Menperin: Pendapatan Per Kapita RI Bisa Capai USD31.000 pada 2045

Oleh: Hendra Friana - 6 Maret 2019
Airlangga Hartarto optimistis Indonesia bisa mengerek pendapatan per kapita menjadi 31.000 dolar AS pada tahun 2045 dengan penerapan industri 4.0 dan peningkatan kualitas SDM.
tirto.id - Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengeluhkan pendapatan perkapita Indonesia masih jauh lebih kecil dibandingkan Australia. Padahal jumlah penduduk Indonesia jauh lebih besar dibandingkan negara tetangga tersebut.

"Kalau kita bandingkan dengan Australia, penduduk kita lebih dari 10 kali lipat. Artinya, ekonomi kita berpotensi naik 10 kali lipat. Meskipun, saat ini income [pendapatan] per kapita kita 3.800 dolar AS, mereka [Australia] sudah 51.000 dolar AS," kata Airlangga di Jakarta pada Rabu (6/3/2019).

Meski demikian, ia optimistis pendapatan perkapita Indonesia akan melonjak drastis dan bisa mengejar Australia jika pemerintah sudah mengimplementasikan industri 4.0 dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) terampil.

Dengan penerapan industri 4.0, Airlangga meyakini pendapatan per kapita Indonesia dapat mencapai 31.000 dolar AS pada tahun 2045. Jika hal itu bisa tercapai, Indonesia akan menempati peringkat ke-4 sebagai negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia.

"Pertanyaannya, adakah yang sudah memperoleh income perkapita sebesar 31.000 dolar AS hari ini di Indonesia? Jawabnya, ada. Pergi saja ke kawasan industri di Jababeka atau Cikarang dan sekitarnya, itu dengan jumlah satu juta orang. Di sana itu adalah Detroit-nya Indonesia," ujar dia.


Airlangga menilai Indonesia memiliki modal besar, yakni jumlah SDM melimpah dan bonus demografi hingga tahun 2030. Modal ini, kata dia, memungkinkan penerapan industri 4.0 mengerek pendapatan per kapita Indonesia.

Apalagi, kata Airlangga, SDM Indonesia memiliki karakteristik fleksibel beradaptasi dengan teknologi baru. Hal itu tercermin dari penjualan ponsel pintar di pasar domestik yang menembus hingga 60 juta unit per tahun.

Oleh karena itu, menurut dia, bonus demografi yang dinikmati Indonesia bisa menjadi momentum yang baik untuk mengatrol pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, jika tak terkelola baik, bonus demorafi justru akan menjadi beban.

"Kalau bonus demografi sudah terlewati, negara terbebani dengan social cost lebih tinggi," kata dia.


Baca juga artikel terkait INDUSTRI 40 atau tulisan menarik lainnya Hendra Friana
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Hendra Friana
Penulis: Hendra Friana
Editor: Addi M Idhom