tirto.id - Banyak orang tidak menyadari bahwa galon guna ulang yang saban hari dipakai minum sebetulnya punya masa ideal pemakaian. David Tobing dari Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) menyebutkan, masa pakai ideal galon guna ulang adalah 40 kali isi ulang. Lewat dari itu, menurut David, galon guna ulang bisa disebut ganula–galon lanjut usia–alias kadaluarsa.
"Nah, kalau seminggu dipakai sekali, maka dalam satu tahun galon itu seharusnya tidak boleh digunakan lagi," jelas David.
Melalui investigasi yang dilakukan KKI di lima kota besar di Indonesia, David menemukan bahwa lebih dari 40 persen galon yang digunakan masyarakat berusia lebih dari dua tahun. Bahkan galon yang diproduksi tahun 2019 dan 2020 masih beredar di pasaran.
David kemudian menyoroti risiko pelepasan zat kimia Bisphenol-A atau BPA yang lazim terdapat pada polikarbonat, komponen utama galon guna ulang. BPA berpotensi menjadi endocrine disruptor atau zat berbahaya yang dapat mengganggu sistem hormon tubuh manusia.
"Bisa berdampak pada kesuburan, perkembangan anak, dan risiko penyakit lain, termasuk kanker, jika terpapar terus-menerus," tegas David.
Survei yang dilakukan KKI Jakarta, Medan, Bali, Banjarmasin, dan Manado juga menunjukkan bahwa 83,7% responden tidak pernah memperhatikan informasi produksi pada galon. Informasi ini biasanya diletakkan di area bawah, sehingga sukar kelihatan.
Temuan KKI lainnya, 43,4% responden tidak tahu bahwa galon guna ulang bisa mengandung BPA. Setelah diberi penjelasan tentang bahaya BPA, 96% responden akhirnya menyatakan setuju agar pelabelan peringatan BPA dipercepat tanpa perlu menunggu hingga 2028 sebagaimana yang tengah direncanakan belakangan ini.
"Undang-Undang Hukum Pidana saja jedanya 2 tahun, kok ini 4 tahun?" Sambung David.
Melihat tingginya potensi paparan BPA, KKI mendesak pemerintah dan produsen air minum agar segera mempercepat kewajiban pelabelan risiko BPA, serta mencantumkan masa pakai galon dengan jelas. Bagi KKI, keduanya penting agar hak konsumen atas informasi yang transparan terpenuhi, sehingga mendapatkan perlindungan maksimal.
"Konsumen berhak tahu informasi galon yang mereka gunakan setiap hari," ujarnya.
Sementara bagi konsumen, David menyarankan agar masyarakat lebih kritis. Galon yang tampak kusam, penuh baret, bahkan penyok–yang sering kali masih digunakan–sebaiknya dipensiunkan, tidak digunakan lagi.
"Selain aturan yang harus diperbaiki, edukasi publik juga harus ditingkatkan agar semua lapisan masyarakat paham bahaya BPA dan ‘ganula’ bagi kesehatan," pungkas David.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id


































