggan menyebutkan kesepakatan harga antara PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) dengan Rio Tinto untuk pembelian 40 persen PI.
tirto.id - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno mengatakan proses pembelian 40 persen hak partisipasi (participating interest/PI) perusahaan tambang asal Inggris-Australia, Rio Tinto, pada PT Freeport Indonesia (PT FI) sudah dalam tahap finalisasi.

Namun, Rini enggan menyebutkan kesepakatan harga antara PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) dengan Rio Tinto untuk pembelian 40 persen PI. Pemerintah akan terbuka mengenai nilai valuasi Rio Tinto setelah adanya kepastian dengan ditandatanganinya perjanjian (Head of Agreement/HOA).

"Yah kan saya bilang nanti kalau kami sudah tanda tangan Head of Agreement baru bisa bicara. (Saat ini) belum boleh," kata Rini di Jakarta pada Rabu (24/5/2018).

Pembelian hak partisipasi Rio Tinto ini sebagai upaya menghindari jalan buntu negosiasi divestasi saham 51 persen antara pemerintah dan PT Freeport Indonesia yang tak kunjung mencapai titik temu. Negosiasi divestasi ini terhambat karena adanya perbedaan perhitungan untuk menentukan harga saham PT FI yang akan didivestasikan ke pemerintah RI sebagai bagian dari perpanjangan kontrak PT FI.

Rio Tinto adalah pemegang hak partisipasi dalam proyek Freeport Indonesia sebesar 40 persen. Hak partisipasi ini akan dikonversi menjadi saham sebagai upaya mencapai target divestasi 51 persen saham PT FI. Ia memiliki perjanjian dengan Freeport pada 1990-an mengenai pendanaan dan pengoperasian. Sehingga, dalam operasional tambang Grasberg di Tembagapura terbagi dua pemegang kendali: 40 persen milik Rio Tinto dan 60 persen milik Freeport-McMoRan.

Sementara itu, berdasarkan informasi dari Bloomberg pada Selasa (22/5/2018), bahwa diskusi masih berlangsung antara Rio Tinto dan PT Inalum untuk harga pembelian 40 PI milik Rio Tinto. Potensi harga kesepakatan kedua belah pihak sebesar 3,5 miliar dolar AS atau Rp49 triliun (kurs Rp14.000).

Rini mengatakan telah mendapatkan laporan dari progres pembelian PI belum lama ini dari Direktur Utama Holding Tambang PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum), Budi Gunadi Sadikin. "Kemarin bicara dengan Pak Budi karena kami masih dalam finalisasi untuk penandatangan Head of Agreement," ucapnya.

Mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan era 2001-2004 ini, menargetkan penandatangan HoA dapat terlaksana pada Juni 2018 mendatang. "Insyaallah masih bisa tercapai di Juni ini," kata dia.


Baca juga artikel terkait KASUS FREEPORT atau tulisan menarik lainnya Maya Saputri
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Shintaloka Pradita Sicca
Penulis: Maya Saputri
Editor: Maya Saputri
* Data diambil dari 20 top media online yang dimonitor secara live