tirto.id - Pembangunan proyek strategis nasional yaitu Pelabuhan Patimban terus dikebut. Salah satunya yakni pembangunan jalan Tol akses Pelabuhan Patimban menuju Tol Cipali.
Proyek pembangunan jalan tol ini menuai keluhan dari masyarakat Desa Rancahilir, Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang. Pasalnya, lalu lalang kendaraan berat di sana membuat Desa Rancahilir terkepung debu jalanan.
Salah satu warga, Suheni (55), mengeluhkan satu keluarga pernah mengalami sesak napas akibat paparan debu, belum lagi jemuran kerap kotor dan tembok rumah retak.
“Debu bertebaran karena alat berat lewat tanggul, jemuran kotor dan rumah pada retak. Dulu pernah sakit sekeluarga sesak napas,” ungkap wanita yang kerap disebut Ami saat ditemui langsung oleh tim Subang Info pada Rabu, (30/4/2025).
Warga lainnya bernama Komarudin menceritakan bahwa sebelumnya ada kesepakatan antara pihak perusahaan dan Kepala Desa Rancahilir. Kesepakatan tersebut berisi pernyataan bahwa alat berat tidak menggunakan jalan desa, melainkan menggunakan jalan inspeksi banjir Sungai Cipunagara (Tanggul) di Desa Mulyasari Kecamatan Pamanukan.
“Sudah ada surat kesepakatan antara desa dan perusahaan, tapi faktanya sekarang menggunakan jalan desa. Harusnya menggunakan tanggul di Desa Mulyasari,” ungkap Komarudin saat diwawancara langsung.
Dampak tingginya debu akibat lalu lalang kendaraan bera ini merugikan masyarakat. Komarudin dan warga Desa Ranacilir lainnya berharap proyek jangka panjang ini tidak mengganggu aktivitas dan kesehatan warga, tapi juga tidak merugikan perusahan.
“Proyek jangka panjang ini jangan sampai merugikan warga, sudah banyak warga yang sakit, bahkan kompensasipun tidak merata,” tutup Komarudin.
Penulis: Subang Info
Editor: Rina Nurjanah
Masuk tirto.id































