Mari Berkenalan dengan Bikini

Oleh: Dea Anugrah - 2 Oktober 2016
Dibaca Normal 3 menit
Keberadaan pakaian bikini sudah melalui proses panjang, cikal bakalnya jauh sudah ada sejak zaman Romawi. Namun bikini sesungguhnya muncul setelah perang dunia kedua, pada 1946.
tirto.id - Tujuh belas abad lalu, sebuah rumah gedong didirikan sekitar 3 kilometer di luar kota Piazza Amerina, Sisilia. Ia kemudian tertimbun longsor dan diabaikan sekalipun bagian-bagiannya yang tertinggi masih berada di atas permukaan tanah. Di atas lahan itu, orang-orang bertani dan menggembalakan ternak.

Bangunan itu, Villa Romana del Casale, kemudian diketahui punya koleksi mosaik Romawi yang amat kaya. Pada 1950-60, arkeolog Gino Vinicio Gentili menemukan sejumlah mosaik bergambar perempuan pada lantainya. Yang menarik dari temuan itu: para perempuan tersebut mengenakan pakaian yang kini kita kenal dengan nama bikini. Pada masa bangunan itu didirikan, “bikini” ialah pakaian olahraga yang lazim dikenakan para atlet.

Menurut Beth Duncuff Charleston dari The Metropolitan Museum of Art, pada dasarnya bikini ialah pakaian renang dua potong (two-pieces) yang terdiri dari atasan berupa bra dan bawahan berupa kancut yang dikenakan di bawah pusar.

Meski pakaian itu punya asal-usul yang dapat dilacak hingga zaman Roma dan Yunani Kuno, istilah yang kini umum mewakilinya, bikini, baru muncul pada 1946, lewat insinyur mobil sekaligus pebisnis pakaian dalam asal Perancis yang bernama Louis Reard. Model pertamanya ialah penari telanjang bernama Michele Bernardini.

Reard mencopet nama itu dari Pulau Karang Bikini, bagian dari Kepulauan Marshall, tempat tentara Amerika Serikat melakukan percobaan bom atom pada periode tersebut.



Menurut data perusahaan riset pasar NPD Group, pendapatan tahunan global industri pakaian renang saat ini adalah 13,25 miliar dolar; sedangkan belanja bikini perempuan di Amerika Serikat senilai 8 miliar dolar per tahun.

Tentu popularitas itu tak tercipta dalam semalam. Pada awalnya, meski disambut oleh banyak perempuan Perancis, bikini yang lebih terbuka ketimbang pakaian renang satu potong (one-piece) itu dianggap cabul oleh media dan khalayak. Vatikan bahkan menempelkan label dosa padanya.

Pada 1951, para peserta kontes kecantikan Miss World memakai bikini dalam salah satu sesi acara. Namun, pada kontes tahun berikutnya bikini tak lagi dilibatkan karena tekanan masyarakat.

Popularitas bikini akhirnya tak terbendung saat tanggul "moralitas palsu" yang menahannya dijebol oleh aktris cantik Briggite Bardot pada 1953. Ia dipotret dalam keadaan memakai bikini di pantai pada festival film Cannes. Kemudian Rita Hayworth dan Ava Gardner menyusul.

Pada awal 1960an, sampul Playboy mulai menampilkan model yang mengenakan bikini. Artinya, pakaian itu telah jadi bagian dari gagasan umum tentang kemolekan perempuan. Di masa itu, Raquel Welch bahkan dielu-elukan sebagai simbol seks dunia berkat bikini kulit pelanduk yang ia kenakan dalam film One Million Years B.C (1966).

Laju bisnis bikini memang perlahan, tetapi ia mengembang secara ajek. Menurut Lorna Edwards dalam sebuah artikel di The Age, pada awal 2000an bikini telah jadi bisnis senilai 811 juta dolar Amerika Serikat per tahun.

Sebaliknya, luas bagian tubuh yang tertutupi oleh pakaian renang malah terus berkurang. Pada abad ke-18, pakaian mandi perempuan adalah gaun longgar berlengan panjang dengan rok yang memanjang sampai betis. Kemudian, di awal abad ke-19, rok naik ke lutut sementara betis ditutup menggunakan celana tambahan. Lalu, selang beberapa dekade, lengan gaun raib dan rok naik ke pinggang dan ujung celana surut ke dengkul.

Saat Perang Dunia kedua berlangsung, tren itu mengalami percepatan di Amerika Serikat tersebab krisis kain. Pada 1943, pemerintah mengeluarkan kebijakan pengurangan kain sebanyak 10 persen dari pakaian renang perempuan. Maka, waktu itu, di pantai-pantai Amerika Serikat mulai banyak perempuan terlihat mengenakan pakaian renang yang lebih minim ketimbang sebelumnya, sekalipun tak persis rancangan Reard yang hanya terdiri dari empat buah kain segitiga: dua untuk payudara, satu untuk selangkangan dan satu lagi untuk pantat.

Meski umumnya latar yang terbayang ketika membicarakan bikini era 1960-70an ialah pantai-pantai California yang dipenuhi muda-mudi cinta damai, sebetulnya loko industri itu tetap berada di Prancis, dengan produk andalan berupa bikini tali (string bikini). Jenis ini bahkan lebih hemat kain ketimbang pendahulunya, dengan penutup dada yang lebih kecil dan kancut bertali yang dipelorotkan ke pinggul. Di sanalah Bardot, yang sesekali membiarkan susunya menggantung seperti sepasang pepaya muda, memantik ledakan popularitas bikini.

Enam dekade setelah penemuan Reard, pakaian paling minim yang dianggap patut dikenakan di tempat-tempat umum itu tetap bertahan. “Bikini modern yang dicintai dan dibenci perempuan dengan dosis setara ini,” tulis Edwards, “masih berjaya … Pakaian ikonik yang setua baby boomer paling tua ini telah melorot sejauh garis belang tanning dimungkinkan dan tetap sanggup menarik minat orang buat mengenakannya.”

Menurut Edwards, salah satu alasan utama ketidaksukaan kaum perempuan terhadap bikini ialah kenyataan keras bahwa bikini mengenyahkan rahasia dari tubuh mereka. “Bikini adalah hal terdekat kepada ketelanjangan yang bisa diterima khalayak,” tulisnya. “Namun, tak semua orang menginginkan perhatian yang demikian besar terhadap tubuh mereka ... termasuk selebriti yang senang mencari-cari perhatian.”

Foto bokong yang hanya “terlindungi” tali g-string dengan keterangan brutal "bintang berselulit" di sampul sebuah majalah, misalnya, tentu tak mengenakkan bagi pemiliknya, siapa pun dia.

Menurut Jess Cartner-Moller dari Guardian, tahun ini bikini mengalami titik balik. Meski bisnis pakaian renang tampak stabil, para peritel melaporkan peningkatan penjualan pakaian renang satu potong—30 persen setahun di Selfridges dan 65 persen di Figleaves—sedangkan Victoria’s Secret menutup lini “Swim” yang berfokus pada bikini dan berencana menggunakan ruang yang ditinggalkan lini itu di toko-toko mereka untuk produk-produk athleisure seperti celana yoga dan legging.

“Masalahnya bukan bikini kelewat seksi untuk 2016,” tulis Cartner-Moller, “Melainkan bahwa ia mewakili daya tarik seksual yang kini telah luntur.”

Pada satu sisi akses internet yang mudah dan tak berujung terhadap ketelanjangan menjadikan bikini terkesan seperti menggarami laut. Dan di sisi lain, gagasan ideal “tubuh bikini” yang menyertai pakaian tersebut ialah konsensus yang saat ini sedang goyah sebab kena gempur dari segala sisi, baik oleh pihak konservatif—dengan dasar moralitas agama—maupun pihak progresif yang menentang objektifikasi terhadap tubuh perempuan.

“Bikini menampilkan diri sebagai sesuatu yang provokatif sekaligus terhormat,” tulis Cartner-Moller, “dan sekarang, itu adalah jalur yang semakin sukar dijalani.”

Belakangan ini, jenis pakaian renang yang menutupi hampir seluruh tubuh sedang banyak dibicarakan menyusul perlakuan tak pantas polisi terhadap penggunanya dan pelarangan pakaian itu oleh otoritas sejumlah kota di Perancis. Pakaian itu lazim disebut burkini, portmanteau yang terdiri dari burka dan bikini—sekalipun tak terdiri dari dua potong pakaian dan tak menampilkan pusar sebagaimana bikini pada umumnya.

Aheda Zanetti, pemilik toko pakaian renang di Sydney yang mula-mula menggunakan istilah itu untuk barang dagangannya menyampaikan kepada BBC bahwa burkini mewakili kebebasan dan hidup yang sehat, bukan penindasan terhadap tubuh perempuan. Salah satu inspirasi Zanetti ialah pelarangan penggunaan hijab di sekolah-sekolah Perancis, yang menurutnya merupakan upaya membonsai pertumbuhan Islam.

“Saya perempuan Australia, saya sudah seumur hidup di sini,” ujarnya. “Saya tahu arti hijab, saya paham arti cadar. Saya mengerti makna Islam. Dan saya mengenal diri saya. Tak seorang laki-laki pun di dunia ini berhak mengatur apa yang boleh atau tidak boleh kami kenakan.”

Penjualan daring burkini Zanetti meningkat hingga dua kali lipat. Memperjuangkan gagasan tentu penting. Uang juga. Dan air adalah benda cair. Itulah contoh-contoh truisme, setidaknya dua yang terakhir.

Baca juga artikel terkait BISNIS atau tulisan menarik lainnya Dea Anugrah
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Dea Anugrah
Penulis: Dea Anugrah
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan
DarkLight