Menuju konten utama

Kompolnas Sebut Pam Swakarsa Kali Ini Berbeda dengan Orde Baru

Ketua Harian Kompolnas mendukung calon Kapolri Komjen Listyo Sigit Prabowo untuk menghidupkan kembali Pam Swakarsa.

Kompolnas Sebut Pam Swakarsa Kali Ini Berbeda dengan Orde Baru
Ketua TGPF kasus Intan Jaya Benny Mamoto. ANTARA/Evarukdijati

tirto.id - Ketua Harian Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Benny Mamoto mengatakan Pam Swakarsa saat ini berbeda dengan zaman dahulu. Pada masa Orde Baru, pasukan pengamanan tersebut merupakan organ paramiliter yang dibentuk militer untuk membendung aksi demonstrasi mahasiswa.

"Istilah Pam Swakarsa ada di undang-undang, tapi karena dahulu pernah digunakan untuk kepentingan yang lain, masyarakat jadi trauma. Dahulu lebih politis, kalau ini kami ingin menggali potensi masyarakat, diberdayakan dalam harkamtibmas," ujar Benny dalam diskusi daring, Minggu (24/1/2021).

Menurut Benny, jumlah kepolisian saat ini terbatas, sehingga tidak mungkin setiap RT memiliki anggota polisi. Hal itu menjadi alasan kenapa Pam Swakarsa penting untuk didirikan kembali

Ia menjabarkan bahwa Polri hanya akan membina, mengarahkan dan melatih Pam Swakarsa.

Wacana menghidupkan kembali Pam Swakarsa dimunculkan oleh calon Kapolri Komjen Listyo Sigit Prabowo dalam rapat uji kelayakan di Komisi III DPR RI, 20 Januari lalu.

Pam Swakarsa, kata dia, penting dihidupkan kembali untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. "Pam Swakarsa harus lebih diperanaktifkan dalam mewujudkan kamtibmas. Jadi, kami hidupkan kembali," kata Sigit.

Dalam sejarahnya, Pam Swarksa pernah terlibat dalam pengamanan Sidang Istimewa 10-13 November 1998 yang melantik B.J Habibie sebagai presiden; mengamankan Sidang Umum MPR pada Oktober 1999; serta membantu aparat membendung demonstrasi mahasiswa yang menolak RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya.

Sebagaimana tertuang dalam buku Siapa Sebenarnya Dalang Pam Swakarsa? (2019) oleh tim penyusun Pusat Data dan Analisa Tempo, pada masa Orde Baru, beberapa anggota Pam Swakarsa mengaku ingin bergabung dan berpartisipasi karena mendapatkan uang saku. Di sisi lain, mereka pun tak punya pekerjaan.

Proses rekrutmen anggota Pam Swakarsa saat itu pun tidak dilakukan secara formal, bahkan cenderung "sembarangan". Pada masa itu, seorang penjual minuman di lingkungan Masjid Istiqlal pernah mengaku diminta mencari calon anggota Pam Swakarsa dan ia mendapat seratus orang.

Baca juga artikel terkait PAM SWAKARSA atau tulisan lainnya dari Adi Briantika

tirto.id - Hukum
Reporter: Adi Briantika
Penulis: Adi Briantika
Editor: Gilang Ramadhan