Ketika Soeharto Dilempari Telur dan Ditimpuk Koran

Oleh: Petrik Matanasi - 2 Mei 2021
Dibaca Normal 2 menit
Insiden Dresden berhasil mempermalukan Soeharto di hadapan publik Jerman.
tirto.id - Pameran dagang Hannover Fair digelar pada April 1995. Indonesia adalah negara Asia Tenggara pertama yang jadi mitra dagang Jerman. Presiden daripada Soeharto akan menghadiri perhelatan tersebut. Beberapa bulan sebelum kedatangan Soeharto, aktivis HAM di Jerman sudah gelisah: mereka merencanakan aksi protes terhadap Soeharto yang dianggap punya catatan kelam dalam perkara hak asasi manusia.

Amnesty Internasional yang bermarkas di London juga hendak ambil bagian. Menurut laporan Forum Keadilan (11 Mei 1995), para aktivis hendak menjadikan Hannover Fair sebagai ajang mempermalukan Soeharto.

Penolakan atas kedatangan Soeharto akhirnya sampai juga ke kalangan parlemen kota. Jika presiden Indonesia itu tetap datang, maka mereka akan menggelar demonstrasi. Soeharto bukan satu-satunya sasaran kritik. Kanselir Jerman, Helmut Kohl, juga dikritìk karena dianggap kurang peka atas pelanggaran HAM yang dilakukan calon tamunya.

Sejak Hannover Fair dibuka pada 1 April 1995, demonstrasi sudah dimulai. Hari berikutnya, Soeharto akan datang membuka anjungan Indonesia. Waktu Soeharto ke Dusseldorf, para demonstran terus membuntuti. Forum Keadilan melaporkan, kala itu Soeharto masih bisa tenang. Namun, pada 5 April 1995 ketika ia dan rombongannya mengunjungi Museum Zwinger di Dresden--yang di dalamnya terdapat lukisan Raden Saleh--keadaan makin panas.

Jalur yang dilewati Soeahrto adalah jalur para demonstran yang penampilannya lebih mirip turis hingga tak terlihat sebagai sumber bahaya. Kala itu, ajudan Soeharto adalah Kolonel Sjafrie Sjamsoeddin.

“Saat itu pengawal resmi Pak Harto hanya tiga orang,” kata Sjafrie dalam buku Pak Harto: The Untold Stories (2012:78-79). Selain Sjafrie, Letnan Kolonel I Gusti Suweden juga ikut mengawal. Mereka berbagi tugas untuk menjaga kepala negara dan istrinya. Karier mereka dipertaruhkan.


Sjafrie dan rekannya kewalahan. Maklum, saat berada di luar negeri, pengawalan dari Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) sangat dibatasi negara yang dikunjungi. Dalam situasi seperti itu, Sjafrie melihat Soeharto tetap bersikap tenang.

“[Para demonstran] tidak hanya mengacung-acungkan poster, tapi ada [juga] yang melempar-lempar telur, melempar kertas, dan lainnya,” ujar Sjafrie.

Pada saat itu, Luciano ‘Romano’ Valentim Conceixao ikut dalam aksi protes. Kepada Vice Indonesia lelaki asal Timor Leste (dulu Timor Timur) ini mengaku, dirinya refleks menimpukan koran ke kepala Soeharto yang tengah dilindungi Sjafrie Sjamsoeddin.

Serangan terhadap Soeharto juga terjadi di tempatnya menginap. Bendera Merah Putih yang dikibarkan di depan Hotel Kempinski, Dresden, diturunkan setengah tiang. Atas kejadian itu, Soeharto kesal. Dengan cepat gangguan yang dialaminya itu sampai ke petinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).

Kepala Staf Umum ABRI, Letnan Jenderal Soeyono—menantu Menteri Urusan Peranan Wanita, Mien Sugandhi--tak tinggal diam. Dia menyebut Sri Bintang Pamungkas, Goenawan Mohamad, dan Yeni Rosa Damayanti sebagai biang kerok peristiwa yang disebut sebagai Insiden Dresden.

Infografik Soeharto Didemo di Jerman
Infografik Soeharto Didemo di Jerman. tirto.id/Fuad


Sri Bintang Pamungkas adalah orang yang nekat mendirikan partai di luar kemauan daripada Soeharto, yakni Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI). Sementara Goenawan Mohamad merupakan bekas pimpinan majalah Tempo yang diberedel pada tahun 1994 karena mengangkat kisah pembelian kapal perang bekas Jerman Timur. Dan Yeni Rosa Damayanti adalah mahasiswa yang dituduh menghina Soeharto.


"Keterlaluan yang luar biasa," ujar Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal R. Hartono. Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung tak ketinggalan mengatakan, "kalau ada orang Indonesia yang mendukung demonstrasi di Jerman, itu kurang ajar namanya."

Konon terdapat laporan yang menyatakan bahwa Sri Bintang Pamungkas tiba di Jerman pada 29 Maret 1995. Namun ia mengaku bahwa hari-harinya di Jerman diisi dengan ceramah-ceramah di beberapa kampus.

Menurut Sri Bintang Pamungkas dalam Menantang Seorang Diktator: Perjalanan di Jerman (2008:146), mereka yang anti-Soeharto dan merencanakan aksi demonstrasi di Dresden adalah anggota masyarakat dan para aktivis yang pernah beroposisi serta melawan rezim otoriter Partai Komunis Jerman Timur.

Setelah Soeharto pulang dari Dresden, komandan Paspampres diganti. Tongkat komando berpindah dari Brigadir Jenderal Jasril Jacub kepada Mayor Jenderal Sugiono. Pada tahun 1995 pula tugas Sjafrie Sjamsoeddin sebagai Komandan Grup A (grup pengawal presiden) di Paspampres berakhir. Ia digeser menjadi Komandan Korem 061/Surya Kencana di Bogor. Setahun kemudian, Sjafrie kembali ke Jakarta dan bertugas sebagai Kepala Staf Garnisun Tetap Ibukota, lalu menjadi Kepala staf Kodam Jaya, dan pada 1997 akhirnya menjadi Panglima Kodam Jaya.

Baca juga artikel terkait ORDE BARU atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight