Laki-Laki Pun Mengalami Trauma Pasca-keguguran

Oleh: Patresia Kirnandita - 26 Oktober 2017
Dibaca Normal 2 menit
Namun, mereka merasa harus memendam kepedihan dan memilih menghibur pasangannya.
tirto.id - “Ketika seorang anak kehilangan orangtuanya, mereka menyebutnya yatim/piatu. Saat seseorang kehilangan pasangannya, mereka menyebutnya janda atau duda. Ketika orangtua kehilangan anaknya, tidak ada kata khusus untuk mendeskripsikan mereka,” demikian petikan ucapan Presiden AS Ronald Reagan terkait peringatan kehilangan anak, Oktober 1988 silam.

Peristiwa kehilangan anak tentu merupakan hal traumatis yang tidak pernah diharapkan oleh para orangtua. Jangankan setelah melihat dan berinteraksi dengan si anak, orangtua yang tidak pernah berkesempatan untuk bertemu dengannya dalam keadaan hidup pun bisa mengalami pukulan hebat dalam hidupnya.

Keguguran mendatangkan efek psikologis dan fisik yang tidak bisa disepelekan, tidak hanya bagi perempuan, tetapi juga bagi suami yang menyaksikan kegagalan hidup bayi yang sempat dikandung pasangannya.

Maka, bulan Oktober dijadikan bulan peringatan kehilangan yang dialami banyak orangtua di AS dan seluruh dunia. Peringatan ini juga dibuat untuk menginformasikan dan memfasilitasi orangtua-orangtua yang pernah mengalami keguguran, kehamilan ektopik, kehamilan molar, bayi lahir mati, bayi lahir dengan kecacatan, bayi mati mendadak (SIDS), dan sebab-sebab kehilangan anak lainnya.

Bagi perempuan, PTSD (post-traumatic stress disorder) sangat mungkin terjadi setelah ia mengalami keguguran. Ada sejumlah gejala gangguan mental ini yang umumnya ditemukan pada mereka. Depresi dan cemas berkepanjangan adalah dua hal yang paling menonjol menurut Emma Robertson Blackmore, Ph.D., profesor Psikiatri dari University of Rochester Medical Center. Bahkan setelah berhasil memiliki anak beberapa waktu pasca-keguguran, mereka bisa saja mengalami depresi seusai melahirkan.

Baca juga: Lady Gaga dan Kebaikan yang Menyembuhkan PTSD

Terkait PTSD pada perempuan keguguran, dalam situs FIGO—International Federation of Gynecology and Obstetrics—dikatakan bahwa mereka sering kali mengalami mimpi buruk dan kilas balik peristiwa traumatis tersebut. Setiap kali mereka menemukan berbagai hal yang berasosiasi dengan kehamilan dan bayi yang gagal lahir selamat, emosi negatif akan kembali muncul. Karenanya, mereka akan cenderung menghindari terpapar informasi tentang hal-hal tersebut.

Baca juga: Mitos Kehamilan, dari Nanas hingga Hubungan Seksual

Namun, tidak setiap waktu perempuan keguguran bisa mengelak dari hal yang memicu kesedihan mereka. Courteney Cox, bintang serial Friends, sempat keguguran beberapa kali sebelum melahirkan Coco pada 2004. Aktris ini menyatakan bahwa keguguran yang dialaminya menciptakan sejumlah kendala dalam pekerjaannya. Dirundung kesedihan mendalam, tentu sulit bagi Cox untuk membuat orang-orang tertawa sebagaimana biasa dilakukannya.

“Saya ingat suatu kali, saya baru saja keguguran dan Rachel [tokoh yang diperankan Jennifer Anniston] sedang melahirkan. Ya Tuhan, rasanya tidak enak sekali berusaha keras untuk menjadi lucu ketika itu,” aku Cox ketika diwawancara NBC News.

Robertson Blackmore juga meneliti 13.000 ibu melahirkan untuk mengetahui kondisi mental mereka. Sekitar 15% dari 2.823 ibu yang pernah keguguran mengatakan bahwa mereka masih mengalami depresi dan kecemasan selama dan setelah melahirkan anak berikutnya sampai tiga tahun pascakeguguran.

Selain dua gejala tadi, hal-hal lain yang lumrah dialami perempuan keguguran ialah perasaan sedih dan putus asa, mudah marah dan frustrasi, juga kehilangan konsentrasi, nafsu makan, serta mood untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Pengalaman traumatis mereka juga kerap menciptakan kesulitan tidur, rasa lelah berlebihan, dan nyeri di beberapa bagian tubuh tanpa sebab yang jelas. Pada beberapa kasus khusus, rasa bersalah yang begitu besar serta menganggap diri tidak berarti karena gagal melahirkan bayi dalam keadaan hidup bisa membuat mereka berniat mengakhiri nyawanya.

Bagaimana dengan laki-laki?

Berbeda dengan perempuan, sisi psikis laki-laki yang pasangannya keguguran lebih jarang mendapat sorotan. Martha Rinehart, yang menulis artikel ilmiah “Helping Men with the Trauma of Miscarriage”bersama Mark Kiselica, tertarik membuat studi tentang pengalaman laki-laki pasca-keguguran pasangan setelah mendapati reaksi tak sensitif dari bapak mertuanya.

Sekitar dua puluh tahun lalu, Rinehart sempat keguguran dan ayah mertuanya berkata pada suaminya dengan mudah, “Kamu akan mendapat anak lagi nanti”.

Bagi sebagian orang, perkataan semacam itu dianggap wajar dan sering diungkapkan kepada pasangan yang baru kehilangan bayi yang dikandung. Namun sebenarnya, dalam keadaan kalut, kalimat itu malah bisa menambah kepedihan mereka. Setiap pengalaman mengandung dan harapan untuk memiliki buah hati yang kandas selalu mendatangkan luka mendalam yang tidak serta merta bisa terhapuskan begitu mendapat anak di kemudian hari.

Studi Kiselica dan Rinehart menunjukkan, duka yang dialami laki-laki yang pasangannya keguguran kerap diselubungi dengan ekspresi kemarahan. Selain itu, keguguran juga berefek pada kehidupan seks laki-laki. Akan ada keraguan dalam diri mereka untuk memulai hubungan badan dengan pasangan karena khawatir pasangannya belum siap secara mental atau masih mengalami depresi. Singkatnya, intimasi pasangan, secara fisik maupun emosional, terdampak dari peristiwa keguguran.

Infografik Trauma pasca keguguran


Karena perempuan dianggap membawa beban lebih berat setelah keguguran, laki-laki pun kerap memendam kepedihannya sendiri dan memilih berusaha menghibur pasangannya. Dalam keadaan yang rapuh, upaya yang dilakukannya bisa malah kian membuatnya terpuruk. Semakin lama ia memendam emosi, ditambah asumsi bahwa laki-laki semestinya lebih tegar dari perempuan, bukan tidak mungkin di kemudian hari ia akan meledak dan tak bisa menjalani aktivitas sehari-harinya dengan baik.

Baca juga: Laki-Laki Tak Menangis Bukan karena Tak Sedih

Meski keguguran bukanlah peristiwa yang langka terjadi di berbagai negara, hal ini masih jarang dibahas di muka publik karena adanya anggapan tidak layak atau takut menyinggung perasaan yang mengalaminya. Dr. Jessica Farren, peneliti dari Tommy's National Centre for Miscarriage Research, Imperial College, London, berpendapat bahwa norma tentang bagaimana wacana keguguran diperbincangkan atau dikesampingkan dalam masyarakat bisa memperberat efek psikologis yang dialami perempuan.

“Ada asumsi di masyarakat bahwa sebaiknya, perempuan tidak memberitakan kehamilannya sebelum berusia 12 minggu. Namun, ini berarti pula bila ia mengalami keguguran dalam rentang waktu tersebut, mereka tidak akan menceritakannya kepada orang-orang sekitar. Hal ini bisa berimbas pada besarnya efek psikologis yang dialami si perempuan yang mengalami keguguran pada usia janin sangat dini,” jabar Farren.

Baca juga artikel terkait KEHAMILAN atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Maulida Sri Handayani