Piala Dunia 2018

Lionel Messi sebagai Tantangan dan Problem bagi Argentina

Oleh: Eddward S Kennedy - 16 Juni 2018
Dibaca Normal 4 menit
Beragam cara dilakukan Jorge Sampaoli demi satu misi: membangun tim yang ideal untuk Messi
tirto.id - Sebelum lolos ke Piala Dunia 2018, Argentina sempat melewati tiga final: Piala Dunia 2014, Copa America 2015 & 2016. Seluruh final tersebut berakhir dengan kekalahan. Fakta tersebut dapat menjadi trauma tersendiri bagi Argentina, terutama karena mereka tak banyak melakukan perubahan dan masih terus bergantung kepada Lionel Messi.

Salah satu contoh terbaik melihat ketergantungan terhadap Messi dapat dilihat dalam laga kontra Ekuador di babak kualifikasi Piala Dunia 2018, di Stadion Atahualpa, Quito, pada Rabu (11/10/2017). Berkat trigol Messi, Argentina berhasil menang 3-1 dan dipastikan lolos ke putaran final Piala Dunia 2018.

Sementara untuk contoh terburuk ketergantungan kepada Messi tampak saat Spanyol membantai mereka 1-6. Saat itu Argentina seperti rombongan anak ayam kehilangan induk. Dalam laga persahabatan yang digelar di stadion Wanda Metropolitano akhir Maret lalu itu, anak asuh Jorge Sampaoli digasak oleh trigol Isco, serta tiga gol lain dicetak oleh Diego Costa, Thiago Alcantara, serta Iago Aspas (baca: Tanpa Lionel Messi dan Aguero, Argentina Dibantai Spanyol 6-1).

Mengenai ketergantungan Argentina terhadap Messi, Sampaoli tak mau mengelak. Bahkan sebaliknya, ia justru mengakuinya dengan gamblang: “Jika Leo berada dalam performa terbaik, maka tim akan berada di bawah arahannya daripada saya.”

Well, Messi adalah Messi. Jika saja Cristiano Ronaldo hidup pada zaman yang berbeda dengannya, Pele tak pernah lahir, dan Maradona tak memenangi Piala Dunia, niscaya tak akan ada lagi perdebatan tentang siapa pemain terbaik sepanjang sejarah sepakbola. Menafikkan perannya tentu saja kurang ajar, namun melulu ketergantungan terhadapnya bisa menjadi bumerang.

Dan itulah yang perlu disiasati oleh Argentina.

Eksperimen Formasi Demi Messi

Sampaoli memang membangun tim untuk Messi. Demi sempurnanya rencana tersebut, ia pun kerap melakukan eksperimen formasi di berbagai laga persahabatan. Mantan pelatih yang membawa Cile juara Copa America 2015 itu tercatat punya beragam variasi skema permainan. Mulai dari 3-4-3, 3-4-2-1, 4-2-3-1 atau skema yang aneh seperti 2-3-3-2, 3-3-3-1.

Salah satu eksperimen teraneh pernah dilakukan Sampaoli saat melakoni laga persahabatan kontra Singapura pada 2017 lalu. Kala itu, ia menggunakan formasi 2-3-4-1 dan berhasil memetik hasil memuaskan: menang 6-0. Terlepas dari lawannya yang secara kualitas memang berada di bawah level Argentina, eksperimen tersebut dinilai memberikan tambahan opsi bagi Argentina.

Bentuk eksperimen lain yang dilakukan Sampaoli demi memaksimalkan potensi Messi juga tampak saat ia menggunakan formasi 3-3-1-3 dalam dua laga persahabatan kontra Nigeria dan Rusia . Dalam dua laga tersebut, Argentina harus menelan kekalahan 2-4 dan menang 1-0.


Formasi 3-3-1-3 memang tak asing bagi Messi. Di Barcelona, Pep dan Luis Enrique beberapa kali pernah menggunakannya. Secara teori, formasi ini menempatkan Messi sebagai pemain nomor 10 murni yang diberi kebebasan mutlak, sementara para pemain tengah dan depan mengelilinginya dengan membentuk pola berlian. Dengan demikian, terjadi kerapatan antar lini yang berfungsi sebagai "pagar" bagi Messi.

Namun, jika saat digunakan Barca formasi 3-3-1-3 kerap berujung dengan hasil positif, tidak demikian ketika Sampaoli menerapkannya bersama timnas Argentina. 3-3-1-3 ala Sampaoli justru kerap menyembulkan celah besar di lini tengah. Hal ini disebabkan karena Messi yang secara intens lebih sering bergerak ke depan tidak diikuti oleh para pemain yang semestinya memagari dirinya.

Dalam laga persahabatan melawan Haiti akhir Mei 2018 lalu, Sampaoli sempat mencoba formasi lain, yakni 4-4-2 sejajar dengan high pressing. Hal ini kurang lebih juga diadaptasi Sampaoli dari Barcelona sejak dilatih Ernesto Valverde, namun tentu dengan pendekatan berbeda. Sebagai catatan, Barca memang menjadi acuan utama Sampaoli dalam membangun timnas Argentina yang fokus demi Messi.

Kembali ke perbedaan 4-4-2 ala Valverde dan Sampaoli. Jika Valverde memainkan empat gelandang murni tanpa pemain sayap (Andres Iniesta - Sergio Busquets - Paulinho - Ivan Rakitic), Sampaoli menempatkan Angel Di Maria berada di touchline sisi kiri, serta Manuel Lanzini yang diplot di sisi kanan dengan diberi kebebasan melakukan penetrasi jika Eduardo Salvio yang menempati posisi bek kanan Argentina tidak sedang melakukan overlap. Sementara di lini depan, Messi berduet Gonzalo Higuain yang diplot pemain pertama untuk melakukan pressing kepada lawan, sebagaimana peran Luis Suarez di Barca.


