Menuju konten utama

Kronologi Kasus Dugaan Pelecehan Seksual di Klub Voli Red Spark

Kasus dugaan pelecehan seksual di Liga Voli Korea melibatkan staf pelatih Red Spark hingga membuat status Ko Hee-jin ditangguhkan. Simak penjelasannya.

Kronologi Kasus Dugaan Pelecehan Seksual di Klub Voli Red Spark
ilustrasi pelecehan seksual. wikimedia commons/arionasis
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kronologi dugaan kasus pelecehan seksual di salah satu klub bola voli putri Korea Selatan menyeret pelatih Red Sparks, Ko Hee-jin. Namun sejauh ini kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan dan belum ada tersangka yang ditetapkan.

Dunia bola voli Korea Selatan digemparkan dengan laporan terkait adanya kasus pelecehan seksual. Kasus itu dikabarkan melibatkan salah satu staf kepelatihan di salah satu klub putri dan masih dalam proses investigasi Kementerian Olahraga Korea Selatan.

Kronologi pelecehan seksual terjadi saat acara makan malam dalam event All Star pada bulan Januari 2026 lalu. Acara tersebut melibatkan pemain dan staf kepelatihan klub Red Spark, termasuk head coach, Ko Hee-jin.

Menurut laporan media Korea Selatan, STN Sports, tindakan pelecehan seksual dialami oleh salah satu pemain bola voli putri yang tidak disebutkan namanya. Sang pemain lantas melaporkan tindakan pelecehan yang dialaminya kepada manajemen klub.

Pihak klub lantas memisahkan sang pemain dan staf pelatih yang terlibat. Saat penyelidikan dilakukan, pelaku memilih mengundurkan diri dari klub pada bulan Mei 2026 alias setelah kompetisi Liga Voli Korea (V-League), selesai.

Orang tua korban yang tidak puas dengan cara penyelesaian pihak klub lantas melaporkan kasus tersebut Pusat Etika Olahraga yang berada dalam naungan Kementerian Kebudayaan, Olahraga dan, Pariwisata Korea Selatan. Pihak terkait kemudian melakukan penyelidikan lebih lanjut.

Kendati begitu, Kementerian Kebudayaan Olahraga dan Pariwisata Korea Selatan masih belum mengungkap identitas pelaku. Namun, mereka telah menangguhkan aktivitas terduga pelaku dari dunia olahraga di Korea Selatan, serta memberikan skorsing kepada pelatih utama Red Spark, Ko Hee-jin hingga waktu yang belum ditentukan.

Mengutip laporan Naver, Ko Hee-jin bukan pelaku pelecehan seksual, tetapi hadir dalam peristiwa tersebut. Meski berada di tempat, Ko Hee-jin disebut mengabaikan pelatihan yang dilakukan salah seorang staff pelatih.

Ko Hee-jin dilaporkan duduk tidak jauh dari kejadian pelecehan seksual itu. Namun sang pelatih tidak menggunakan wewenang yang ia miliki untuk menghentikan tindakan tersebut.

Ketika diminta keterangan, Ko Hee-jin mengaku tidak mengingat dengan benar soal adanya tindakan pelecehan seksual tersebut. Padahal menurut laporan, Ko Hee-jin duduk tepat di seberang kejadian tersebut.

"Saya tidak tahu, saya tidak mengingatnya dengan baik," kata Ko Hee-jin dikutip dari laman Naver.

Kendati tidak terlibat langsung dalam tindakan pelecehan seksual tersebut, tidak menutup kemungkinan Ko Hee-jin akan terkena imbasnya. Sebab hal itu tertuang dalam Pasal 12 ayat 1 Peraturan Komite Perlindungan Hak Asasi Manusia Pemain Federasi Bola Voli Korea (KOVO).

"Pemberian hukuman dan denda akan dikenakan kepada seseorang yang membantu, mendukung, atau menyembunyikan tindakan kekerasan (termasuk tindakan pelecehan seksual) yang dilakukan oleh orang lain, sesuai dengan standar dari Pasal 10 Ayat 1. Namun jika pelaku kekerasan dikeluarkan, hukuman skorsing 1 tahun akan dikenakan kepada pihak yang membantu atau menyembunyikan tindakan tersebut."

Ko Hee-jin sendiri saat ini masih berstatus pelatih utama Red Spark dan sedang mempersiapkan tim untuk Liga Voli Korea 2026/2027. Dia masih memimpin tim dalam persiapan yang dilakukan di Pulau Jeju.

Namun, sejak skandal pelecehan diungkap media Korea Selatan, posisinya ditangguhkan sampai ada keputusan dari KOVO dan Kementerian Kebudayaan, Budaya dan Pariwisata Korea Selatan.

Baca juga artikel terkait BOLA VOLI atau tulisan lainnya dari Wan Faizal

tirto.id - Olahraga
Kontributor: Wan Faizal
Penulis: Wan Faizal
Editor: Permadi Suntama