Menilik Plus Minus Penerapan O-Bahn Busway

Oleh: Dio Dananjaya - 27 Juni 2019
Dibaca Normal 4 menit
Setelah Kereta Rangkaian Listrik (KRL), Bus Transjakarta, dan Moda Raya Terpadu (MRT), Indonesia juga berencana membangun sistem transportasi O-Bahn. Apa bedanya dengan yang lain?
tirto.id -
Berbicara soal transportasi massal, Indonesia telah memiliki BRT (Bus Rapid Trasnsit) yang memiliki rute spesifik dan perhentian yang jelas. Sayangnya, moda transportasi ini terkadang masih tidak lepas dari gangguan macet. BRT seperti Transjakarta berjalan di busway atau jalur bus yang tidak sepenuhnya steril dari kendaraan lain.

Untungnya, sejak awal tahun 2019, LRT (Light Rapid Transit) yang lebih ringan dari rangkaian kereta konvensional namun memiliki kapasitas penumpang lebih besar dari bus telah hadir. Meski begitu, berkaca dari Jakarta, kebutuhan akan transportasi massal untuk mengatasi kemacetan di kota-kota besar dirasa belum cukup.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi baru-baru ini mewacanakan sistem transportasi publik bernama O-Bahn yang merupakan perpaduan BRT dan LRT. Sistem transportasi ini dipercaya dapat menjadi solusi bagi transportasi umum berbentuk bus yang kerap terjebak kemacetan di kota-kota besar.

"Bus Transjakarta kan di beberapa tempat ikut arus macet bisa 30 km/jam. Ini O-Bahn kecepatan rata-rata 60 km/jam," kata Direktur Jenderal Perkeretaapian, Zulfikri, seperti dikutip dari Antara.


Zulfikri menjelaskan, nantinya ada jalur khusus seperti rel atau terowongan ketika di persimpangan, sehingga bus bisa terhindar dari kemacetan. Ia juga mengatakan, O-Bahn bisa lebih banyak membawa penumpang daripada Transjakarta meski dengan daya tampung yang sama.

O-Bahn atau Guided Bus


Omnibus Bahnhof (O-Bahn) yang secara harfiah berarti terminal bus, merupakan istilah dalam bahasa Jerman yang merujuk pada Guided Bus atau bus beroda pandu. Melihat operasinya di sejumlah negara, sepintas bus BRT terlihat berjalan seperti biasa.

Namun ketika menengok jalurnya, mungkin Anda akan berpikir sebaliknya. Jalur bus terlihat seperti jalur LRT, di mana bus berjalan di atas jalur beton bercelah. Dengan konsep ini, bus memiliki jalur sendiri yang tak bisa dipakai kendaraan lainnya. Seperti halnya kereta maupun LRT, O-Bahn Busway pun bisa terhindar dari kemacetan.



David Phillips dalam paper berjudul An Update on Curb Guided Bus Technology and Deployment Trends (2006), mengatakan jika jalur O-Bahn awalnya memang diperuntukkan bagi LRT. Sayangnya, proyek tersebut ditentang warga setempat karena dinilai menimbulkan polusi suara.

Agar tidak mubazir, jalur tersebut dipertahankan. Para ahli dan pemerintah pun mencari solusi pengganti LRT yang sebelumnya telah direncanakan. Solusi akhirnya datang dari Mercedes-Benz yang menciptakan sistem roda pandu atau guided bus.

Sistem transportasi ini pertama kali diterapkan pada jalur bus bawah tanah di kota Essen, Jerman, tahun 1980. Bus beroda pandu ini kemudian diberi nama O-Bahn, dan turut diperkenalkan di kota Adelaide, Australia pada 1986. Selain itu, O-Bahn dengan roda pandu belakangan juga hadir di Inggris dan Jepang.

Armada bus yang digunakan sebagai O-Bahn adalah bus gandeng maupun bus single. Kendaraan ini tetap dapat berjalan di jalur biasa, namun ketika bus sudah memasuki intersection, perbedaan akan tampak.

Bus ini mempunyai roda pandu yang berada di samping roda depan sebelah kanan dan kiri. Roda pandu ini menyatu dengan batang kemudi bus, sehingga saat bus memasuki jalur O-Bahn, sang sopir tak perlu lagi menyetir arah kendaraan. Seketika bus akan melaju mengikuti jalurnya, karena roda pandu akan mengarahkan bus seperti halnya fungsi roller pada mainan Tamiya Mini 4WD.

Beragam Jenis Guided Bus


Selain menggunakan roda tambahan pada bagian depan bus, sistem transportasi guided bus juga tersedia dalam beragam teknologi. Misalnya, bus dengan optical guidance yang sudah ada di Las Vegas, Amerika Serikat, sejak tahun 2003.

Melansir dari The New York Times, bus di sana pada dasarnya sudah tak dikontrol oleh manusia, melainkan dengan sistem autopilot yang mencakup kamera, komputer, dan motor yang saling berhubungan. Si sopir hanya bertugas mengerem dan mempercepat laju bus saat diperlukan.

Bus dengan panduan optik berjalan dengan kamera yang terpasang di bagian depan kendaraan. Kamera ini akan membaca sebuah garis kontras yang berada di jalan. Ketika komputer membaca terjadi penyimpangan belokan setir, ia akan kembali mendorong bus untuk kembali ke jalurnya.


Lee Gibson, Assistant General Manager of the Regional Transportation Commission of Southern Nevada, mengatakan bahwa sistem transportasi dengan panduan optik mulai ramai di kawasan Nevada dan pinggiran kotanya. "Kami menginginkan solusi yang membantu pelanggan tapi tidak melibatkan modal yang terlalu besar. Sistem ini jadi seperti kereta api, namun dengan biaya yang jauh lebih murah," ujarnya, masih dari The New York Times.

Bus yang dipakai di Nevada itu disebut dengan Civis, kendaraan ini diproduksi oleh perusahaan asal Perancis, Irisbus. Sistem Civis sebelumnya telah digunakan di dua kota Perancis, Clermont-Ferrand dan Rouen.

Bus Civis telah menggunakan teknologi plug-in hybrid, yang mana mesin diesel berfungsi untuk menjalankan alternator untuk menghasilkan listrik. Kendaraan digerakkan oleh motor listrik yang mendapat tenaga dari alternator tadi.

Karena tak memiliki poros penggerak dan sistem transmisi, lantai kabin jadi rata dari depan hingga belakang. Hal inilah yang membuat salah satu guided bus ini dapat membawa penumpang lebih banyak ketimbang BRT.

Keuntungan lain yang diberikan bus dengan optical guidance adalah jalur yang dibutuhkan lebih kecil daripada jalur BRT atau jalur O-Bahn sekalipun. Lebar jalur bus Civis disebut hanya 5 kaki atau sekitar 1,5 meter saja. Hal ini tentu saja akan menghemat luas tanah yang dibutuhkan, serta cocok diterapkan di lokasi yang sempit seperti jembatan atau terowongan.

Belakangan, peneliti dari University of California, Berkeley, telah menguji coba sistem bus yang dikemudikan secara magnetis di jalanan California. Laporan Discover Magazine mengatakan, serangkaian magnet telah tertanam di jalan untuk memandu jalannya bus di sepanjang rutenya.

Sama halnya dengan bus berpanduan optik, sopir hanya bertugas mengerem dan berakselerasi. Bus dengan magnetic guidance ini disebut tak berbeda jauh dengan sistem kereta ringan. Ia dapat mengangkut lebih banyak orang, serta menjadi pilihan baru angkutan umum.

Infografik O Bahn
Infografik O Bahn. tirto.id/Fuad


Tidak Benar-benar Steril


Tujuan dibuatnya jalan beton bercelah salah satunya adalah untuk mencegah kendaraan lain masuk ke jalur O-Bahn. Hal inilah yang menjadi keunggulan O-Bahn dibandingkan BRT seperti halnya Transjakarta, yang kerap kali dimasuki pengendara mobil dan motor.

Walaupun sudah steril dan agak mustahil dilewati kendaraan lainnya, ada saja pelanggar yang nekat untuk masuk ke jalur bus beroda pandu itu. Mereka akhirnya harus diangkat dengan kendaraan derek agar bisa keluar dari jalur O-Bahn.

Dilansir dari laman berita lokal ABC, para pelanggar ini kerap ditemukan, misalnya, pada jalur O-Bahn tersibuk yang berada di Adelaide. Dalam dua minggu saja, sudah terjadi dua kejadian mobil tersangkut di celah beton yang berada di jalur.

Mereka umumnya ingin mempersingkat waktu tempuh, tapi tak jarang banyak juga yang masuk lajur busway karena mengemudi dalam keadaan mabuk. Hal ini akhirnya membuat jalur O-Bahn macet, antrian bus di terminal bahkan mencapai lebih dari dua jam.

Jalur O-Bahn di negara maju saja bisa dengan mudah dimasuki para pelanggar, bagaimana dengan keadaan di Indonesia? Mungkin jika suatu saat diterapkan, petugas yang berjaga atau portal di depan jalur O-Bahn Busway tetap dibutuhkan guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Sistem transportasi O-Bahn memang dinilai dapat menyediakan layanan yang lebih baik daripada BRT. Pengaturan waktu perjalanan yang lebih presisi, rute tempuh yang lebih fleksibel, daya angkut lebih banyak, juga dapat menjangkau beragam daerah jadi kelebihan utamanya. Terlebih, biaya pembuatannya yang tidak jauh berbeda dari BRT, dan pasti lebih murah dari LRT, membuat O-Bahn cukup digemari di beberapa kota besar di dunia.

Baca juga artikel terkait PROYEK LRT atau tulisan menarik lainnya Dio Dananjaya
(tirto.id - Otomotif)

Penulis: Dio Dananjaya
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight