5 Januari 1963

Kiprah Doel Arnowo dalam Sejarah Universitas Brawijaya

Oleh: Petrik Matanasi - 5 Januari 2022
Dibaca Normal 2 menit
Universitas Brawijaya pernah dipimpin oleh Doel Arnowo dari PNI. Saat Sukarno tak lagi berkuasa, ia pun ikut dilengserkan.
tirto.id - Doel Arnowo adalah kolega lawas Presiden Sukarno. Mereka sama-sama bagian dari Partai Nasional Indonesia (PNI). Setelah menjadi Walikota Surabaya pada 1950-an, dekade 1960-an dia menjabat sebagai rektor pertama Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang. Ketika posisi Sukarno kian sulit setelah G30S, posisinya juga ikut terhimpit.

Doel Arnowo dipaksa berhenti sebagai rektor Universitas Brawijaya pada 1966 oleh golongan mahasiswa yang mengaku anti-komunis.

“Di Unibraw Rektor Doel Arnowo, tokoh PNl yang dianggap dekat dengan PKI atau minimal membiarkan PKl merajalela, dilengserkan anak-anak HMI,” tulis Anwar Hudjiono dan ‎Anshari Thayib dalam Darah Guru Darah Muhammadiyah (2020:52).

Menurut mantan anggota HMI, Sulastomo, dalam Hari-hari yang Panjang Transisi Orde Lama ke Orde Baru (2008:122), pada 20 Mei 1964 sebagai rektor Universitas Brawijaya, Doel Arnowo tidak melakukan pelarangan terhadap kehadiran Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di kampusnya. Padahal kala itu HMI sudah menjadi organ yang dimusuhi pemerintahan Sukarno terkait dengan Partai Masyumi yang terlibat dalam PRRI di Sumatra.

Doel Arnowo kemudian digantikan oleh Brigadir Jenderal dr Erie Sudewo dan kemudian oleh Mayor Jenderal Moejadhi. Keduanya memimpin di masa transisi Orde Lama ke Orde Baru. Terjungkalnya Doel Arnowo membuktikan bahwa kampus ini adalah salah satu kampus berpengaruh di Jawa Timur, selain Universitas Airlangga.

Universitas Brawijaya masih terhitung baru berdiri ketika Sukarno sebagai presiden RI dan Doel Arnowo sebagai rektornya dilengserkan. Universitas ini adalah satu dari 18 universitas yang didirikan antara Agustus 1962 hingga November 1963. Kampus tidak langsung terlahir negeri, melainkan partikelir meski dalam pendiriannya orang pemerintah sudah terlibat.

Pada 10 Mei 1957 tercetus pendirian universitas di Malang. Untuk itu sebuah yayasan bernama Yayasan Perguruan Tinggi Malang (YPTM) dengan akta notaris nomor 48 tertanggal 28 Mei 1957. Yayasan ini kemudian membuka sebuah perguruan tinggi hukum. Pada tahun yang sama, yakni tanggal 15 Agustus 1957, sebuah yayasan lain mendirikan perguruan tinggi ekonomi. Dari sinilah Universitas Brawijaya bermula.

Perguruan tinggi yang pernah memakai nama Universitas Kotapraja Malang ini sempat menggunakan Balai Kota Malang sebagai ruang belajarnya. Sebelum menjadi negeri, setelah Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi hadir, menyusullah Fakultas Pertanian dan Fakultas Administrasi Niaga di kampus ini.

Sebelum menjadi negeri secara resmi, nama universitas pun dipilih. Brawijaya diambil dari nama raja-raja terakhir Majapahit. Sejarah Malang terkait pula dengan Tumapel (nama wilayah perkuwuan yang dipimpin Tunggul Ametung yang kemudian direbut Ken Arok) dan Kartanegara. Keduanya berpeluang menjadi nama universitas. Namun arsip digital tentang Universitas Brawijaya menyebut sejak 3 Oktober 1961, nama Universitas Brawijaya (Unibraw) mulai resmi dipakai. Nama kampus ini sama dengan nama Komando Daerah Militer (Kodam) yang membawahi Jawa Timur.


Usul lewat Ludruk

Doel Arnowo (1904-1985) lahir di Kampung Genteng, dekat Plampitan dan Peneleh yang dihuni banyak kaum nasionalis sejak muda.

“Doel Arnowo adalah tokoh pergerakan terkenal di Surabaya, sejak PNI berdiri tahun 1927, ia telah aktif menjadi anggota partai tersebut. Ia dipecat sebagai pegawai kantor pos karena menolak perintah agar ia berhenti sebagai anggota PNI,” tulis Moehkardi dalam Peran Surabaya dalam Revolusi Nasional 1945 (2020:29).

Terkait dengan Universitas Brawijaya, Doel Arnowo kemudian disepakati secara aklamasi sebagai rektor pertama kampus ini. Ia yang punya kolega penting di pusat (Jakarta) lalu menjadi harapan rekan-rekannya di Universitas Brawijaya.

Infografik Mozaik Universitas Brawijaya
Infografik Mozaik Universitas Brawijaya. tirto.id/Tino


Doel Arnowo membawa rombongan Ludruk Marhaen untuk manggung di istana Jakarta. Presiden dan pejabat tinggi lainnya akan menonton pertunjukan ala jawatimuran itu. Doel Arnowo ikut mengarahkan skenario pertunjukannya. Hingga muncul dialog terkait Unibraw.

+: Jare anakmu kuliah nduk Malang? (Katanya anakmu kuliah di Malang)

- : Iya, nduk nggone UNBRA (Ya, di UNBRA)

+: Lha kenek apa kok gak mari-mari? ( Kenapa enggak selesai juga)

-: Lha wong gak ndang dinegrekna (Habis, nggak cepat dinegerikan)

+: Lha kenek apa kok gak ndang dinegrekna? (Kenapa enggak cepat dinegerikan)

-: Gak kober bee. (Enggak sempat kali)


Setelah pertunjukan itu, presiden menegur Mr Sartono (juga mantan PNI era kolonial) dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakjat Moeljadi Djojomartono. Dan teguran soal itu juga akhirnya sampai ke Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Toyib Hadiwijaya yang mengisi jabatan itu antara 1962 hingga 1964. Kemudian keluarlah SK Menteri PTIP No. 1 tahun 1963 pada tanggal 5 Januari 1963 dan Universitas Brawijaya pun menjadi salah satu universitas negeri di Malang, seperti harapan para pendiri yang menunjuk Doel Arnowo.

Setelah gempa politik 1965, Doel Arnowo dijatuhkan oleh sebagian mahasiswa yang mengaku Angkatan 66, meski Doel Arnowo bukan bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI) yang hendak dihabisi Angkatan 66 yang dibekingi militer Orde Baru.

Baca juga artikel terkait UNIVERSITAS BRAWIJAYA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh Pribadi
DarkLight