Menuju konten utama

Kualitas Udara Jakarta Diklaim Membaik 35 Persen Selama PSBB

Kualitas udara di Jakarta membaik karena semakin berkurangnya aktivitas masyarakat, seperti melakukan WFH, berkegiatan di rumah, dan pembatasan jam operasional angkutan umum.

Kualitas Udara Jakarta Diklaim Membaik 35 Persen Selama PSBB
Sejumlah kendaraan melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (10/4/2020). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/pras.

tirto.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengklaim kualitas udara di ibu kota membaik selama menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menuturkan, yang menyebabkan kualitas udara di Jakarta membaik karena semakin berkurangnya aktivitas masyarakat. Seperti melakukan Work From Home (WFH), berkegiatan di rumah, dan pembatasan jam operasional angkutan umum.

"Dengan dilakukannya kebijakan tersebut, akan semakin berkurang juga emisi yang dikeluarkan, sehingga kualitas udara akan semakin membaik," kata Kepala DLH DKI, Andono Waluh melalui keterangan tertulisnya kepada Tirto, Kamis (30/4/2020).

Berdasarkan data yang dihimpun oleh DLH DKI, Konsentrasi Maksimum PM2,5 saat diterapkannya PSBB sangat menurun dibandingkan sebelum diterapkannya kebijakan tersebut sekitar 0.02% sampai 35.07% di 5 Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU).

Konsentrasi Maksimum PM2,5 saat PSBB di seluruh SPKU memenuhi Baku Mutu Harian (<65ug/m3).

Adapun data penurunan polutan mulai dari tanggal 13 sampai 19 April 2020, di SKPU Bundaran HI menurun sebesar 0,02% ; Kelapa Gading 30,89% ; Jagakarsa 5,74% ; Lubang Buaya 35,7 % ; Kebun Jeruk 25,75 %.

"Hal ini mengindikasikan bahwa PSBB efektif dalam menurunkan polutan PM2,5 ," ucapnya.

Kendati demikian, menurutnya kualitas udara tidak hanya dipengaruhi oleh sumber pencemar udara saja. Tetapi terdapat faktor lain yang sangat berpengaruh besar yaitu meteorologi: suhu, kecepatan angin, kelembaban, dan curah hujan.

Ia menjelaskan angin akan membawa polutan dari sumbernya ke tempat lain. Sementara suhu yang lebih rendah akan menurunkan difusi (pergerakan partikel dari konsentrasi tinggi ke rendah) sehingga konsentrasi partikel akan cenderung tinggi pada kondisi tersebut. Selain itu suhu juga akan memengaruhi cepat/ lambatnya reaksi kimia (terutama pembentukan ozon yang membutuhkan panas dan cahaya matahari).

Lalu hujan akan meluruhkan partikulat beserta polutan yang dapat terlarut lainnya, sehingga setelah hujan turun polutan di udara akan cenderung berkurang juga.

Kemudian kelembaban tinggi (suhu rendah), akan terjadi kondensasi sehingga konsentrasi partikulat pun akan dapat meningkat.

Oleh sebab itu kata dia, terkadang walaupun sumber pencemar udara telah berkurang, namun pada saat-saat tertentu, kualitas udara terkadang tidak ikut membaik (faktor meteorologi dan rotasi aliran).

"Rotasi aliran udara dipengaruhi oleh bangunan disekitar seperti gedung-gedung tinggi dan juga topografl suatu wilayah yang akan membuat aliran udara pada wilayah tersebut berotasi," tuturnya.

Baca juga artikel terkait KUALITAS UDARA JAKARTA atau tulisan lainnya dari Riyan Setiawan

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Restu Diantina Putri