Mengapa Para Dai Bisa Amat Populer di Media Sosial?

Akun instagram yang digunakan untuk memberikan informasi seputar dakwah. Instagram/@dakwahsocmed
Oleh: Ahmad Zaenudin - 28 Desember 2017
Dibaca Normal 4 menit
Dari Abdul Somad, Khalid Basalamah hingga Gus Mus menggunakan media sosial untuk berdakwah.
tirto.id - Dunia internet, khususnya media sosial, tak hanya berfungsi sebagai hiburan maupun komunikasi antara keluarga atau teman. Media sosial kini bagaikan pasar malam: dikunjungi banyak sekali orang dari segala lapisan. Bahkan, para pendakwah pun turut menyebarkan syiar agama di sana.

Hamzah Sahal, aktivis media Nahdlatul Ulama dan founder alif.id, mengamini hal itu. Menurut penuturannya, media sosial adalah sarana lanjutan dalam berdakwah.

“Watak Islam, kan, dakwah. Ia (pendakwah) akan menggunakan sarana apapun sebagai media dakwah. Media sosial akan menjadi sarana dakwah. Bukan hanya Islam, semua agama menggunakan (sarana) apapun sebagai media dakwah,” terangnya pada Tirto.

Baca juga: Dakwah Islam Malcolm X di Eropa

Hal senada diucapkan Wasisto Raharjo Jati, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Tiga tahun terakhir, Wasisto menekuni fenomena kebangkitan kelas menengah Muslim di Indonesia.

“Itu (dakwah lewat media sosial) adalah dakwah agama yang mengggunakan media baru untuk menyampaikan ajaran agama,” terang Wasisto pada Tirto melalui telepon, Kamis (28/12/2017). Lebih lanjut ia mengungkapkan, penggunaan media sosial merupakan pemecah masalah eksistensi bagi pendakwah, terutama para pendatang baru.

“Ada problematika eksistensi. Eksis di media sosial untuk menjangkau jemaah. Kalau ingin head-to-head di ruang teologis, mereka kesulitan karena dihadang ulama NU dan Muhammadiyah,” terangnya.

Ada cukup banyak media sosial yang populer digunakan berdakwah oleh para dai di Indonesia. Salah satu yang paling lazim dipakai adalah YouTube. Di medium khusus video itu, tayangan dakwah dari berbagai ustaz sering menempati posisi trending alias yang paling laku.

Baca juga: Acara Dakwah jadi Program Hiburan, Lahirlah Ustaz Seleb

Pada YouTube, Ustaz Khalid Basalamah dan Ustaz Abdul Somad adalah contoh pemuka agama yang paling populer. Media Alquran Sunnah, nama kanal YouTube yang sering menggunggah video-video Abdul Somad, telah ditonton lebih dari 38,4 juta kali. Sementara kanal Khalid Basamalah telah ditonton lebih dari 40,5 juta kali.

Di Facebook, kedua ustaz tersebut juga lumayan populer. Laman Khalid Basalamah hingga kini telah di-like 265.000 pengguna. Sementara laman Abdul Somad mendapat like dari 688.000 pengguna.

Pada platform Twitter, tokoh agama yang telah lama hadir adalah K.H. Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus. Ia menjadi salah satu yang terdepan. Hingga kini, ia telah memiliki 1,56 juta pengikut di akun resmi Twitternya, @gusmusgusmu.

Islam Populer & Kehausan Spiritual Masyarakat Urban

Kepopuleran konten-konten dakwah yang disajikan media sosial oleh para pemuka agama disebabkan terutama karena ada audience (pasar) yang memang membutuhkan. Menurut Hamzah, setidaknya ada tiga kriteria pengguna yang menyimak dakwah lewat saluran-saluran media sosial.

Pertama, pengguna yang memiliki keterbatasan waktu. Terutama karena bekerja atau aktivitas lain. Menonton video-video dakwah di YouTube, misalnya, bisa mengatasi permasalahan ini. Dengan berbekal gawai, waktu luang 10 hingga 20 menit, dan koneksi internet, orang-orang sibuk bisa menyimak dakwah.

Kedua, mereka yang malu datang langsung pada pemuka agama. Ini terutama disebabkan oleh umur yang menua, namun tanpa didukung kedalaman ilmu agama. Kalah jika dibandingkan anak atau saudara muda mereka. Menonton video dakwah di YouTube atau membaca unggahan-unggahan bernuansa islami di Facebook menjadi cara terbaik bagi mereka untuk menimba ilmu agama tanpa perlu menunjukkan ketidakberdayaan di hadapan golongan yang lebih muda.

