Menuju konten utama

Kronologi Evakuasi WNA asal Brasil yang Jatuh di Gunung Rinjani

Proses evakuasi WNA asal Brasil terjatuh di Gunung Rinjani dilanjutkan hari ini menuju Posko Sembalun.

Kronologi Evakuasi WNA asal Brasil yang Jatuh di Gunung Rinjani
Upaya penyelamatan pendaki perempuan asal Brasil berinisial JDSP yang dilaporkan jatuh saat mendaki Gunung Rinjani, Jumat (20/6/2025). ANTARA/HO-Kemenhut/am.

tirto.id - Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Marsekal Madya Mohammad Syafii, memastikan Warga Negara Asing (WNA) asal Brasil yang terjatuh di jalur menuju puncak Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), meninggal dunia.

Kepastian itu didapat dari hasil pemeriksaan tim SAR yang telah berhasil menjangkau korban.

Syafii menjelaskan proses evakuasi diawali dengan diterjunkannya 7 petugas SAR pada Selasa (24/6/2025) pukul 16.52 WITA dan mereka dapat menjangkau di kedalaman 400 meter.

Kemudian, pada pukul 18.00 WITA, 1 orang petugas penyelamat bernama Khafid Hasyadi berhasil menjangkau korban pada kedalaman 600 meter di sekitar titik Cemara Nunggal, jalur menuju Puncak Rinjani, dalam kondisi sudah tidak bernyawa.

“Di mana sebelumnya kami perkirakan korban ada di posisi kedalaman 400 meter dan ternyata setelah kami bisa menjangkau korban, ternyata ada pergeseran turun ke bawah lagi di kedalaman 600 meter. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan terhadap korban dan tidak ditemukan adanya tanda-tanda kehidupan,” kata Syafii dalam konferensi pers, dikutip dari akun Instagram resmi Basarnas, Rabu (25/6/2025).

Selain Khafid, 3 personil dari potensi SAR atas nama Syamsul Fadli dari unit Lombok Timur, Agam dan Tito dari Rinjani Squad, turun mendekati korban pada pukul 18.31 WITA.

Setelah terkonfirmasi meninggal, korban dilakukan wrapping survivor. Kemudian, Tim SAR Gabungan yang berada di last known position (LKP) segera menyiapkan sistem evakuasi.

“Dan dapat kami laporkan bahwa tim yang berjumlah tujuh orang yang telah diturunkan malam ini akan melaksanakan flying camp. Tiga orang di anchor point kedua di kedalaman 400 meter dan empat orang berada bersama-sama dengan korban di datum point di kedalaman 600 meter,” ucapnya.

Namun, sekitar pukul 19.00 WITA, proses evakuasi dihentikan lantaran kondisi cuaca buruk sehingga akan dilanjutkan pada Rabu (25/6/2025).

“Pada pukul 19.00 kita dikarenakan cuaca yang tidak memungkinkan dengan visibility atau jarak pandang yang sangat terbatas maka diputuskan evakuasi. Korban akan dilanjutkan pada hari Rabu tanggal 25 Juni 2025 pukul 06.00 WITA,” tuturnya.

Nantinya, proses evakuasi lanjutan ini akan menggunakan metode lifting atau mengangkat korban ke atas permukaan.

Apabila nanti korban sudah berhasil diangkat, jenazah itu akan dievakuasi menyusuri rute pendakian menuju Posko Sembalun dengan cara ditandu.

Lalu, dari Posko Sembalun, korban akan dievakuasi menggunakan helikopter menuju ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda NTB.

“Selanjutnya pesawat yang sudah kami stand by-kan nanti di Posko-Sembalun akan melaksanakan evakuasi medis udara menuju ke rumah sakit Bhayangkara di Polda NTB,” tutupnya.

Sebelumnya, Juliana melakukan pendakian bersama 12 orang lainnya melalui jalur Sembalun pada 20 Juni 2025.

Namun, pada Sabtu (21/6), ia dilaporkan terjatuh ke jurang dengan perkiraan awal kedalaman 150–200 meter.

Operasi SAR ini melibatkan berbagai unsur, antara lain Kantor SAR Mataram, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), TNI, Polri, BPBD Lombok Timur, Unit SAR Lombok Timur, EMHC, Damkar, Relawan Rinjani, porter, dan unsur terkait.

Baca juga artikel terkait GUNUNG RINJANI atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Bayu Septianto