Misbar

Malam Para Jahanam: Sebuah Upaya Mencegah Tuna Sejarah

Kontributor: Jonathan Manullang, tirto.id - 16 Des 2023 08:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Malam Para Jahanam hadir meramaikan rilisan horor di pengujung tahun ini. Membawa latar dan isu penting bagi generasi baru secara implisit.
tirto.id - Khasanah sinematik tanah air Pascareformasi 1998 sesungguhnya cukup sering menampilkan narasi berlatar belakang sejarah faktual. Produksinya pun bersifat lintas genre, tak terkecuali genre horor.

Karya horor legendaris dari tahun-tahun awal Pascareformasi agaknya adalah film Pocong (2006) arahan Rudi Soedjarwo. Film tersebut mengambil latar di sekitar peristiwa Kerusuhan Mei 1998. Sayang sekali, ia gagal lulus sensor akibat narasinya yang dianggap terlalu kontroversial.

Sepanjang tahun ini, film horor berlatar sejarah juga muncul. Misalnya bisa kita saksikan dalam serial Teluh Darah karya Kimo Stamboel dan film Khanzab besutan Anggy Umbara. Keduanya dalam derajat tertentu mengusung asosiasi dengan tragedi pembantaian terduga dukun santet di Banyuwangi medio 1998.

Lalu di pengujung tahun ini, hadirlah Malam Para Jahanam yang berupaya merekonstruksi suatu masa gelap yang terjadi nyaris enam dekade silam, tepatnya kondisi huru-hara usai pecahnya Gerakan 30 September 1965. Sejarah mencatat bahwa peristiwa kelam itu kemudian diikuti dengan penangkapan, penahanan tanpa proses hukum, dan bahkan pembunuhan terhadap eksponen PKI dan orang-orang yang dianggap berafiliasi dengannya di daerah-daerah.

Catatan atas praktik kejam tersebut di antaranya bisa dibaca dalam buku G30S: Fakta atau Rekayasa karya Julius Pour. Estimasi jumlah korban kekerasan 1965 juga sulit dipastikan karena berbagai hambatan.

Taksiran yang dilakukan oleh beberapa lembaga baik dari Pemerintah Indonesia maupun NGO menghasilkan angka yang cukup variatif. Sebuah lembaga swadaya, misalnya, menyatakan korban jiwa hingga Desember 1965 mencapai 80.000 orang. Lain pula data milik Pemerintah Indonesia. Menteri Penerangan kala itu menyampaikan jumlah korban meninggal di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, serta Sumatera Utara yang menjadi area konsentrasi penghilangan paksa menyentuh 800.000 orang.

Mereka yang menekuni sejarah pasti familier dengan istilah “malam jahanam” yang kerap dipakai untuk merujuk peristiwa penculikan dan pembunuhan enam jenderal beserta seorang perwira pertama pada dinihari 1 Oktober 1965. Judul tersebut secara gamblang mereplikasi istilah dengan latar amuk massa di daerah-daerah yang pernah menjadi basis Partai Komunis Indonesia seusai kejadian G30S.

Latar spesifik Malam Para Jahanam adalah sebuah pedesaan yang warganya terpecah dalam dua kubu. Permusuhan yang terjadi di antara dua kubu ini dilatari oleh perbedaan ideologi politik. Usai G30S 1965, permusuhan itu pun meruncing menjadi pertumpahan darah dalam waktu singkat.

Puluhan tahun kemudian, bekas kuburan massal para korban pertikaian tersebut mencuatkan desas-desus yang menjurus kesan angker di kalangan masyarakat setempat.

Keputusan para sineas Malam Para Jahanam mengambil latar sejarah kelam dan kontroversial tersebut boleh dibilang merupakan langkah berani. Di tengah stigma yang masih pekat terhadap mereka yang dituduh terlibat G30S 1965, langkah berani tersebut juga menerbitkan rasa penasaran: akan seperti apa filmnya.



Konflik Horizontal

Salah satu poin krusial yang diketengahkan dalam Malam Para Jahanam adalah soal pertentangan antara kelompok agamis dan kaum komunis jelang malam jahanam 1965. Pertentangannya demikian keras dan kedua belah pihak pun terlibat saling memprovokasi. Eskalasi konfliknya pun tak jarang pecah jadi aksi penculikan antarkader atau simpatisan.

Malam Para Jahanam memilih konfrontasi ini sebagai titik tolak kisahnya. Tersebutlah Desa Winongo di Jawa Tengah yang semula tenteram mendadak memanas memasuki tahun 1965. Penonton diperkenalkan kepada Malik (Teddy Syach) dan Bahtiar (Derry Oktami), sepasang sahabat sejak kecil yang mengusung ideologi berbeda setelah beranjak dewasa.

Mereka berdua menyebar kebencian diantara pengikut-pengikutnya. Kebencian itu menyasar kaum yang ditengarai sebagai kader-kader komunis. Berita G30S dari Jakarta kemudian menyulut bentrok di desa mereka.

Desa Winongo berubah menjadi ladang pembantaian. Lantaran begitu banyak korban jatuh di kedua belah pihak, warga desa tetangga sampai mengatakan bahwa desa tersebut telah terkutuk.

Benar saja. Pada peringatan tanggal konflik itu setiap tahun, arwah para korban bergentayangan. Mereka menghantui penduduk yang lalai beribadah atau hidup ugal-ugalan selama tiga hari.

Para pendatang adalah target favorit gerombolan arwah penuh dendam ini. Korban tewas mulai berjatuhan dan memicu keresahan kolektif. Anak Malik, Marni (Djenar Maesa Ayu), menjadi saksi kunci atas teror keji itu.

Sutradara Indra Gunawan menyajikan ihwal konflik tersebut secara lintas dimensi. Dia seakan ingin menyatakan bahwa utang dendam di antara kedua kubu tak serta merta luntur oleh maut dan waktu.

Narasi lalu berpindah ke masa kini. Rendi (Harris Vriza) hendak memakamkan kakeknya di Winongo. Dia berangkat bersama beberapa sahabatnya. Sialnya, mereka tiba tepat saat tanggal peringatan tragedi. Dibantu oleh kerabatnya, Dira (Aghniny Haque), Rendi harus menyingkap misteri desa sambil berpacu dengan waktu.


Tuna Sejarah

Rendi, Dira, beserta teman-teman mereka digambarkan sebagai representasi Milenial dan Gen Z. Kelompok ini tidak sepenuhnya paham kenapa sekumpulan mayat hidup tetiba mengeroyok mereka dari segala arah.

Mereka adalah muda-mudi yang lahir dan bertumbuh di masa yang jauh setelah peristiwa 1965. Mereka mungkin tahu peristiwa itu dari buku pelajaran sekolah, tapi tak terhubung dengannya karena tak bersinggungan langsung dengan kehidupan kiwarinya.

Indra Gunawan agaknya tengah menghadirkan sebuah metafora melalui narasi tersebut. Ia merupakan cerminan dari kegamangan para Milenial dan Gen Z berhadapan dengan sejarah negerinya sendiri.

Belum lama ini, kita mendengar pernyataan “lucu” seorang ketua umum partai sekaligus anak bungsu presiden. Sang ketum muda bilang bahwa dia tidak mengerti Orde Baru dengan alasan dia masih sangat kecil ketika Soeharto berkuasa.

Pernyataan tersebut sekilas terkesan sederhana, tapi esensinya mengkhawatirkan. Jangan-jangan, ketidakpahaman tersebut justru menyuarakan realitas sebagian besar Milenial dan Gen Z. Padahal, ketakpahaman akan sejarah turut pula memengaruhi pemahaman akan negeri dan masyarakat tempat mereka hidup.

Mendekati tahun politik di depan, eksploitasi atas kondisi tuna sejarah itu akan kian masif. Ketidakpahaman akan sejarah bisa saja dieksploitasi sedemikian rupa demi membangun ulang citra positif (rebranding) terkait kandidat tertentu yang disinyalir menangguk beban psikologis masa silam.

Indra Gunawan selaku sineas Malam Para Jahanam turut mengamplifikasi kegelisahan serupa. Sebagai orang yang memiliki memori menyeramkan terkait peringatan 30 September 1965 di era Orde Baru, dia mengingatkan ancaman konflik horizontal yang dapat timbul di antara pendukung kandidat presiden/wakil presiden.

Kutukan repetisi dendam yang mengikat arwah Malik, Bahtiar, dan pengikut-pengikutnya dalam film adalah sebuah peringatan gamblang bahwa segala yang terjadi di masa lampau dapat terulang di situasi masa kini.

Tanpa memahami betul masa lalu sebuah bangsa, generasi baru mustahil mampu merumuskan cita-cita besar di masa depan. Maka generasi Milenial dan Gen Z perlu menanamkan poin itu dalam sanubari mereka—atau bangsa yang besar ini akan terjatuh dalam lubang yang sama berkali-kali.

Baca juga artikel terkait MISBAR atau tulisan menarik lainnya Jonathan Manullang
(tirto.id - Film)

Kontributor: Jonathan Manullang
Penulis: Jonathan Manullang
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight