Kultum Quraish Shihab

Memahami Kata "Iqra" dan Pelajaran Membaca dari Abbas Mahmud

Oleh: M. Quraish Shihab - 7 Juni 2018
Dibaca Normal 3 menit
Membaca bukan hanya bermanfaat, tapi juga sangat penting. Perintah Allah yang pertama kepada Nabi Muhammad adalah "membaca".
Sungguh mengherankan perintah pertama Tuhan kepada Nabi Muhammad dalam wahyu-Nya yakni Iqra ("bacalah!"). Betapa tidak, beliau diperintahkan membaca padahal beliau adalah seorang yang tidak pandai baca tulis. Namun demikian keheranan itu segera akan sirna begitu kita menyadari bahwa membaca adalah tangga menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Perintah pertama itu tidak menyebut obyek bacaan tetapi menyebut motivasi dan tujuan membaca yakni bismi rabbika yakni "dengan atau demi karena Tuhanmu".

Iqra pada mulanya berarti "menghimpun". Jika ada kata misalnya “membaca” maka sebelum Anda mengucapkannya dengan lidah atau di dalam benak, Anda sebenarnya melihat ketujuh huruf itu satu persatu terlebih dahulu (M-E-M-B-A-C-A). Setelah itu memperurutkannya lalu menghimpunnya dan seketika itu, setelah terjadi aneka proses yang sangat cepat, lahirlah bacaan yang berbunyi “membaca”.

Sungguh luar biasa mata dan otak kita. Sedemikian cepatnya ia bekerja sehingga lahir bacaan. Semakin terbiasa Anda membaca, atau semakin terlatih Anda, semakin cepat pula proses tersebut.

Kata iqra juga sangat menakjubkan. Kata ini dalam aksara Arab terdiri dari huruf-huruf qaf, ra dan hamzah. Ketiga huruf tersebut, betapapun Anda mengotak-ngatik susunannya, dia tetap mempunyai makna.

Anda dapat mendahulukan huruf hamzah disusul dengan qaf dan ra sehingga dapat membaca kata aqarra yang antara lain bermakna "mengakui" atau "mantap dan tenang". Anda juga dapat mendahulukan hamzah lalu meletakkan huruf ra di tengahnya dan huruf qaf di akhirnya, sehingga terbaca ariqa, yakni "gelisah" atau "sulit tidur".

Kesemuanya dapat mengisyaratkan bahwa kalau Anda tidak membaca, maka Anda akan gelisah dan kalau gelisah maka Anda tak dapat tidur dan ketika itulah Anda tidak akan merasakan ketenangan. Sebaliknya kalau membaca, maka Anda akan tenang, akan memperoleh pengetahuan dan kehidupan.

Ketika itu ketenangan yang Anda tahu melalui insting, bahwa Anda lapar maka Anda bergerak untuk mencari makan. Kalau Anda tidak tahu, misalnya, tempat merasakan ketenangan maka pasti Anda akan gelisah, tidak menemukan bukan saja tempat tidur, tetapi juga tidak dapat tidur.

Demikianlah membaca kita lakukan supaya kita tahu. Seseorang tahu supaya tidak gelisah (ariqa) dan bila dia tidak gelisah, maka dia akan tenang dan mantap (aqara/istiqarra).

Membaca sebagai Lambang Tindakan

Selanjutnya perlu diketahui bahwa kata iqra digunakan untuk obyek apapun. Kita dituntut oleh kata pertama dalam wahyu itu untuk membaca apa saja yang tertulis atau yang terhampar, yang buruk pun boleh dibaca selama motivasinya adalah bismi rabbika.

Makanya seorang arif pernah berkata:

Aku berusaha tahu yang buruk, bukan untuk melakukannya, tetapi untuk menghindarinya.
Siapa yang tak mengenal keburukan, maka dia dapat terjerumuskan ke dalamnya.

Mari kita penuhi tuntutan Allah yang memerintahkan membaca, dan mensyukuri anugerah-Nya itu dengan mengamalkan tuntunan-Nya. Dia memerintahkan Nabi-Nya, dan termasuk juga kita semua, bahwa iqra bismi rabbika yakni bacalah dengan nama atau demi nama Tuhanmu.

Menurut Syeikh ‘Abdul Halim Mahmud, mantan pemimpin tertinggi Al-Azhar Mesir, yang juga guru dari penulis, pernah mengatakan:

“Membaca disini adalah lambang dari segala apa yang dilakukan oleh manusia, baik yang sifatnya aktif maupun pasif. Kalimat tersebut dalam pengertian dan jiwanya ingin menyatakan 'bacalah demi Tuhanmu, bergeraklah demi Tuhanmu, bekerjalah demi Tuhanmu'.

Demikian pula jika Anda berhenti bergerak atau berhenti melakukan sesuatu aktifitas, maka hendaklah hal tersebut didasarkan juga pada bismi rabbika, atau "jangan/tidak lakukan itu demi karena Tuhanmu! Berhentilah melakukan keburukan demi karena Tuhanmu, dan seterusnya’, sehingga pada akhirnya ayat tersebut berarti ‘jadikanlah seluruh kehidupanmu, wujudmu, dalam cara dan tujuannya, kesemuanya demi karena Allah."

Demikian lebih kurang pendapat dari guru penulis sendiri, Syeikh ‘Abdul Halim Mahmud. Semoga kita berhasil memenuhi tuntutan itu.


Pelajaran dari Abbas Mahmud al-Aqqad

Penulis juga ingin sedikit menyinggung sosok Abbas Mahmud al-Aqqad (1889-1964 M), seorang cendekiawan terkemuka Mesir, sastrawan dan kritikus sekaligus ulama dan wartawan. Ia sesungguhnya tidak menyelesaikan pendidikan tinggi. Namun, kepakarannya sangat mengagumkan. Karya tulisnya sangat banyak.

Tokoh ini pernah menulis bahwa ia membaca karena tanpa membaca maka hidup hanya satu, sedangkan ia hendak hidup lebih dari satu hidup. Yang dapat memberi hidup lebih dari satu hidup hanyalah bacaan, karena dengannya hidup semakin bermakna dan semakin dalam.

Abbas Mahmud al-Aqqad pernah menulis:

“Ide Anda hanya satu, demikian juga perasaan dan imajinasi. Tetapi bila hal itu bertemu dengan ide, rasa dan imajinasi yang lain, maka ketika itu yang lahir bukan hanya dua ide, rasa dan imajinasi, tetapi banyak sekali sehingga tidak terhitung jumlahnya. Ini serupa dengan seorang yang duduk di antara dua cermin. Ia tidak melihat hanya satu gambar dirinya, tidak juga hanya dua, tetapi banyak sekali pandangannya ke seluruh penjuru cermin itu. Di dunia perasaan pun begitu. Jika Anda menggabungkan perasaan Anda dengan perasaan orang lain, maka gabungan cinta itu akan berkembang dan berkembang sehingga meluap ke mana-mana.

Nah, demikian juga dengan membaca. Betapapun manusia makan, maka dia tidak dapat memenuhi kecuali memenuhi satu pencernaannya saja. Betapapun dia berpakaian, maka dia tidak dapat menutupi kecuali satu jasadnya. Betapapun dia dapat bepergian ke mana saja, namun dia hanya bisa berada di satu tempat saja. Tetapi bila dia membaca, maka dia dapat mengumpulkan sekian banyak ide, rasa dan imajinasi dalam benaknya dan dengan demikian dia tidak hanya memiliki satu hidup saja”.

Kendati demikian, tidak bisa tidak, Anda tidak boleh hanya sekadar membaca tanpa berpikir. Membaca tanpa berpikir bisa menjadikan seseorang bagaikan pecandu narkoba, yang berusaha lari dari kenyataan, merasakan kenikmatan sesaat, sambil lupa berpikir tentang akibat apa yang dimakannya itu.

Jangan sekali-kali juga berkata, “Tidak ada waktu untuk membaca”. Ini adalah ucapan nafsu yang membohongi diri sendiri. Anda dapat membaca di bus, di kereta api, di stasiun bahkan di kamar kecil apalagi di kamar yang besar.

Anda tidak harus juga menggunakan waktu yang banyak. Kalau Anda membiasakan diri membaca, maka Anda dapat membaca sekitar 300 kata -- bukan huruf -- dalam semenit. Ini berarti dalam 15 menit anda dapat membaca sekitar 4500 kata. Dalam sebulan, jika hanya menggunakan 15 menit itu, Anda dapat menyelesaikan 126.000 kata. Kalau rata-rata satu buku saku memuat sekitar 6000 kata, maka itu berarti setiap bulannya anda dapat membaca dua buku. Ini baru dengan menggunakan waktu 15 menit.

Tetapi, kendati sudah sangat rajin membaca, jangan berpikir dengan membaca 24 jam sehari Anda dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Anda masih akan sangat jauh ketinggalan. Memang sejak dahulu peribahasa Arab pernah mengilustrasikan pengetahuan dengan kalimat:

“Berilah dirimu semua kepadaku, nanti akan kuberikan padamu sebagian diriku”.

Sungguh sangat wajar sekali Allah memulai wahyu-Nya kepada Nabi Muhammad SAW dengan perintah membaca. Kini semakin terbukti bahwa hanya orang dan masyarakat yang membaca yang dapat hidup sejahtera. Semoga kita termasuk di antara mereka. Amin.

=======

*) ) Naskah dinukil dari buku "Dia di Mana-Mana: Tangan Tuhan di Balik Setiap Fenomena yang diterbitkan oleh penerbit Lentera Hati. Pembaca bisa mendapatkan karya-karya Prof. Quraish Shihab melalui website penerbit.

Kultum Quraish Shihab

Baca juga artikel terkait KULTUM QURAISH SHIHAB atau tulisan menarik lainnya M. Quraish Shihab
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: M. Quraish Shihab
Editor: Zen RS
DarkLight