Perbedaan lain yang dilakukan Sampaoli dalam laga melawan Haiti tersebut ialah perubahan skema ketika Argentina melakukan serangan, dari 4-4-2 menjadi 4-3-3. Dengan Messi yang bergeser ke kanan, sementara Di Maria naik menjadi left forward. Kendati demikian, role Messi tidak ajeg dan tetap diberikan kebebasan selayaknya pemain nomor 10.

Pada dasarnya, perubahan formasi tidak banyak berpengaruh dari bagaimana peran Messi di lapangan, terutama dalam urusan mencetak gol. Saat melawan Ekuador, misalnya, salah satu gol yang dicetak Messi terjadi setelah ia turun jauh menjemput bola hingga ke area pertahanan sendiri, untuk kemudian meliuk-liuk melewati lawan lalu mencetak gol.

Skuat Tidak Seimbang dan Messi vs Dybala

Kekurangan Argentina lain adalah tidak meratanya kualitas di hampir semua lini. Jika di depan Albiceleste memiliki sederet pemain bintang, tidak demikian di lini tengah dan depan. Ketimpangan inilah yang membuat Argentina cenderung memiliki ketergantungan berlebihan terhadap Messi.

Dalam 23 pemain yang dibawa Sampaoli, terdapat tiga penjaga gawang: Sergio Romero (Manchester United), Franco Armani (River Plate), Willy Caballero (Chelsea FC). Dari ketiga nama tersebut, hanya Armani yang menjadi pemain reguler di klubnya. Sementara Romero dan Caballero hanya menjadi pemain pelapis di klub masing-masing. Ironisnya, di Argentina, Romero justru menjadi pilihan utama.

Di posisi bek, Sampaoli memanggil nama-nama seperti Gabriel Mercado (Sevilla), Cristian Ansaldi (Torino), Nicolas Otamendi (Manchester City), Federico Fazio (AS Roma), Marcos Rojo (Manchester United), Nicolas Tagliafico (Ajax), Marcos Acuna (Sporting de Lisboa). Dari semuanya, praktis hanya Otamendi yang bermain dengan jam terbang tinggi. Catatan statistik menunjukkan, Otamendi bermain total 53 laga bersama City musim lalu (3688 menit) dan cukup produktif dengan torehan 5 gol.


Infografik Argentina


Di lini tengah, pemain veteran Javier Mascherano yang kini bermain di Hebei China Fortune juga masih diikutsertakan Sampaoli. Adapun nama-nama lainnya antara lain Eduardo Salvio (SL Benfica), Lucas Biglia (AC Milan), Giovani Lo Celso (Paris Saint-Germain), Ever Banega (Sevilla), Manuel Lanzini (West Ham United), Maximiliano Meza (Independiente), Angel di Maria (Paris Saint-Germain), serta calon bintang masa depan Argentina, Cristian Pavon (Boca Juniors)

Banyaknya pemain depan kelas wahid di sektor penyerangan Argentina juga turut menjadi dilema. Salah satu dilema Sampaoli terlihat dalam keputusannya untuk tidak membawa Mauro Icardi (Inter Milan), kendati striker 25 tahun tersebut sukses menjadi top skor Serie A dengan torehan 29 gol sekaligus mengantarkan Inter Milan lolos ke Liga Champions musim depan. Sampaoli lebih memilih Paulo Dybala (Juventus) dan Sergio Aguero (Manchester City) untuk menemani Messi dan Higuain.

Khusus Dybala, posisinya saat ini seperti duri dalam daging dalam timnas Argentina karena memiliki peran dan gaya bermain yang setipe dengan Messi. Terkait hal tersebut, Messi pun mengakui betapa ia merasa kesulitan jika bermain bersama bintang Juventus tersebut.



"Saya telah berbicara dengan Paulo mengenai hal tersebut (kesamaan peran dan gaya bermain mereka), apa yang ia katakan benar. Di Juventus, ia bermain seperti saya, kami mencari ruang yang sama. Di timnas, ia bermain agak ke kiri, dan mungkin ia tak terbiasa dengan hal tersebut," ujarnya.

"Memang sulit untuk bermain di sana, saya juga jarang berada di sisi kiri. Di sisi kanan, kami dapat melakukan gerakan memotong (cut inside) dan kami memiliki aliran bola dan tim akan bergerak di depan kami. Apapun itu, saya memahami apa yang ia maksud, tak ada yang perlu diklarifikasi kembali."

Dalam laga persahabatan kontra Brazil pada Juni 2017 lalu, Sampaoli menurunkan Messi dan Dybala sejak menit awal dalam formasi 3-4-2-1. Keduanya diplot untuk mendampingi Higuain sebagai pemain nomor 9. Hasilnya cukup memuaskan. Selain menang 1-0 berkat gol Gabriel Mercado, Argentina juga sukses menguasai bola sebanyak 62% berbanding 38%.

Kendati demikian, Sampaoli memahami bahwa memainkan keduanya akan memiliki risiko besar. Ia mengatakan: "Karena tak ada waktu lagi untuk memasangkan Dybala-Messi, kami harus membuat keputusan yang lebih konkret."

Satu hal yang perlu diperhatikan, situasi yang dialami Argentina saat ini sebetulnya tak jauh berbeda dengan kondisi Albiceleste di Piala Dunia 1986. Kala itu, pelatih Carlos Bilardo juga mendesain tim untuk mendukung Maradona hingga Argentina dicap sebagai "one man team". Namun jika dulu Bilardo sukses menghantarkan Argentina meraih gelar juara, bagaimana dengan Sampaoli?

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2018 atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Zen RS