Konflik Rusia-Ukraina: Apa Dampak Perang Terhadap Psikologi Anak?

Penulis: Yonada Nancy - 26 Feb 2022 12:30 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Anak-anak dan remaja dapat mengalami masalah mental yang serius sebagai dampak dari konflik bersenjata atau perang.
tirto.id - Konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina belakangan ini memengaruhi kualitas kehidupan warga sipil termasuk anak-anak.

Hingga Jumat (25/2/2022) dampak serangan roket serta ledakan yang terjadi di Ukraina telah menyebabkan ketakutan, kerusakan, hingga memakan banyak korban jiwa. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan, setidaknya ada 137 orang yang tewas selama hari pertama pertempuran.

Studi yang dilakukan oleh banyak ahli sepakat menyebut bahwa perang seperti di Sudan, Israel-Palestina, Afghanistan, dan baru-baru ini di Ukraina, hanya akan memberikan dampak negatif bagi anak-anak.

Situasi perang maupun konflik bersenjata tentu memengaruhi kondisi psikologis para korban terdampak. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak juga dapat memperoleh gangguan psikologis yang serius akibat perang.

Anak-Anak Lebih Rentan Terhadap Dampak Perang


Joanna Santa Barbara dalam studinya di tahun 2006 menemukan bahwa dampak perang pada anak-anak dapat lebih buruk dibandingkan pada orang dewasa.

Hal ini karena anak-anak dan remaja masih dalam masa pertumbuhan, baik secara fisik maupun psikis. Ketika mereka tumbuh di situasi konflik bersenjata, maka tinggi risiko mereka untuk mengalami masalah pertumbuhan serta perkembangan.

Kondisi tersebut tentunya dipicu oleh berbagai situasi yang umum terjadi pada anak-anak di zona perang, termasuk:

  • kekurangan makanan yang menyebabkan tidak tercukupinya gizi;
  • risiko mengalami kekerasan fisik dan seksual;
  • terpisah dari orang tua;
  • tidak dipenuhinya dukungan emosional dari orang dewasa;
  • tidak memperoleh layanan kesehatan yang layak;
  • terjangkit penyakit menular yang sebetulnya bisa dicegah;
  • anak-anak dipaksa melihat atau terlibat dengan situasi yang mengerikan, seperti pengeboman, pembunuhan, hingga kematian orang terkasih;
  • risiko direkrut kelompok bersenjata dan mengalami perbudakkan.

Situasi-situasi tersebut tentunya memicu pengaruh negatif terhadap mental atau psikologis anak-anak korban perang.


Dampak Psikologis pada Anak-Anak Akibat Perang


Masih dalam laporan studinya, Barbara mengungkapkan bahwa anak-anak korban perang dapat mengembangkan gangguan stres pasca-trauma (PTSD).

Hal ini turut didukung dengan studi yang dirilis oleh Manitoba Education and Early Childhood Learning, dimana anak-anak terdampak perang lebih rentan mengalami PTSD dibanding orang dewasa.

Menurut Barbara, PTSD bisa terjadi pada anak-anak yang berhadapan dengan situasi mengerikan di zona perang. Banyak kasus dimana anak-anak yang kehilangan anggota keluarga mereka mengalami tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi.

Dampak psikologis tersebut bahkan dapat memburuk dengan situasi kurangnya privasi dan kekerasan yang umum terjadi di pengusian.

Kondisi tersebut dapat berpengaruh dalam jangka panjang sehingga menyebabkan anak-anak kesulitan membangun hubungan dengan orang dewasa maupun teman sebayanya. Akibatnya, mereka berisiko mengatasi hal tersebut dengan alkohol atau penyalahgunaan obat-obatan.

Selain itu, anak-anak perempuan yang menjadi korban pemerkosaan juga rentan mengalami masalah mental serupa. Bahkan, beberapa kasus di wilayah perang, anak-anak perempuan yang telah diperkosa dijauhi oleh komunitasnya dan kehilangan kehidupan sosial.

Kondisi serupa juga bisa dialami oleh anak laki-laki yang dipaksa menjadi tentara anak. Situasi ini memaksa mereka harus melakukan tindakan diluar usia mereka, yaitu menembak, membunuh, atau melakukan kekerasan lainnya.

Berdasarkan studi yang dirilis oleh Harvard, tentara anak berisiko menanggung konsekuensi psikologis termasuk PTSD, depresi berat, permusuhan, kesedihan, tingkat percaya diri yang rendah, hingga ketidakmampuan mengatasi kehidupan sehari-hari.



Baca juga artikel terkait DAMPAK KONFLIK RUSIA UKRAINA atau tulisan menarik lainnya Yonada Nancy
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Yonada Nancy
Editor: Yantina Debora

DarkLight