Menjadi Sehat dan Beringas Bersama Straight Edge

Oleh: Eddward S Kennedy - 22 Oktober 2018
Dibaca Normal 4 menit
Straight Edge bermula dari lagu, kemudian jadi gerakan budaya tandingan, dan akhirnya dituduh "teroris pinggir kota".
tirto.id -
“I’m a person just like you, but I’ve got better things to do, than sit around and fuck my head, hang out with the living dead, snort white shit up my nose, pass out at the shows, I don’t even think about speed, that’s something I just don’t need, I’ve got the straight edge.”

Bagi Ian MacKaye, menjadi rockstar tak mesti identik dengan penggunaan obat-obatan terlarang, seks bebas, atau gaya urakan. Seorang cupu, berkacamata, atau kutu buku, juga berhak pula memainkan musik keras dan mengguncang-guncangkan kepala (headbanging) di atas panggung.

Demi mendobrak stereotip tersebut, vokalis Minor Threat (band hardcore oldschool dari Washington tahun 1980-an) itu lantas menciptakan lagu berjudul "Straight Edge", sebuah lagu jurus tiga kunci khas punk rock dengan durasi sangat cepat, 46 detik. Lagu itu terdapat di album Minor Threat EP yang diluncurkan pada 1981.

Lagu "Straight Edge" kemudian berevolusi menjadi suatu gaya hidup baru di kalangan hardcore/punk yang menekankan pada aksi personal untuk tidak mengisap rokok, memakai narkoba, menolak alkohol, hingga tidak sembarangan gonta-ganti pasangan. Dalam konteks saat itu, Straight Edge menjadi budaya tandingan dari gaya hidup ala rockstar yang muncul sejak medio 1960-an.

Ketika menjadi pembicara di Library of Congress pada 2013, MacKay sempat mengatakan:

“(Tahun 1970-an), saya sering melihat orang-orang mabuk. Di sekolah menengah, saya sangat menyukai teman-teman saya, tapi kebanyakan dari mereka hanya hobi berpesta. Hal itu mengecewakan, sebab pemberontakan yang dapat mereka hasilkan seolah hanya dengan merusak diri sendiri.”



Para penganut Straight Edge memiliki simbol ‘X’ yang biasa mereka torehkan di punggung tangan. Pemakaian simbol ini berawal ketika band Teen Idles hendak tampil di di sebuah klub bernama Mabuhay Gardens, San Fransisco. Saat itu para personel Teen Idles masih di bawah umur, maka pihak klub memberikan tanda “X” di punggung kedua tangan mereka. Tanda itu juga membuat mereka tak diperbolehkan meminum alkohol. Sejak itulah simbol ‘X’ mulai menjadi penanda bagi kaum Straight Edge.

Ide Straight Edge dengan cepat menular ke berbagai band hardcore/punk lain di AS dan Eropa sepanjang 1980-an. Beberapa band yang mengadopsi spirit Straight Edge adalah Teen Idles, SSD, 7 Seconds, Negative FX, lalu band-band yang sering disebut sebagai 'Youth Crew Era' macam Youth of Today, Gorilla Biscuits, Judge, Bold, Chain of Streght, Slapshot, hingga Uniform Choice.

Memasuki periode akhir 1980-an, Straight Edge mulai diseraki oleh beragam wacana sosial-politik seperti vegetarianisme, hal-hak hewan, anti-rasisme, dan kesetaraan gender. Hingga kini, Straight Edge tetap menjadi filosofi hidup yang tidak hanya dianut oleh sebagian anak punk, tapi juga siapa saja yang mengamini gaya hidup sehat.

Punk Era Pra-Straight Edge


Untuk memahami Straight Edge lebih jauh, ada baiknya lebih dulu melihat bagaimana skena hardcore-punk sebelumnya.

Hardcore-punk mulai dikenal sejak akhir 1970-an di Kota San Francisco dan California Selatan. Secara musikalitas, hardcore-punk memiliki tempo yang lebih cepat, eksplosif, garang, dengan lirik yang lebih agresif dan konfrontatif ketimbang musik punk rock kebanyakan. Selain itu, hardcore-punk juga cenderung mereduksi kemampuan teknis dalam bermusik. Situsweb AllMusic mendefinisikan hardcore-punk sebagai “variasi paling ekstrem” dari musik punk.

Kemunculan hardcore-punk pada dasarnya adalah pemberontakan terhadap budaya hippie yang masih dominan saat itu. Sikap ini terinspirasi dari kalangan punk New York dan genre awal proto-punk yang juga cenderung jauh lebih agresif dan brutal dalam menyuarakan ideologi anti-seni, anti-komersialisme, anti-kemapanan industri, serta menolak "apapun yang mirip dengan karakteristik rock arus utama".

Skena hardcore-punk secara “underground” mulai jamak ditemui sejak awal 80-an. Di Amerika, kota-kota seperti Washington, New York, New Jersey, Boston, adalah wilayah utama berkumpulnya skena ini. Sebagaimana spiritnya, konser musik “bawah tanah” hardcore-punk pun juga beringas. Adu jotos dan saling banting hingga berdarah-darah adalah hal yang lazim terjadi di antara penonton.

Dalam lingkungan yang dipenuhi kemarahan itulah penyalahgunaan narkotika mulai menyebar di kalangan hardcore-punk. "Drug use patterns at major rock concert events" yang dimuat di jurnal Annals of Emergency Medicine (1996) mencatat, penggunaan obat-obatan terlarang dan konsumsi berlebih alkohol adalah hal yang umum di kalangan penonton acara konser musik punk. Banyak pula musisi hardcore punk yang memakai narkotika untuk memompa adrenalin saat membawakan lagu-lagu mereka.

Sebetulnya, penyalahgunaan narkotika dalam skena musik bukan hanya menjangkiti hardcore-punk. Pada masanya, nyaris semua musisi dari genre apapun juga menggemari narkoba. Hanya saja, kemunculan punk yang melesat dengan cepat membuat mereka mudah dijadikan terdakwa atas fenomena hidup anak muda yang bermasalah.



Beberapa ikon punk ternama pun juga memiliki keterlibatan serius dalam penggunaan narkotika. Sebut saja, Sid Vicious, pentolan Sex Pistols, yang tewas pada 1979 karena overdosis heroin di usianya yang baru 21 tahun. Demikian pula dengan Darby Crash, vokalis Germs, yang tutup usia karena overdosis pada tahun berikutnya.

Sebuah film dokumenter tahun 1981 berjudul The Decline of Western Civilization, garapan Penelope Spheeris, sempat memetakan (sekaligus menjelaskan) bagaimana skena musik punk di Los Angeles berkubang dalam kehidupan tragis: adiksi ekstrem narkotika menewaskan sejumlah musisi yang menjanjikan sebelum usia mereka mencapai 25 tahun.

MacKaye, yang hidup dalam dunia kelam tersebut selama bertahun-tahun, akhirnya memutuskan untuk mengacungkan jari tengahnya. Ia tak lagi mampu menahan rasa muak terhadap stereotip bahwa menjadi seorang punk berarti harus kecanduan narkotik dan sejenisnya. Baginya, yang menarik dari punk adalah pemberontakan terhadap hal-hal arus utama dan itulah pesan utama dari lagu "Straight Edge" yang ia buat.

"Media membingkai punk seperti sebuah omong kosong yang begitu merusak diri sendiri, nihilistik, dan sadomasokis. Jadi, mereka yang benar-benar menjadi nihilistik, sadomasokis, dan punya kecenderungan untuk merusak diri sendiri akan berkata, 'Oh, saya harus menjadi punk!' dan mereka pun mulai datang ke konser-konser punk," ujar MacKaye dalam wawancaranya dengan Bandwith.fm pada 2014.

Dalam lagu "Straight Edge", MacKaye juga menentang perilaku anak punk kebanyakan dalam hal seksualitas. Ia menganggap banyak anak punk laki-laki yang melakukan “conquest-ual sex” atau seks penaklukan dengan “mencoba untuk bercinta terhadap setiap gadis yang mereka temui lantaran mereka memiliki suatu masalah".

Satu hal yang penting diketahui, kendati MacKaye adalah orang yang menciptakan istilah "Straight Edge" berdasarkan lagu yang ia buat, ia menolak jika dianggap sebagai “founding father” gerakan tersebut. Dalam wawancara yang dilansir Rockproper.com tahun 2009, MacKaye sempat menjelaskannya:

“Sejak awal saya sudah menjelaskan bahwa saya tidak memaksudkan lagu tersebut sebagai sebuah gerakan. Hal-hal ini membuat saya mahfum bahwa saya tidak memiliki kendali atas opini orang. Dan, ya, saya juga persetan. Saya pikir itu adalah memang ada orang-orang yang merasa terkait dengan semangat dari gerakan tersebut, namun ada pula yang salah kaprah hingga mengacaukan pesan inti dari lagu itu, bahwa siapa saja bebas menjalani hidup sebagaimana yang mereka inginkan.”

Salah Kaprah Memahami Straight Edge


MacKay benar. Banyak dari penganut Straight Edge yang menafsirkan filosofi tersebut secara konservatif. Merekalah para “garis keras” (biasa dikenal dengan istilah "hardline" yang cenderung kurang toleran kepada kaum Non-Straight Edge). Hal ini menyebabkan pesan-pesan yang mereka sampaikan, baik dalam lagu atau tidak, justru menjadi semacam teror bagi yang lain.

Straight Edge pada praktiknya terbagi ke dalam beberapa golongan. Dari golongan yang sekadar menolak mengonsumsi alkohol, rokok, dan seks bebas, hingga golongan yang menafsirkan bahwa Straight Edge juga merupakan bagian dari aktivitas kemanusiaan, gerakan vegetarian, kesetaraan gender, hingga corong untuk mengadvokasi hak-hak hewan.

Dalam bentuknya yang ekstrem, penganut Straight Edge garis keras yang vegan dan anti-eksploitasi dan kekejaman terhadap hewan, misalnya, bisa saja menilai diri mereka “lebih bersih” daripada para pemakan daging.


infografik straight edge



Menurut kesaksian Jason Heller di AV Club, pada awal-awal kemunculannya, beberapa penganut Straight Edge kerap bertindak brutal kepada para punker lain yang masih menggunakan obat-obatan atau alkohol. Ia mengatakan, barisan militan Straight Edge kerap “mencari orang-orang yang merokok dan menampar mulut mereka”. Amat sering terjadi perkelahian antara penganut Straight Edge dengan Non-Straight Edge yang diawali perdebatan mengenai alkohol.

Laporan Los Angeles Times yang berjudul "The Twisted World of a 'Straight Edge' Gang" (1998), menyebutkan bahwa para penganut Straight Edge di AS kala itu tak ubahnya "Teroris Pinggiran Kota" ("Suburban Terrorists’"), saking brutalnya aksi-aksi mereka dalam memberantas pemabuk, pemadat, hingga pemakan daging. Beberapa penganut Straight Edge ekstrem bahkan percaya bahwa ide-ide mereka hanya dapat tersampaikan melalui kekerasan.



Golongan Straight Edge yang pro-kekerasan ini tak segan untuk melakukan tindakan-tindakan serupa teroris, seperti mengebom toko-toko yang menjual produk berbasis hewani, misalnya aksesoris pakaian kulit atau restoran makanan cepat saji. Pada 1996, masih berdasarkan laporan Los Angeles Times, seorang remaja Straight Edge berusia 21 tahun pernah dijatuhi hukuman dua tahun penjara karena merampok sebuah peternakan di Utah, Amerika.

Laporan Boston.com yang berjudul "Exploring The Two Sides of The 'Straight Edge' Culture" (2008) dengan cermat mengulas paradoks Straight Edge sebagai gerakan sosial. Di satu sisi, gerakan ini menjadi suatu kebanggaan bagi para anak muda yang berhasil bertahan (atau lepas) dari godaan hidup hedonis dan urakan. Sementara di sisi lain, gerakan ini justru dijadikan alat untuk menyerang para punker lain yang masih hidup dengan cara sebaliknya.

Sebuah dikotomi yang sejatinya juga bisa dijumpai pada filosofi hidup apapun.

Baca juga artikel terkait PUNK atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Windu Jusuf