Menuju konten utama

Masjid Dinilai Bukan Tempat untuk Kampanye

Abdul Mujib megatakan, bila marak ujaran kebencian yang masuk ke dalam masjid, maka orang yang semula datang ke masjid untuk mencari ketenangan, sekarang justru menjadi gelisah dan marah.

Masjid Dinilai Bukan Tempat untuk Kampanye
Ilustrasi serambi masjid. FOTO/Istockphoto

tirto.id -

Mohammad Abdul Mujib, Pimpinan Ponpes As Sa'ada di Depok mengatakan masjid bukan merupakan tempat untuk ajang kampanye politik praktis atau mendukung salah satu pasangan capres-cawapres serta calon anggota legislatif.

"Tempat ibadah, khususnya masjid sebaiknya tidak dijadikan sebagai ajang kampanye atau memihak suatu golongan politik sebab berbagai pemahaman Islam (NU, Muhammadyah, Permusi, dan lain-lain) bisa berada di dalam masjid," kata Mohammad Abdul Mujib, Selasa (9/4/2019).

Abdul Mujib juga meminta agar masjid digunakan untuk mewadahi seluruh aliran keagamaan tersebut.

Jika masjid sebagai sarana ibadah lantas dibawa ke politik praktis ia mengatakan itu akan berimbas kepada kelompok-kelompok aliran tersebut.

Abdul Mujib menambahkan, apabila marak ujaran kebencian yang masuk ke dalam masjid, maka orang yang semula datang ke masjid untuk mencari ketenangan, sekarang justru menjadi gelisah dan marah.

"Namun kalau masjid digunakan untuk menyampaikan nilai-nilai kejujuran dan kebangsaan itu tidak apa," kata Mujib yang juga Wakil Rois Suriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Depok, sekaligus Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Depok.

Mewakili kalangan ulama, ia berharap semua pemuka agama agar bersama-sama mengembalikan fungsi masjid sesuai dengan peruntukkannya, yakni fungsi asli yang tidak membawa politik praktis karena akan membahayakan fungsi masjid.

"Kita harus mengembalikan fungsi masjid sebagai fungsi tempat ibadah, dakwah dan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT," ujarnya.

Abdul Mujib juga mengatakan bahwa tugas bersama para tokoh masyarakat atau pemuka agama adalah memberikan pencerahan (pemahaman) pada masyarakat.

Menurutnya agama sebaiknya jangan dibawa langsung ke ranah politik. Masuknya praktik politik praktis menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memberikan pencerahan dari waktu ke waktu.

"Insyaallah ke depan, ketika masyarakat makin terdidik dan terpelajar, akan makin terpahami fungsi agama dan kedudukannya dalam berpolitik," kata Abdul Mujib.

Ia juga menegaskan bahwa memberikan kesadaran dan pemahaman kepada masyarakat luas harus segera dilaksanakan sebab itu membutuhkan proses dan waktu yang tidak sebentar.

"Saya optimistis pemilu kali ini akan berjalan aman dan damai," katanya.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019

tirto.id - Politik
Sumber: Antara
Penulis: Nur Hidayah Perwitasari
Editor: Nur Hidayah Perwitasari