Kisah Para Aktivis yang Bertaruh Nyawa untuk Melawan Korupsi

Oleh: Artika Sari - 6 Februari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Ratusan orang di Ukraina berdemo di jalanan Kiev pada Senin (4/2/2019) lalu menuntut Presiden Petro untuk mengungkap nama-nama yang terlibat dalam pembunuhan Kateryna Handziuk.
tirto.id - Pada Sabtu (2/2/2019) kemarin, menjadi hari yang sibuk bagi Muhamad Gilang Wicaksono dan seorang koleganya.

Kedua penyidik KPK ini sedang melakukan investigasi di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat saat beberapa orang menyerang mereka.

Tak hanya menyerang, barang-barang Gilang dan koleganya pun dirampas. Dalam investigasi lanjutan pasca penyerangan tersebut, Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan hard disk CCTV telah diformat sehingga menyulitkan penyelidikan.

Semakin tinggi sebuah pohon, semakin kencang angin menerpanya. Peribahasa itu tak berlaku pada KPK saja, tapi juga pada para aktivis anti-korupsi di sejumlah negara.

Di Ukraina, sekitar seratus orang berdemo di jalanan Kiev pada Senin (4/2/2019) lalu menuntut Presiden Petro Poroshenko untuk jujur mengumumkan nama-nama yang terlibat dalam pembunuhan Kateryna Handziuk.

Seperti dilaporkan Unian, tiga bulan pasca kematian Handziuk, pihak-pihak terkait tak kunjung merilis siapa saja dalang di balik penyerangannya.

Para pendemo menduga ketidaktransparan ini terjadi lantaran adanya keterlibatan sejumlah politikus dari Partai Solidaritas, partai yang menaungi Poroshenko.

Sebelum meninggal pada 4 November lalu, Handziuk, seperti yang dialami Novel Baswedan, disiram asam sulfat oleh seorang lelaki saat keluar dari rumahnya di tenggara Kherson.

Sepertiga tubuh perempuan 33 tahun itu mengalami luka bakar serius yang kemudian membuatnya harus menjalani 11 operasi.

Penasihat Wali Kota Kherson ini dikenal kritis terhadap kepolisian lokal yang dinilainya tak bekerja dengan jujur.

Artem Antonshcuk menjadi salah satu polisi yang dituduhnya menerima 3 persen sogokan untuk memuluskan proyek-proyek di Kherson.

Empat hari setelah kematian Handziuk, Agnes Kharshiing menjadi aktivis anti-korupsi berikutnya yang diserang.

Seperti diwartakan The Hindu, perempuan asal Meghalaya, India ini diserang sekitar 40 orang saat tengah melakukan perjalanan bersama temannya, Amita Sangma, ke East Jaintia Hills.

Kharshiing menjadi sasaran pembunuhan lantaran berhasil mengungkap perdagangan batu bara ilegal yang dilakukan oleh sejumlah pemilik lahan.

Perempuan 58 tahun ini merekam setiap proses dari bagaimana pemilik lahan mempekerjakan anak di bawah umur hingga pengangkutan batu bara ke luar negara bagian.

Kharshiing lolos dari percobaan pembunuhan lantaran Sangma sempat berteriak minta tolong. Akibat penyerangan ini pula, publik menuntut investigasi atas penyelenggaraan pemilihan umum dan sejumlah politikus di Meghalaya.

Dari India, bergeser ke Ghana. Ahmed Hussein-Suale menambah daftar panjang jurnalis anti-korupsi yang dibunuh.

Melansir CNN, Hussein-Suale yang tengah menyetir di jalanan Madina ditembak dua lelaki pada Rabu (16/1/2019).

Film dokumenter berjudul “Number 12 – When Greed and Corruption Become the Norm” yang dirilis Tiger Eye Pi, media tempatnya bekerja, diduga menjadi alasan pembunuhannya.

Dalam film itu, Hussein-Suale menyoroti korupsi dalam sepak bola Afrika, termasuk yang dilakukan Presiden Asosiasi Sepak Bola Ghana Kwesi Nyantakyi. Hasil investigasinya ini membuat banyak pihak tak senang.

Sebelum dibunuh, Hussein-Suale telah mendapat ancaman dari seorang anggota parlemen Ghana bernama Kennedy Agyapong. Dalam wawancaranya dengan NET 2, Agyapong menganggap Hussein-Suale berbahaya.

Dia juga mengatakan akan membayar orang yang bersedia memukul lelaki itu. Tiger Eye Pi melalui pengacaranya, Agyebeng mengatakan Agyapong patut masuk dalam daftar orang yang perlu diselidiki.

“Kami dikomplain saat video itu rilis. Dia bilang dalam bahasa lokal dia akan menawarkan hadiah bagi siapapun yang mau memukulnya. Dia mengancam hidup seorang lelaki muda dan sekarang inilah yang terjadi. Dia punya banyak pertanyaan untuk dijawab,” kata Agyebeng.


Baca juga artikel terkait KORUPSI atau tulisan menarik lainnya Artika Sari
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Artika Sari
Editor: Yandri Daniel Damaledo
DarkLight