Masalah Terkait Demensia Intai Bonus Demografi di Masa Depan

Penulis: Aditya Widya Putri - 13 Jun 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Populasi lansia di Indonesia diperkirakan meningkat tiga sampai empat dekade lagi. Perlu waspada pada ancaman demensia dan penyakit degeneratif lain.
tirto.id - Tiga sampai empat dasawarsa lagi piramida penduduk di Indonesia akan didominasi oleh kelompok usia tidak produktif. Itu adalah buah dari bonus demografi saat ini. Masalahnya, peta kesejahteraan fisik lansia di Indonesia masih disesaki oleh beragam masalah, salah satunya peningkatan penyakit degeneratif.

Jangan bayangkan lansia seperti Madonna yang masih tampil energik di usia senja. Lansia di Indonesia identik dengan penurunan kemampuan fisik dan kognitif. Pikun, begitulah kita lazim menyebutnya, merujuk pada kelainan tingkah laku atau ketidakmampuan lansia dalam mengingat sesuatu.

Faktanya, kondisi di lapangan menunjukkan penyakit degeneratif yang lebih genting dibanding sekadar pikun biasa. Pada 2015, Alzheimer's Disease International (ADI) memperkirakan ada 1,2 juta orang dengan demensia (ODD) di Indonesia. Jumlah ini diproyeksikan bakal meningkat menjadi 4 juta pada 2050.

Lebih dari 20 persen lansia mengalami gangguan memori yang mengganggu aktivitas sehari-hari,” ungkap Yuda Turana, neurolog sekaligus guru besar UNIKA Atma Jaya, dalam acara peringatan Hari Lanjut Usia Nasional yang digelar Alzheimer’s Indonesia (ALZI) beberapa waktu lalu.

Selain itu, ada beberapa gejala lain seperti gangguan daya ingat, sulit fokus, sulit melakukan kegiatan sehari-hari, disorientasi tempat dan waktu, sulit memahami visio-spasial, sulit berkomunikasi, menaruh barang tidak pada tempatnya, salah membuat keputusan, menarik diri dari pergaulan, dan perubahan perilaku serta kepribadian.

Saat ini, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2020, jumlah penduduk lansia mencapai 10 persen dari total penduduk Indonesia—meningkat 2 persen sejak 2010. Tiga provinsi memiliki jumlah lansia melebihi 14 persen, yakni Yogyakarta, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.


Saat ini, Generasi Z dan Milenial menjadi penduduk dengan proporsi terbanyak—dengan persentase masing-masing sebesar 27,94 persen dan 25,87 persen dari total penduduk. Jika tiga atau empat dasawarsa lagi mereka menjadi lansia dan persoalan demensia belum tertangani dengan baik, bonus demografi justru akan menjadi tambahan beban kesehatan bagi negara.

“Demensia merupakan disabilitas yang tidak terlihat dan merupakan ancaman bagi bonus demografi Indonesia.

Tekanan pada Pengasuh

Setelah terdiagnosis, ODD hanya dapat bertahan hidup sekira 8-10 tahun. Hingga saat ini, demensia merupakan salah satu penyakit yang belum bisa disembuhkan. Di Indonesia pun, hanya ada tiga rumah sakit yang khusus menangani diagnosis ini. Satu berada di Surabaya, sementara dua lainnya di Jakarta.

Jika melihat dimensi masalahnya, demensia bukan cuma penyakit yang mempengaruhi satu orang saja. Lebih dari itu, efek dominonya menjalar ke aspek lain karena pada satu titik dalam hidupnya, ODD akan sangat bergantung pada pengasuh.

Data yang dihimpun World Alzheimers Report 2019 menunjukkan hanya kurang dari 6 persen orang Indonesia yang setuju dengan panti jompo. Di negara ini, para pengasuh lansia lazimnya adalah keluarga terdekat yang berada dalam usia produktif.

Dengan kondisi demikian, diagnosis demensia pada satu orang akan berdampak pada seluruh anggota keluarga. Perawatan berkelanjutan selama 8-10 tahun tentu menguras finansial dan menguji mental. Banyak keluarga melaporkan tekanan emosional, beban keuangan, pengucilan sosial, stigma, dan kurangnya keseimbangan antara pekerjaan dan sistem dukungan yang memadai.

Infografik Ancaman demensia
Infografik Ancaman demensia dari bonus demografi Indonesia. tirto.id/Sabit


Hampir 40 persen pengasuh mengaku menghabiskan Rp1-3 juta per bulan untuk merawat anggota keluarga dengan demensia. Sementara itu, 15 persen menghabiskan Rp5-10 juta per bulan. Artinya, total biaya perawatan berkisar antara Rp12-120 juta per tahun,” ungkap studi internal ALZI.

Beban finansial ini tak bisa dibilang sedikit sebab pendapatan per kapita di Indonesia masih berada di angka Rp59 juta per tahun (2019). Selain menguras finansial, para pengasuh ini bisa dibilang kelabakan membagi waktu antara kehidupan mereka dengan pengasuhan. Rata-rata beban pengasuhan ini memangkas lebih dari 4,7 jam waktu mereka dalam sehari.

Dan, ya, lagi-lagi beban pengasuhan ini paling sering dipikul oleh anak perempuan dewasa. Sebagai generasi sandwich yang harus mengurus orang tua, suami, serta anak, mereka jadi rentan terhadap gangguan produktivitas kerja, stabilitas keuangan, serta kesehatan mental dan fisik. Apalagi jika pada akhirnya mereka terpaksa berganti kerja demi merawat orang tua.

Ketika produktivitas kelompok produktif ini terganggu, demensia tidak lagi hanya menjadi masalah kesehatan, tapi juga masalah sosial ekonomi. Ia membawa dampak psikososial dan ekonomi signifikan pada keluarga, masyarakat, dan negara.

“Kondisi yang dialami oleh lansia ini tidak boleh diterima dengan pasrah. Deteksi dini dapat membantu keluarga menghindari beban psikologis dan finansial yang lebih berat,” kata Yuda.

Di sisi negara, sejatinya sudah ada ketetapan yang menjadi jaring pengaman demensia di Indonesia, yakni Permenkes No. 4/2019. Aturan itu menyebut setiap orang tua (berusia 60 atau lebih) berhak atas skrining kognitif tahunan di Puskesmas.

Namun, kita semua sama-sama tahu bagaimana kualitas fasilitas kesehatan tingkat pertama di Indonesia. Proses skrining fisik di sini kadang kala masih terkendala alat, apalagi skrining kognitif. Namun, berharap tentu boleh-boleh saja, semoga sebelum bonus demografi saat ini menua, fasilitas itu sudah tersedia merata di Indonesia.

Baca juga artikel terkait PENYAKIT DEGENERATIF atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight