Misbar

Killing Eve S3: Berusaha Keras Tampil Sebaik Musim Sebelumnya

Film killing eve. BBC/SID GENTLE FILMS
Oleh: Irma Garnesia - 7 Juni 2020
Dibaca Normal 3 menit
Hubungan dua perempuan di bawah praktik spionase kelas dunia.
Saya hanya ingin mencari tontonan yang menghibur sekitar dua tahun lalu ketika Killing Eve musim perdana pertama kali tayang di BBC America. Episode pertama yang berjudul “Nice Face” itu disiarkan pada 8 April 2018 dan jadi obrolan yang ramai di jagat maya.

Barangkali, premisnya yang cukup sederhana dan banyak ditemukan pada seri kriminal lain tak mudah bikin orang tertarik. Seri ini bercerita tentang agen intelijen British, Eve Polastri (Sandra Oh), yang selalu kebagian tugas remeh menganalisis dokumen dan mengamankan saksi kunci, padahal tentu Eve punya potensi lebih. Sementara Villanelle (Jodie Comer) adalah pembunuh kelas kakap terlatih yang terkenal tanpa ampun. Keduanya terlibat dalam permainan kejar-kejaran cat and mouse dan saling terobsesi satu sama lain.

Satu hal yang bikin seri ini berbeda adalah protagonis dan antagonisnya yang alpha female, sesuatu yang jarang ditemui dalam laga cat and mouse yang biasa didominasi lelaki. Keduanya juga terlihat sebagai rival yang setara, meski awalnya Eve adalah tukang urus dokumen dan Villanelle jagal profesional.

Hal lainnya adalah Phoebe Waller-Bridge, kreator sekaligus penulis musim pertama. Waktu itu nama Waller-Bridge sedang naik karena seri Fleabag, drama komedi tentang perempuan London yang pesimistik, canggung, sarkastik--pokoknya jauh dari sempurna.

Alasan-alasan itu membuat saya terus mengikuti seri laga kriminal Britania Raya ini.

Killing Eve sendiri diangkat dari tiga seri novel Villanelle karya Luke Jennings. Berbeda dari kebanyakan seri yang punya satu penulis utama, Killing Eve memiliki penulis berbeda pada musim-musim berikutnya. Musim kedua, misalnya, ditulis oleh Emerald Fennell, dan musim ketiga oleh Suzanne Heathcote.

Waller-Bridge tak buang waktu untuk masuk ke detik-detik menegangkan. Eve, yang ditunjuk Carolyn (Fiona Shaw) bergabung dengan MI6, langsung menjalankan operasi untuk mengungkap dalang di balik seri pembunuhan elite-elite penting yang malang itu. Kemudian, alih-alih mengikuti jurus lawas di mana Eve disibukkan mengusut kasus demi kasus yang pelan-pelan akan membawanya kepada Villanelle, Waller-Bridge justru secara cepat dan gamblang memberi momen kepada keduanya. Ia bahkan membiarkan Bil, rekan kerja sekaligus karib bagi Eve--yang posisinya setara dengan Watson pada Sherlock--terbunuh pada episode ketiga.

Musim pertama Killing Eve memang tepat sasaran; aksi bunuh-bunuhan yang mencekam, relasi antara Eve dan Villanelle yang dieksekusi secara lugas, dan akhir yang tragis.

Penggambaran relasi antara Eve dan Villanelle juga dinilai telah melampaui gambaran usang representasi hubungan queer dalam film atau serial, yakni queerbaiting, yang hanya digunakan untuk menarik lebih banyak penonton. Killing Eve menunjukkan bahwa hubungan queer tak selalu butuh konfirmasi lewat adegan-adegan seksual eksplisit yang justru mengesampingkan ketertarikan yang lebih kompleks.

Musim kedua juga berusaha membuktikan bahwa relasi Eve-Villanelle akan berakhir dengan malapetaka. Namun, keduanya terlalu keras kepala untuk menyadari semua itu dan bersikeras menuruti kata hati. Emerald Fennell, penulis musim kedua, memastikan bahwa penyatuan keduanya merupakan bencana. Namun, Fennell membiarkan Eve dan Villanelle mengeksplorasi romansa yang dikira bakal berjalan baik itu, sampai satu orang, atau keduanya, menyesal belakangan.

Selama tiga tahun, Killing Eve telah mendudukkan atraksi Eve dan Villanelle sebagai episentrum cerita. Tentu selama tiga musim tersebut mereka sudah saling goda, mencoba memahami isi kepala masing-masing, saling melukai, hingga berpisah. Namun, keduanya tidak pernah benar-benar memulai sebuah relasi romantis.

Bahkan setelah episode-episode panjang di musim ketiga, penulis Suzanne Heathcote masih sibuk mengeksplorasi hal-hal di sekitar Eve dan Villanelle, dan malah menggantungkan nasib percintaan keduanya pada Laura Neal yang akan melanjutkan musim keempat.

Episode final, “Are You Leading or Am I?” malah berakhir anti klimaks dengan keduanya saling memunggungi dan berjalan ke arah yang berlawanan. Keputusan ini tak setara dengan aksi brutal keduanya pada akhir musim-musim lalu.

Bukankah Eve tak tertarik lagi pada kehidupan rumah tangga yang tenang dan tak berombak seperti yang dulu ia punya dengan Niko. Ketika dua perempuan itu berdansa pada episode final, Villanelle sempat bertanya, “Apa kau mau menua seperti pasangan itu?” yang dijawab “Tidak lagi” oleh Eve.

Sementara Villanelle tak ingin membunuh lagi. Benar, Vilanelle yang psikopat dan pembunuh terlatih kelas dunia, ingin berhenti dari pekerjaannya sebagai tukang jagal bayaran.



Bukankah kita setuju bahwa rasa suka Villanelle kepada Eve membuat dirinya lebih baik? Di sisi lain, Eve telah mengeksplorasi sisi yang tak pernah ia tahu dari dirinya. Ia kini perempuan berani yang tak takut menghadapi masa depan yang tak dapat diprediksi itu--karena Villanelle.

Pertemuan keduanya di bawah praktik spionase kelas dunia memang membuat relasi romantis yang ingin mereka capai tak mudah. Eve sempat mengatakan, “Kita tak akan menua bersama, karena kita akan saling bunuh bahkan sebelum mencapai usia itu.”

Apa yang telah dilakukan Villanelle pada Eve memang jadi alasan kuat untuk tidak kabur bersama perempuan itu, tapi juga bukan alasan yang tepat untuk pergi begitu saja. Apalagi keduanya seperti sumbu yang saling menarik satu sama lain.

Killing Eve musim ketiga masih sibuk mengulik hal-hal yang berada di sekitar Eve atau Villanelle; dari masa lalu Villanelle hingga kunjungan dari rekan lama bernama Dasha. Musim ini malah sangat lamban melucuti kedok The Twelve, yang harusnya bisa sangat menarik. Musim ketiga juga terlunta-lunta menelusuri jejak kematian Kenny yang punya peran penting pada musim lalu.

Seperti yang ditulis Indiewire, hal-hal yang ditampilkan di episode final terkesan hanya memanjang-manjangkan cerita untuk musim selanjutnya. Padahal kita ingin menyaksikan Killing Eve seperti yang dikenalkan Waller-Bridge di awal; brutal, lugas, dan menyenangkan.

Laura Neal bakal punya tugas yang besar untuk menentukan relasi romantis sekaligus berbahaya antara Eve dan Villanelle dan juga membongkar pergerakan gelap kelompok mafia The Twelve.

Baca juga artikel terkait MISBAR atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Film)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight