Menuju konten utama

Kronologi WNI Diculik Israel Saat Ikut Global Sumud Flotilla

Militer Israel cegat 17 kapal Global Sumud Flotilla di Mediterania pada 18 Mei 2026. Lima WNI diculik, termasuk jurnalis Republika, Tempo, dan iNews.

Kronologi WNI Diculik Israel Saat Ikut Global Sumud Flotilla
Tangkapan Layar Pemantau Kapal GSF yang didatangi Tentara Israel. youtube/Global Sumud Flotilla

tirto.id - Armada kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 yang membawa bantuan menuju Jalur Gaza dicegat militer Israel di perairan internasional sekitar Siprus, Mediterania Timur, Senin (18/5/2026). Rombongan aktivis termasuk 5 WNI diculik IDF. Berikut kronologi lengkapnya.

Intersepsi dilakukan setelah malam sebelumnya para relawan menerima “red alert” atau peringatan darurat terkait pergerakan kapal perang dan drone Israel yang terus mengawasi rombongan.

Menjelang pagi waktu Istanbul, jumlah kapal militer Israel yang mengitari armada semakin banyak hingga akhirnya operasi pencegatan dilakukan sekitar 200 mil laut dari Gaza.

Sedikitnya 17 kapal dilaporkan berhasil diintersepsi, termasuk lima kapal yang membawa delegasi Indonesia dalam misi kemanusiaan tersebut.

Dalam operasi itu, lima warga negara Indonesia (WNI) diculik atau ditahan pasukan Israel, termasuk empat jurnalis media nasional yang ikut meliput perjalanan armada.

Mereka adalah jurnalis Republika Bambang Noroyono dan Thoudy Badai, serta jurnalis Tempo Andre Nugroho dan jurnalis iNews Rahendra Herubowo. Selain itu, relawan kemanusiaan Andi Angga Prasadewa juga dilaporkan ikut ditahan.

Kronologi Global Sumud Flotilla Dicegat Israel

Pada Senin (18/5) rombongan kapal misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) yang membawa bantuan menuju Jalur Gaza mengalami intersepsi besar-besaran oleh militer Israel di Laut Mediterania.

Armada yang terdiri dari sekitar 50 kapal kecil dan melibatkan relawan dari 45 negara itu sebelumnya berangkat dari wilayah barat daya Turki sebagai upaya menembus blokade total Israel terhadap Gaza serta mengirimkan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina.

Menurut penjelasan Dr. Maimon Herawati dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), situasi mulai menegangkan sejak malam sebelum intersepsi ketika rombongan menerima red alert.

Para peserta mulai melihat drone pengintai dan kapal-kapal Israel bergerak di sekitar jalur pelayaran mereka di Laut Mediterania.

Menurut Maimon, intensitas pengawasan militer Israel meningkat drastis menjelang pagi hari. Pada sekitar pukul 09.00 waktu Istanbul, kapal-kapal yang diduga milik Israel semakin banyak terdeteksi mendekati armada Global Sumud Flotilla.

Kehadiran kapal perang dan drone yang terus berseliweran di sekitar armada membuat para peserta menyadari bahwa operasi intersepsi kemungkinan besar akan segera dilakukan.

Ketegangan semakin meningkat karena flotilla merupakan rombongan sipil yang membawa bantuan kemanusiaan dan tidak memiliki persenjataan maupun perlindungan militer.

Meskipun demikian, para relawan tetap melanjutkan pelayaran menuju Gaza sebagai bentuk solidaritas internasional terhadap rakyat Palestina yang sedang menghadapi krisis kemanusiaan akibat blokade dan serangan Israel.

Intersepsi kemudian benar-benar terjadi di perairan internasional dekat Siprus, sekitar 200 mil laut dari Gaza. Hingga sekitar pukul 20.00 WIB, tercatat sedikitnya 17 kapal berhasil dicegat oleh militer Israel.

Dari jumlah tersebut, lima kapal diketahui membawa delegasi Indonesia yang tergabung dalam GPCI. Kelima kapal itu adalah “Josef”, “Ozgurluk”, “Zapyro”, “Kasr-1”, dan “BorAlize”.

Dalam operasi tersebut, komunikasi sejumlah kapal sempat terputus sehingga memicu kepanikan dan kekhawatiran besar di antara relawan serta keluarga peserta misi.

Kapal-kapal perang Israel dilaporkan bergerak sangat dekat dengan armada sipil flotilla sebelum akhirnya melakukan intersepsi langsung terhadap beberapa kapal.

Dari sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang mengikuti misi kemanusiaan tersebut, lima orang dikonfirmasi telah diculik atau ditangkap oleh militer Israel. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, terutama aktivis kemanusiaan dan jurnalis media nasional Indonesia.

Kelima WNI tersebut adalah Bambang Noroyono yang berada di kapal “BorAlize”, Andre Nugroho di kapal “Ozgurluk”, Rahendra Herubowo di kapal “Ozgurluk”, Thoudy Badai di kapal “Ozgurluk”, serta Andi Angga Prasadewa yang merupakan relawan dari Rumah Zakat.

Empat delegasi Indonesia lainnya dilaporkan masih dapat melanjutkan pelayaran hingga sekitar pukul 21.00 WIB. Mereka adalah Herman Budianto dan Ronggo Wirasanu yang berada di kapal “Zapyro”, serta Asad Aras Muhammad dan Hendro Prasetyo di kapal “Kasr-1”.

Respons Kemenlu Indonesia Atas Penculikan 5 WNI oleh Israel

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyampaikan kecaman keras terhadap tindakan Israel yang melakukan pencegatan dan penculikan terhadap relawan dalam misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0.

Pemerintah Indonesia menilai tindakan intersepsi tersebut sebagai pelanggaran terhadap prinsip kemanusiaan internasional karena armada itu membawa bantuan sipil untuk rakyat Palestina yang sedang menghadapi krisis akibat konflik dan blokade berkepanjangan.

Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, dalam pernyataan resminya menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia saat ini masih berupaya menjalin komunikasi dengan kapal yang membawa Bambang Noroyono untuk mengetahui posisi terkini kapal tersebut serta kondisi para penumpangnya.

Menurut Yvonne, komunikasi dengan kapal tersebut sempat terputus setelah intersepsi dilakukan sehingga pemerintah terus melakukan berbagai upaya diplomatik dan koordinasi guna memperoleh informasi yang akurat mengenai status para WNI yang berada di dalam armada bantuan tersebut.

"Kementerian Luar Negeri RI mendesak Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan, serta menjamin kelanjutan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina sesuai hukum humaniter internasional," tegas Yvonne.

Selain itu, Indonesia meminta agar armada kemanusiaan diizinkan melanjutkan perjalanan menuju Palestina demi menyalurkan bantuan kepada masyarakat Gaza sesuai prinsip hukum humaniter internasional.

Untuk menangani situasi tersebut, Kemlu RI mengerahkan Direktorat Perlindungan WNI dan melakukan koordinasi intensif dengan sejumlah Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di kawasan Timur Tengah dan Turki, yaitu KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan keselamatan para WNI yang menjadi korban intersepsi sekaligus menyiapkan berbagai langkah kontingensi apabila diperlukan, termasuk proses perlindungan dan percepatan pemulangan para WNI ke Indonesia.

Baca juga artikel terkait BANTUAN KE GAZA atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra