Menuju konten utama

Krisis Ekonomi Sri Lanka: Mengapa Menteri & Anggota Parlemen Mundur

Anggota parlemen dan para menteri mundur dari jabatan akibat krisis di Sri Lanka. 

Krisis Ekonomi Sri Lanka: Mengapa Menteri & Anggota Parlemen Mundur
Pemimpin oposisi Sri Lanka Sajith Premadasa, kiri, bersama dengan anggota parlemen oposisi lainnya meneriakkan slogan-slogan anti pemerintah selama protes di Kolombo, Sri Lanka, Minggu, 3 April 2022. (AP Photo/Eranga Jayawardena)

tirto.id - Krisis ekonomi besar sedang melanda Sri Lanka. Menurut berita terbaru, koalisi Presiden Gotabaya Rajapaksa kehilangan mayoritas kursi di parlemen pada hari ini, Selasa, 5 April 2022 setelah 41 anggota parlemen keluar dari aliansi.

Sebelumnya, menurut Menteri Pendidikan Dinesh Gunawardena, total ada 26 menteri yang mengundurkan diri dalam pertemuan larut malam, termasuk kakak laki-laki Presiden Gotabaya, yakni Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa.

Presiden Gotabaya mengatakan, dia tidak akan mengundurkan diri dari jabatan. Baru-baru ini, Sri Lanka bahkan kekurangan obat-obatan. Tetapi IMF mengumumkan kalau mereka sedang melihat perkembangan politik dan ekonomi di Sri Lanka dengan sangat cermat.

The Guardian melaporkan, Sri Lanka sedang menghadapi masalah kekurangan makanan, bahan bakar dan kebutuhan pokok lainnya. Negara itu juga mengalami inflasi dan pemadaman listrik secara rutin.

Setidaknya, dengan pengunduran massal anggota kabinet ini, maka membuka kemungkinan bagi Presiden Gotabaya untuk menunjuk kabinet baru, dan beberapa dari mereka yang mengundurkan diri dapat diangkat kembali.

Sri Lanka juga menerapkan keadaan darurat setelah peserta unjuk rasa berusaha mendatangi rumah presiden di ibu kota Kolombo. Negara itu juga memberlakukan jam malam dan pemadaman jaringan media sosial.

Aliansi oposisi, Samagi Jana Balawegaya (SJB) mengecam langkah pemerintah yang memadamkan media sosial untuk mencegah demonstrasi publik semakin intensif. Organisasi itu meminta pemerintah untuk mengundurkan diri.

“Presiden Rajapaksa lebih baik menyadari bahwa arus telah mengubah pemerintahan otokratisnya,” kata anggota parlemen SJB Harsha de Silva kepada AFP.

Eran Wickramaratne, anggota parlemen SLB lainnya, mengutuk pengumuman keadaan darurat di Sri Lanka, termasuk kehadiran pasukan keamanan di jalan-jalan kota.

"Kami tidak bisa membiarkan pengambilalihan militer," katanya. “Mereka harus tahu kita masih demokrasi.”

Pasukan bersenjatakan senapan serbu bergerak untuk menghentikan protes yang berusaha berbaris ke Lapangan Kemerdekaan Ibu Kota.

Jalan itu dibarikade beberapa ratus meter dari rumah pemimpin oposisi Sajith Premadasa, dan massa sempat bersitegang dengan pasukan keamanan selama hampir dua jam sebelum bubar dengan damai.

Kericuhan Sri Lanka

Tentara Sri Lanka tiba di lingkungan kediaman pribadi Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapksa yang dirusak setelah bentrokan semalam di Kolombo, Sri Lanka, Jumat, 1 April 2022. (AP Photo/Eranga Jayawardena)

Anggota Parlemen Sri Lanka Mengundurkan Diri

BBC melaporkan, lebih dari 40 anggota parlemen telah mundur dari koalisi pemerintahan. Mereka mengaku, sekarang hanya mewakili diri sendiri secara independen. Hal ini dilakukan setelah massa memprotes untuk menuntut pengunduran diri Presiden Rajapaksa.

Sampai saat ini, belum jelas alasan para anggota parlemen itu mengundurkan diri. Meskipun telah menjauhkan diri dari pemerintah, tetapi mereka belum memberikan dukungan kepada oposisi.

Presiden Rajapaksa sudah meminta bantuan partai-partai oposisi untuk membentuk pemerintah nasional dan menerima portofolio kabinet. Tetapi, partai oposisi menolak dan menuntut Rajapaksa untuk mengundurkan diri.

"Yang diinginkan rakyat adalah presiden ini dan seluruh pemerintah mundur," kata Sajith Premadasa, pemimpin Samagi Jana Balawegaya, aliansi oposisi utama Sri Lanka.

Para demonstran ingin presiden mengundurkan diri pada hari Selasa. Seorang menteri keuangan yang baru diangkat juga mengumumkan dia berhenti dari pekerjaan itu, bahkan kurang dari 24 jam setelah menerima jabatan itu.

Baca juga artikel terkait KRISIS SRI LANKA atau tulisan lainnya dari Alexander Haryanto

tirto.id - Politik
Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Iswara N Raditya