Menuju konten utama
Mozaik

Kontroversi Shaun King, Aktivis Afro-Amerika yang Pro Palestina

Menjelang Ramadhan tahun ini, Shaun King bersyahadat setelah menyaksikan penderitaan warga Gaza. Namun, keputusannya banyak direspons dengan nada miring.

Kontroversi Shaun King, Aktivis Afro-Amerika yang Pro Palestina
Header Mozaik Shaun King. tirto.id/Parkodi

tirto.id - Setelah Operasi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023, Shaun King menjadi satu dari sedikit figur publik Amerika Serikat yang bersikap kritis, baik terhadap Israel maupun negaranya. Dukungannya terhadap perjuangan rakyat Palestina makin menguatkan citranya sebagai sosok yang penuh kontroversi.

"Dalam twit juru bicara Israel yang sudah dihapus ini, Israel awalnya mengaku mengebom Rumah Sakit Baptist. Begitu tahu jumlah warga sipil yang terbunuh, ia menghapus twit ini, menyalahkan Hamas, dan mengatakan bahwa merekalah yang mengebom rumah sakit tersebut,” tulisnya menanggapi propaganda akun pendukung Israel.

Shaun melihat Badai Al-Aqsha bukan sebagai genderang perang yang ditabuh Hamas, melainkan letupan perlawanan rakyat Palestina yang puluhan tahun dijajah Israel. Kebijakan negaranya yang setia memberi dukungan tanpa syarat kepada Israel tak menyurutkan niatnya membela kepentingan Palestina.

Secara berkala, Shaun menulis artikel yang menegaskan pendiriannya, baik di media massa maupun beberapa platform media sosial. Tak jarang artikel-artikel tersebut mengundang reaksi keras dari kalangan konservatif. Ia bahkan kehilangan akun Instagramnya yang memiliki enam juta pengikut karena dibekukan.

Pastor, Penulis, dan Aktivis

Jeffery Shaun King lahir di Versailles, Kentucky, 17 September 1979. Dalam akta kelahirannya, tertulis nama sang ayah Jeffery Wayne King, seorang pria kulit putih. Ketika Shaun beranjak dewasa, Naomi Kay ibunya membuka rahasia yang sebelumnya ia tutup rapat: orang dalam akta kelahirannya bukan ayah kandung Shaun.

"Pria kulit putih di akta kelahiranku bukan ayah kandungku. Ayah kandungku yang sebenarnya adalah seorang pria kulit hitam," ujarnya kepada wartawan The Washington Post yang mewawancarainya seputar kebrutalan polisi terhadap warga Afro-Amerika.

Pada usia 22 tahun, Shaun menikah dengan Rai, guru sekolah dasar yang kemudian menjadi dosen di sebuah universitas. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tiga anak, yaitu Kendi, Ezekiel, dan Savannah. Selain anak kandung, mereka juga memiliki anak angkat, yakni Taeyonna dan Zayah, yang merupakan keponakan Shaun.

Kritik Shaun King agar pemerintah lebih menjamin hak-hak warga Afro-Amerika tak muncul begitu saja. Semasa remaja, ia mengaku sering menjadi korban kebencian rasial, baik verbal maupun non-verbal. Akibat perundungan yang diterimanya, ia pernah mengalami cedera tulang belakang, yang memaksanya berhenti bersekolah hingga dua tahun.

Setelah lulus dari sekolah menengah atas dan sambil menjalani kuliah, Shaun bekerja sebagai guru sejarah dan pendidikan kewarganegaraan. Setahun mengajar, ia beralih profesi menjadi pastor. Keputusan besar itu ia ambil setelah terinspirasi seorang pastor sahabat ayahnya yang menjenguknya saat sakit.

Pada 2008, Shaun mendirikan Courageous Church di Atlanta. Pada awal 2009, untuk pertama kalinya gereja tersebut memberikan pelayanan kepada jemaat. Setahun kemudian, ketika terjadi gempa bumi di Haiti, Shaun merilis aHomeinHaiti.org untuk menggalang donasi bagi para korban, khususnya anak-anak, di bawah payung gereja yang ia dirikan.

Keberhasilan Shaun King memanfaatkan media sosial dalam misi penggalangan dana menuai pujian dari sejumlah pihak.

Jurnal Atlanta menobatkannya sebagai "Pahlawan Liburan" untuk kontribusinya dalam menggalang donasi online untuk anak-anak di sekolah dasar tempat ia pernah mengajar. aHomeinHaiti.org bahkan meraih penghargaan Mashable untuk kategori Kampanye Kebaikan Sosial Paling Kreatif.

Setelah tidak beraktivitas di gereja, Shaun beralih ke dunia jurnalistik dan banyak menulis tentang hak-hak sipil, keadilan rasial, dan pelanggaran penegakan hukum. Ia juga menjadi kontributor majalah The Intercept dan New York Daily News. Lain itu, ia adalah penulis tetap di Fair Punishment Project di Harvard Law School.

Pada 2015, ia mendirikan Justice Together, sebuah organisasi nirlaba yang bertujuan untuk "mengumpulkan puluhan ribu orang dari seluruh dunia, secara virtual, yang muak dengan kebrutalan polisi tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya." Sayangnya, organisasi itu bubar hanya beberapa bulan setelah didirikan.

Tiga tahun berselang, bersama Rai istrinya ia mendirikan Real Justice PAC. Misinya adalah membantu jaksa melakukan reformasi peradilan pidana di tingkat kabupaten dan kota.

Shaun merupakan salah satu tokoh kunci dalam kampanye #BlackLivesMatter, sebuah gerakan sosial politik yang dipicu kebrutalan polisi dan mengakibatkan tewasnya Trayvon Martin, Michael Brown, Eric Garner, dan Rekia Boyd. Misi gerakan tersebut adalah menghapus diskriminasi rasial yang kerap diterima masyarakat Afro-Amerika.

Di dunia maya, Shaun meluncurkan website The North Star, yang rutin memublikasikan kumpulan artikel, video, dan podcast. The North Star diambil dari nama surat kabar era 1900-an yang didirikan Frederick Douglass. Pada masanya, surat kabar tersebut dikenal konsisten menyuarakan anti perbudakan.

Pada 2016, Pusat Media dan Dampak Sosial, Fakultas Komunikasi, Universitas Amerika menyebut Shaun King sebagai salah satu aktivis kulit berwarna yang paling banyak dirujuk dalam kampanye #BlackLivesMatter, khususnya di Twitter.

Dua tahun kemudian, majalah TIME menobatkannya sebagai satu dari 25 orang paling berpengaruh di internet.

Kontroversi dan Syahadat

Seiring kesuksesannya sebagai aktivis, penulis, dan influencer, kabar tak sedap juga kerap menghampiri perjalanan karier Shaun King, salah satunya terkait donasi yang ia kumpulkan.

Kampanye penggalangan dana melalui aHomeinHaiti.org, menurut pengakuannya, berhasil menghimpun uang sebesar 1 juta dolar. Namun, Northwest Haiti Christian Mission (NWHCM) yang menangani penyaluran bantuan itu membantah angka tersebut dan mengklaim uang yang mereka terima kurang dari 600 ribu dolar.

Shaun juga dikritik terkait penggalangan dana yang ia gagas untuk Justice Together. Sejumlah aktivis mendesaknya agar menjelaskan ke mana perginya uang yang ia dapatkan untuk lembaga tersebut. Tuntutan mereka tidak main-main, sebab sebelumnya, setelah mendirikan gereja dan mengumpulkan donasi, Shaun mengundurkan diri dan menghilang.

Anggota Justice Together mengunggah surat terbuka dan menuduh Shaun melakukan mismanajemen terhadap donasi yang ia kumpulkan. Pada 2019, koalisi aktivis dari berbagai organisasi menyatakan bahwa dalam empat tahun terakhir, Shaun meluncurkan sejumlah program amal yang semuanya gagal dan lenyap tanpa pertanggungjawaban.

Pada 2020, tak lama setelah kematian George Floyd di tangan seorang polisi kulit putih, Shaun kembali mendulang kontroversi. Melalui akun Twitter pribadinya, ia mencuit bahwa patung dan mural yang menggambarkan Yesus sebagai pria kulit putih harus dibuang. Meski twit tersebut ia hapus, 20 ancaman kematian dalam tempo 12 jam telanjur ia terima.

"Ini sebagian besar membuktikan pendapatku," ujarnya menanggapi ancaman itu.

Infografik Mozaik Shaun King

Infografik Mozaik Shaun King. tirto.id/Parkodi

Satu hari menjelang Ramadhan tahun ini, kabar terbaru datang darinya. Dalam sebuah live broadcast di Instagram, Profesor Khaled Beydoun yang merupakan pakar islamofobia dan kebebasan sipil Amerika memperlihatkan dirinya yang sedang dibimbing membaca syahadat oleh ulama keturunan Palestina, Syekh Omar Sulaiman.

Setelah bersyahadat, Shaun berbicara di hadapan orang-orang yang menyaksikan acara tersebut bahwa keputusan menjadi muslim ia ambil setelah menyaksikan penderitaan warga Gaza dalam enam bulan terakhir. Ia juga memuji iman dan persistennya mereka dalam menghadapi situasi sulit itu, yang tak hanya membuka hatinya tapi juga jutaan orang di seluruh dunia.

Meski banyak yang senang dengan keputusannya, sejumlah media massa menulis berita tersebut dengan nada miring.

Website berita online asal Amerika Daily Dot mengangkat artikel berjudul "Baru Sehari Menjadi Muslim: Penggalangan Dana yang Diadakan Shaun King Setelah Masuk Islam Mengherankan".

Sementara itu Unherd, portal berita asal Inggris, menayangkan artikel pendek berjudul "Apakah Masuk Islamnya Shaun King Suatu Masalah?"

Penulis artikel itu, Ralph Leonard, menuding Shaun King sudah menemukan "demografi baru untuk ditipu, yaitu kaum muslim".

"Ini tidak akan menjadi awal dari pengembaraan spiritual yang sejati; sebaliknya, ini menandai tahap selanjutnya dalam karier Shaun King sebagai aktivis performatif," tulisnya.

Baca juga artikel terkait AKTIVIS atau tulisan lainnya dari Firdaus Agung

tirto.id - Humaniora
Kontributor: Firdaus Agung
Penulis: Firdaus Agung
Editor: Irfan Teguh Pribadi