Mengenal Arisan Gaya Baru di Era Toko Online

Oleh: Ringkang Gumiwang - 17 Oktober 2017
Dibaca Normal 3 menit
Sejalan dengan perkembangan teknologi, arisan kini menjadi salah satu metode pembiayaan saat belanja online.
tirto.id - Andi berencana membeli sebuah laptop baru via toko online dengan cara mencicil. Beberapa situs e-commerce sempat ia jajaki. Sebelum menjatuhkan pilihan, Andi mendapat informasi dari seorang kawannya, soal tawaran pembiayaan pembelian barang via aplikasi arisan. Ia sempat bimbang, karena skema ini belum akrab di telinganya.

Akhirnya ia pun mantap menjatuhkan pilihan dengan memakai skema arisan. Fenomena membeli barang dengan arisan akhir-akhir ini memang sedang menjadi tren di media sosial. PT RUMA atau Mapan melalui aplikasi Arisan Mapan menjadi perusahaan aplikasi yang mencoba mengenalkan skema arisan membeli barang.

Misalnya, Andi yang akan membeli laptop seharga Rp5 juta, bisa memilih cara pembayaran dengan skema arisan pada aplikasi Mapan. Syaratnya, Andi harus mencari kawan-kawannya yang punya kebutuhan yang sama untuk membeli laptop. Dengan syarat maksimal lima anggota, maka laptop yang diincar Andi bisa dibeli dengan cicilan Rp1 juta per orang per bulan untuk lima bulan ke depan. Setiap anggota akan mendapat giliran mendapatkan laptop setiap bulan berikutnya.

Baca juga: Profil Konsumen Belanja Online di Indonesia

Skema arisan ini memang butuh kesabaran menunggu antrean. Namun, kelebihan arisan online ini tak seperti membeli barang dengan skema cicilan pada transaksi toko online konvensional. Skema arisan tak ada biaya bunga cicilan dan bebas tambahan biaya layanan sebagaimana yang dipatok perbankan dari setiap transaksi.

Untuk dapat menjalankan skema Arisan Mapan, pembeli harus membuat kelompok arisan di aplikasi Arisan Mapan. Jumlah anggota maksimal masing-masing adalah 15 orang untuk mingguan dan 5 orang untuk bulanan. Seluruh anggota harus didaftarkan ke aplikasi. Segmen bisnis yang diincar oleh oleh aplikasi Mapan ini memang potensial, saat ini kelompok-kelompok grup WhatsApp saja jumlahnya sangat banyak dan jadi pasar yang potensial.

Setelah anggota kelompok sudah terkumpul, maka harus ditentukan satu ketua arisan. Nanti, ketua arisan ini akan bertanggung jawab menyetorkan uang dari anggotanya, sesuai dengan jumlah dan waktu yang ditentukan oleh sistem aplikasi.

Ketua arisan juga nantinya wajib menyerahkan barang yang diterima dari Mapan ke anggota. Pemenang arisan akan ditentukan oleh sistem aplikasi. Di Arisan Mapan, ketua dan anggota arisan tidak dipungut biaya sepeserpun. Dengan skema arisan, anggota arisan termasuk ketua, dapat mendiskusikan nilai setoran dan lama periode arisan. Proses transaksi dapat dilakukan menggunakan dealer payment point, transfer bank atau menggunakan saldo di aplikasi.

Bagaimana dengan risikonya?

Skema arisan memang sudah umum bagi masyarakat Indonesia dari berbasis pertemanan, keluarga atau lingkungan. Namun, sistem "gotong royong" ini memang tak luput dari kelemahan terutama soal komitmen dan wanprestasi para pesertanya. Beberapa kasus koordinator atau ketua arisan justru membawa kabur uang dari anggotanya. Contoh kasus yang terjadi antara lain arisan "Mami Gaul" dan banyak lainnya.

Bagaimana skema Arisan Mapan untuk mencegah risiko semacam ini? PR Manager Mapan Adinda Khairina sangat yakin dengan skema ini, ia menegaskan hampir tidak ada waktu bagi ketua arisan Mapan untuk menyalahgunakan uang arisan dari para anggotanya. “Ketua arisan hanya mengumpulkan uang di hari kocokan, dan langsung menyerahkan uang setoran arisan bulanannya tersebut kepada staf Mapan yang mengantar barang,” katanya kepada Tirto.

Apabila terjadi sengketa atau konflik di kelompok arisan, Adinda menjelaskan hal tersebut akan diselesaikan oleh kelompok yang bersangkutan. Menurutnya, Mapan tidak akan ikut bertanggung jawab. Mapan meyakini kontrol sosial di komunitas mampu meminimalisir kemunculan oknum yang tidak bertanggung jawab. Lama kelamaan, para oknum tersebut akan tereliminasi dengan sendirinya dari jaringan Mapan karena tidak bertahan lama.

Skema arisan Mapan ini pada dasarnya hanya bagian dari perkembangan dari teknologi, pada prinsipnya adalah sama sebagai sebuah arisan. Selain arisan, toko-toko daring atau online sudah banyak menawarkan pilihan pembiayaan untuk membeli barang secara kredit antara lain Tokopedia, Bukalapak dan lain-lain. Namun, persoalannya tak semua masyarakat punya akses pada layanan bank, termasuk kartu kredit yang biasa melayani pembelian barang-barang konsumsi secara online.

Baca juga: Belanja Online dan Hak-hak yang Terabaikan

infografik arisan belanja online


Sebagai Alternatif Pembiayaan

Lembaga pembiayaan di Indonesia cukup beragam, ada yang berbentuk bank dan nonbank. Khusus non bank antara lain koperasi simpan pinjam (KSP), unit simpan pinjam (USP), lembaga dana kredit pedesaan (LDKP), baitul mal wattanwil (BMT), pola pembiayaan Grameen, pola pembiayaan ASA, kelompok swadaya masyarakat (KSM), credit union, termasuk arisan.

Umumnya pembiayaan-pembiayaan itu untuk kepentingan usaha hingga konsumsi masyarakat. Namun, meski banyak pilihan pembiayaan, masih ada masyarakat khususnya menengah bawah yang harus berurusan dengan pembiayaan tidak resmi untuk mendapatkan kebutuhannya.

CEO Mapan Aldi Haryopratomo mengatakan alternatif pembiayaan dengan skema arisan bisa menjadi jawaban bagi masyarakat menengah ke bawah. Menurutnya, arisan lebih relevan untuk diterapkan bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya. Menurutnya selama ini, banyak keluarga Indonesia yang membeli barang melalui jasa keuangan seperti rentenir, dengan harga angsuran yang sangat tinggi dan kualitas barang sangat rendah.

“Arisan yang selama ini dipandang sebelah mata, sebenarnya adalah sebuah support group yang kuat dan mampu mendorong perubahan anggotanya, termasuk perubahan ke arah kemapanan,” katanya kepada Tirto.

Baca juga: Bumerang Inklusi Keuangan

Dengan skema arisan, masyarakat akan dituntut untuk disiplin dalam menyisihkan sebagian uangnya. Pada saat yang bersamaan, adanya arisan juga mendorong para pengikutnya untuk saling mengingatkan dalam perencanaan keuangan.

Kusumaningtuti S Soetiono, Anggota Dewan Komisioner OJK Tahun 2012-2017 yang juga pemerhati edukasi keuangan menilai arisan merupakan langkah konkret dalam meningkatkan literasi keuangan di Indonesia. Pada 2016, literasi keuangan di Indonesia sudah meningkat menjadi 29,66 persen dari sebelumnya pada 2013 sebesar 21,84 persen.

“Salah satu fokus utama pada peningkatan literasi keuangan adalah masyarakat bisa lebih baik dalam merencanakan keuangan keluarga,” katanya.

Namun, di luar persoalan literasi, setiap skema pembiayaan memang memiliki konsekuensi masing-masing terutama bagi para pesertanya, tak kecuali skema arisan. Keputusan bijak untuk tetap hati-hati sebelum memutuskan skema pembiayaan, khususnya dalam mengukur kemampuan bayar agar tak menjadi masalah di kemudian hari. Persoalan yang tak kalah penting adalah memahami syarat dan ketentuan yang berlaku dalam sebuah skema pembiayaan.

Baca juga artikel terkait BELANJA ONLINE atau tulisan menarik lainnya Ringkang Gumiwang
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Ringkang Gumiwang
Penulis: Ringkang Gumiwang
Editor: Suhendra