Ketiga, mereka yang ingin belajar secara instan. Fenomena ini jamak terjadi dalam masyarakat kelas menengah urban.

Wasisto mengedepankan terminologi “Islam populer” dalam karyanya bertajuk “Islam Populer Sebagai Pencarian Identitas Muslim Kelas Menengah Indonesia” yang dimuat dalam Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam (2015). Terminologi tersebut mengacu pada modernisasi terhadap nilai-nilai budaya Islam dalam masyarakat. Dengan kata lain, ia merupakan sebentuk akulturasi dunia modern dengan Islam.

Islam populer, menurut Wasisto, dijadikan strategi adaptasi oleh masyarakat muslim untuk menghadapi dinamika zaman tanpa meninggalkan identitas keislamannya.

“Islam populer bisa dimaknai dua hal: pertama syariatisasi pasar, kedua kapitalisasi Islam. Kedua perspektif membawa makna berbeda. Dakwah di media sosial itu kapitalisasi pasar, karena ada semacam adaptasi Islam terhadap pasar. Begitupun sebaliknya, bagaimana Islam beradaptasi di era modern. Makanya menggunakan ikon pop culture (seperti Youtube, Facebook, dan Twitter),” terangnya menjelaskan makna Islam populer lewat sambungan telepon.

Secara tak langsung, media sosial yang dipelopori perusahaan-perusahaan teknologi asal Barat merupakan simbol modernitas. Dan konten-konten agama yang kemudian hadir di platform modern itu merupakan bentuk akulturasi antara umat dan kemajuan zaman.

Komersialisasi Agama

Fenomena dijadikannya media sosial sebagai sarana dakwah sesungguhnya bukanlah hal yang mengherankan. Media sosial hanyalah perluasan medium dakwah. Persis seperti apa yang diungkap Hamzah di awal. Pada awal dekade 2000-an, SMS alias pesan singkat pada ponsel, digunakan sebagai medium dakwah para pemuka agama.

Greg Fealy dalam Ustadz Seleb, Bisnis Moral, dan Fatwa Online: Ragam Ekspresi Islam Indonesia Kontemporer (2012) mengemukakan, dakwah melalui SMS merupakan salah satu cara inovatif yang diketemukan para pengusaha muslim untuk mempopulerkan pesan-pesan keagamaan. Secara lebih luas, pemanfaatan SMS sebagai sarana dakwah merupakan bagian dari menguatnya nilai-nilai islami dalam kehidupan masyarakat Indonesia—hal yang menurut Fealy tak terjadi di dekade 1960-an.

Baca juga: Tak Ada Demo dan Dakwah Tanpa Toa

Pada masa keemasan SMS premium keagamaan, yakni di tahun 2006, Fealy mengatakan bahwa terdapat 500.000 pelanggan layanan tersebut. Ustaz Jeffry Al Buchory alias Uje, Ustaz Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym, dan Ustaz Yusuf Mansur, merupakan contoh dai-dai yang sukses memanfaatkan metode dakwah itu.

Uje disukai karena merepresentasikan muslim kelas menengah dalam konteks pertobatan. Ini sesuai dengan masa lalu Uje sebagai pengguna obat-obatan terlarang. Yusuf Mansur sukses dengan layanan SMS bertajuk “Kun Fayakun” yang menyasar para eksekutif paruh baya yang percaya atas kekuatan derma.

Sementara Aa Gym sukses melalui SMS berjudul “Alquran Selular” yang menyasar masyarakat secara umum. Sayangnya, khusus bagi Aa Gym, layanan tersebut menukik dalam hal jumlah pelanggan akibat keputusan sang dai menikah lagi. Dari 220 ribu pelanggan, turun hingga setengahnya di awal 2007.

Baca juga:
Menguatnya dakwah melalui SMS kala itu terjadi terutama karena perilaku keagamaan yang berubah atas kehadiran globalisasi dan modernisasi. Penduduk kota yang memiliki perbedaan sifat dibandingkan pendahulu mereka—seperti memiliki akses informasi lebih luas, lebih sering ke luar negeri, dan kemudahan berhubungan dengan kelompok—harus mencari sumber-sumber bimbingan moral baru.

Penduduk kota inilah, menurut Fealy, yang menjadi “klien yang bisa memilih secara bebas sumber-sumber”.

SMS premium, di sisi lain, merupakan upaya pengusaha muslim memperoleh keuntungan. Dalam konteks dakwah, format SMS ini dirancang bukan untuk memberi ilmu agama bertaraf tinggi. SMS premium berkonten agama lebih menekankan pada kenyamanan pribadi yang diarahkan guna menanggulangi kecemasan spiritual para pelanggan dalam menghadapi modernitas.

Secara sederhana, SMS premium sesungguhnya memiliki banyak kesamaan dengan dakwah melalui media sosial. Pertama, tentu saja, soal keuntungan. Ada putaran uang yang tak sedikit yang mengalir dalam SMS premium maupun video-video dakwah yang dikonsumsi masyarakat.

Kanal YouTube Khalid Basamalah bisa dijadikan salah satu contoh. Merujuk aplikasi SocialBlade, layanan analisis media sosial, kanal tersebut diperkirakan memperoleh pendapatan antara $421 hingga $6.700 per bulan—suatu angka yang melewati standar pendapatan rata-rata orang Indonesia.

“Dai di era sekarang itu bukan lagi seorang pendakwah, tapi marketer, motivator, dan presenter,” kata Wasisto.

Kedua, soal isi dakwah. Jika kita melihat video-video di YouTube, pembahasan lebih pada hal-hal yang terkesan santai atau kontroversial. Misalnya video berjudul “Tanya Jawab Kocak !!! Takut Dapat Suami Cingkrang” atau “Ustadz Somad !! Orang Kafir Marah Disebut Kafir” yang diunggah kanal Media Alquran Sunnah dengan menampilkan Abdul Somad sebagai pendakwah.

Hamzah mengatakan, sesungguhnya dakwah berisi konten kontroversial telah ada sejak lama. Namun keadaan menjadi begitu lain manakala media sosial hadir.

“Menyebut kafir biasa di lingkungan sendiri. Dulu ini tidak menjadi problem karena tidak tersiarkan. Fenomena menjelekkan orang, menyalahkan orang, dan lain-lain, sejak dulu terjadi tapi dalam ruang terbatas. Hari ini semuanya terbuka. Kelemahan para ustaz (yang menggunakan media sosial untuk berdakwah), dia tidak mengerti ceramahnya punya efek yang besar,” terang Hamzah.

Terkait aspek pendapatan dari dakwah juga bukan baru-baru ini saja terjadi melalui kapitalisasi aset-aset digital di media sosial. Jamak para pendakwah mendapatkan honor atau pengganti transport dari jemaah yang mengundangnya ceramah. Hal ini dialami dari dai kondang macam Zainuddin M.Z.. dulu hingga para kiai-kiai di kampung.


Radikalisasi lewat Media Sosial

Masih dalam artikelnya, Wasisto mengatakan terdapat dua bentuk islamisasi yang terangkum dalam kerangka Islam populer, yaitu skriptural dan substansial. Islamisasi skriptural ialah proses islamisasi dalam masyarakat yang menekankan pengajaran nilai-nilai Alquran dan hadis secara literal. Ini yang kerap ditemui pada konten-konten keagamaan di media sosial.

“Pemaknaan kesalehan kita masih simbolik. Belum menyentuh taraf substansial. Yang penting syar'i dulu,” tegas Wasisto.

Kehadiran dakwah islami dalam balutan SMS premium maupun media sosial yang dikonsumsi masyarakat kota dan berbeda sifat dibandingkan pendahulunya mengundang cukup banyak kekhawatiran. Fealy menyatakan, kekhawatiran itu terkait perubahan sifat pokok Islam Indonesia dari pluralis, toleran, dan telah diindigenisasi menjadi lebih ke arab-araban, puritan, dan radikal.

Baca juga: Sulitnya Merontokkan Radikalisme

Namun, di luar kekhawatiran itu, mencari ilmu agama melalui media sosial maupun internet yang baik dan benar sesungguhnya dimungkinkan. Hamzah mencontohkan bagaimana kata kunci dalam pencarian Google berperan erat pada ilmu yang akan didapat si pencari. Kata kunci yang hanya berkutat pada masalah salafi, menghasilkan rujukan-rujukan salafi semata. Perlu kedalaman dan variasi kata kunci untuk mendapat ilmu agama yang memadai melalui internet.

“Sebetulnya kalau tertib, urut, dan disiplin [dalam memaksimalkan mesin pencari], itu cukup sebetulnya. Sangat menguntungkan bagi orang yang tidak sempat datang ke guru,” tutup Hamzah.

Baca juga artikel terkait DAKWAH atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight