Kisah Betadine: Eks Baret Merah Jual Obat Merah

Oleh: Petrik Matanasi - 11 November 2017
Dibaca Normal 2 menit
Betadine jadi nama identik bagi obat merah di Indonesia sejak bekas dokter RPKAD dapat lisensi untuk memproduksinya.
tirto.id - “Kini hampir semua orang di Indonesia ingat Betadine, bukan obat merah, jika terluka,” kata dokter Tjan alias Kahar Tjandra dalam 75 tahun Kahar Tjandra: Pengabdian Paripurna Dokter dan Entrepreneur Sejati (2004) yang disusun Agus Purwodianto. Dalam buku terbitan 2004 itu juga ditulis, “25 tahun sudah Betadine mengobati 'luka' anak bangsa.”

Obat ini tak hanya dikenal mereka yang pernah terluka hingga berdarah, tapi juga anak-anak sekolah yang tergabung dalam organisasi Palang Merah Remaja (PMR). Mereka lebih sering menyebut pengobat luka itu dengan nama mereknya: Betadine. Setidaknya, banyak kotak P3K menyimpan obat luka luar ini.

Seperti tertera dalam situs resmi perusahaan produsen, obat ini “mengandung Povidone iodine dan merupakan antiseptik superior yang diterima secara luas.” Betadine merupakan pengembangan dari iodine temuan Alexander Fleming dari masa Perang Dunia II. Zat penyembuh luka luar itu diluncurkan pertama kali pada 1955.

Baca juga: Antibiotik yang Malah Membuat Sakit

Providone iodine dengan merek Betadine sendiri sudah dipasarkan dan mendunia pada 1963. Ketika itu, orang yang turut berjasa menyebarluaskan Betadine di Indonesia, Tjan Ke Hoat alias Kahar Tjandra, belum punya pabrik atau toko obat. Laki-laki keturunan Tionghoa kelahiran Padang 24 November 1929 tersebut masih terlihat gagah dengan seragam militernya.

Tjan kala itu masih bekerja sebagai dokter sekaligus perwira kesehatan di Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang kini jadi Kopassus. Pangkatnya Letnan Satu dan boleh tenteng pistol seperti perwira Angkatan Darat lainnya. Namun, karier militer itu terkesan batu lompatan saja dalam hidupnya.

Baca juga:

Dokter Tentara Berjiwa Wiraswasta

Tjan tak mau berlama-lama menjadi tentara atau menunggu pangkatnya naik mendekati jenderal. Jika dia bertahan, barangkali orang-orang Orde Baru akan takut padanya dan tak berani memanggilnya “Cina.” Di masa Orde Baru, orang-orang dengan seragam militer memang begitu dihormati.

“Ia ingin merintis dan mengembangkan kariernya sebagai dokter swasta di Jakarta,” tulis Agus Purwodianto dalam Kahar Tjandra: Dokter, Pengusaha dan Pengabdiannya (1994). Itulah kenapa Tjan merasa harus meninggalkan dunia militer. Jelang Kahar keluar, Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo memanggilnya.

"Kenapa Dokter Tjan mau keluar? Tetap saja di kesatuan," bujuk Sarwo Edhie. Tjan pun mengaku, “Maaf, Pak, sepertinya saya ini tak punya jiwa tentara." Sarwo pun lalu bertanya kembali, “Saya dengar Dokter Tjan mau sekolah lagi?” Dan Tjan pun mengiyakannya.

Dokter Tjan memang benar-benar keluar. Menurut catatan Sam Setyautama dalam Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia (2008), dari 1964 hingga 1984 dia adalah dokter di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Pernah juga dia menjadi pengajar di almamaternya, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Baca juga:
Tonggak penting kewirausahaan Tjan terjadi di tahun 1967. Ruang tamu rumahnya di Jalan Mahakam, Jakarta Selatan, dijadikan apotek yang merupakan cikal-bakal Apotek Mahakam. Usaha Dokter Tjan tak hanya apotek saja. Pada 1977, ia mulai melebarkan sayap dengan membeli perusahaan farmasi yang hampir kolaps, PT Daya Muda Agung (DMA). Perusahaan inilah yang memegang lisensi penjualan Betadine di Indonesia.

Sejak dimiliki Tjan, penjualan Betadine bangkit kembali. Bahkan, hanya tiga tahun setelah itu, ia membeli lisensi untuk memproduksi Betadine di Indonesia. PT Mahakam Beta Farma pun didirikan dan mulai beroperasi pada 1980. Semula pabriknya berada di lahan seluas 500 m2, di Jalan Limo, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Kapasitas produksinya ditingkatkan dengan membuka pabrik lagi di Kawasan Industri Pulogadung.

infografik tjan yang membasuh luka


Betadine yang merambah pasar sejak awal 1980-an, saat ini namanya sudah identik dengan produk obat merah. Ia bisa disejajarkan dengan seperti produk-produk legendaris macam Honda yang nyaris selalu dipakai untuk menyebut sepeda motor, Sanyo untuk pompa air listrik, Aqua untuk air mineral, Toa untuk pengeras suara, Odol untuk pasta gigi, dan lainnya.

“Sebagian besar penyandang gelar nama generik (itu) adalah pionir untuk kategori setiap produk,” tulis Hermawan Kertajaya dalam Hermawan Kertajaya on Brand (2007).

Baca Juga:
Menurut catatan Sam Setyautama, bisnis yang dimiliki Tjan tak hanya terkait Betadine. Ia memperluas cakupan usahanya pada berbagai produk: genteng berwarna dalam bendera PT Perumindo Indah; pabrik kecap Maya, saus, cabe, juga sirup dalam PT Inkenas Agung; kembang plastik dalam PT Golden Star Plastic Works; gas bius N2O dalam PT Beta Gasindo Agung.

Tjan bahkan berani merambah bisnis kue dengan mendirikan Le Gourmet Bakery and Cake—yang diurus istrinya. Apotiknya ada di mana-mana; tak hanya Mahakam, tapi juga Apotek Prapanca, Apotek Perla, dan Apotek Senapati. Tjan juga pemilik Laboratorium Klinik Mahakam dan Johar Baru.

Baca juga artikel terkait OBAT-OBATAN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan