Kendall Jenner dan Tubuh Telanjang Lain dalam Karya Seni

Oleh: Patresia Kirnandita - 28 Februari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Ketelanjangan bisa dikaitkan dengan perayaan tubuh, kesakralan, atau sekadar ekspresi seksual biasa.
tirto.id - Model dan bintang reality show Kendall Jenner kembali menarik perhatian khalayak lewat unggahan di media sosialnya. Pada Senin (26/2) lalu, ia memublikasikan foto-foto dirinya yang tak berbalut apa pun di Instagram, hasil jepretan Sasha Samsonova.

Dalam karya-karya fotografi ini, Kendall tidak frontal memperlihatkan tubuhnya secara keseluruhan. Di salah satu foto, tampak ia duduk di atas meja dengan pose kaki menyilang menutupi alat kelamin dan tangan menghalangi puting.

Kendall menambah catatan pesohor-pesohor yang bernyali tampil bugil di depan kamera. Untuk keperluan albumnya, Selena Gomez sempat berpose serupa dan juga mengunggahnya di Instagram pada September 2015.

Tahun 1992, Madonna pernah menerbitkan buku berjudul Sex yang berisi foto-foto dirinya dan sejumlah model lain yang eksplisit secara seksual. Bagi sebagian orang, karya Madonna bisa dianggap tak lebih dari pornografi, tetapi yang lainnya dapat menangkap muatan seni pada gambar-gambar dalam Sex. Pada tahun 2012, foto telanjang Madonna yang lain yang diambil fotografer Steven Maisel tahun 1990 dilelang di New York.

Di Indonesia, telanjang untuk proyek seni pernah dilakuan Anjasmara dan Isabelle. Mereka berpose sebagai Adam dan Hawa untuk karya garapan Agus Suwage dan Davy Linggar. Saat foto-foto Anjasmara dan Isabelle ditampilkan di pameran instalasi “Pinkswing Park”, FPI memprotesnya dengan alasan ketelanjangan yang termuat dalam karya tersebut menyinggung Islam, demikian ditulis Roy Voragen dalam tulisannya yang berjudul “Agreed to Disagree: Freedom of Expression and Diversity” (2005).

Sejak Yunani Kuno

Karya seni yang memuat ketelanjangan bisa ditelusuri sejak era Yunani Kuno. Dikutip dari situs Metropolitan Museum of Art (AS), kala itu, ketelanjangan dikaitkan dengan perayaan tubuh, baik dalam kompetisi-kompetisi olahraga maupun festival keagamaan. Para atlet yang turut serta dalam kompetisi tampil dalam kondisi bugil dan orang-orang Yunani Kuno menganggapnya sebagai perwujudan segala hal yang baik dalam kemanusiaan.

Perayaan tubuh ini lantas terejawantah pula dalam karya patung dewa dan pahlawan. Untuk patung laki-laki telanjang,hal-hal yang diasosiasikan dengannya adalah kemenangan, kemuliaan, dan kebaikan moral. Sementara patung dewi dihubungkan dengan prokreasi, pemberi kehidupan, kebanggaan, dan godaan, seperti sosok Aphrodite.

Awalnya, tubuh Aphrodite digambarkan terbalut kain. Sejak pematung Praxiteles membuat karya bernama Knidian pada pertengahan abad 4 SM, tradisi karya seni telanjang perempuan pun dimulai.

Selain di patung, karya seni telanjang juga ditemukan di bejana dan cawan Yunani. Beragam adegan erotis tergambar di sana dan diperkirakan inspirasinya berasal dari aktivitas pelacuran yang berlangsung pada masa Yunani Kuno. British Museum menyimpan salah satu karya erotis yang digambar pada tahun 480 SM di permukaan cawan Yunani yang disebut kylix.

Di India, ada patung Bahubali yang digambarkan telanjang. BBC menulis, sosok Bahubali disembah oleh orang-orang Jains yang percaya bahwa jalan menuju kebebasan dan kebahagiaan adalah dengan menolak keterikatan duniawi. Salah satu tradisi mereka adalah bertapa dengan kondisi telanjang. Beberapa rahib Jains memilih bugil untuk menghindari membunuh organisme kecil saat mencuci pakaian. Kepercayaan ini diperkirakan muncul sejak 300 SM.

Tabu

Dalam tradisi Kristiani terdapat cerita tentang Adam dan Hawa yang diusir dari Eden. Di kitab Kejadian disebutkan, mereka menutupi tubuhnya yang telanjang dengan daun ara. Ahli sejarah dari University of Iowa, Sarah Bonds mencatat di Forbes, dari kisah ini, daun ara dikaitkan dengan simbol dosa.

Penampilan ketelanjangan menjadi tabu sejak Kristianitas berkembang di Eropa. Patung-patung pahlawan telanjang dihubungkan dengan berhala. Karenanya, karya-karya seni telanjang disensor oleh pihak gereja. Tahun 1541, muncul “Kampanye Daun Ara” yang diprakarsai oleh Cardinal Carafa dan Monsignor Sernini dari Mantua, Italia. Mereka berniat menutupi karya seni telanjang Michelangelo, Last Judgement.

Kendati agama mencoba membatasi karya seni telanjang, seniman-seniman tidak berhenti membuatnya. Pada era Renaissance, Botticelli menelurkan Birth of Venus yang disebut Paula Rose, Coordinator of Education and Preservation di The Arabia Steamboat Museum, Kansas City, memadukan kisah pagan Venus dan Maria dalam tradisi Kristiani. Rose mengatakan pula usaha Botticelli ini merupakan pemanfaatan mitologi untuk menjustifikasi ketelanjangan perempuan.


Di Jepang, tradisi seni yang memuat ketelanjangan dapat ditemukan di shunga. Dalam paper bertajuk “Shunga: Erotic Art in the Tokugawa Era” (2016), Rachael Redjou mengatakan bahwa pada masa Tokugawa, ekspresi seksual bukanlah hal terlarang seperti di Barat yang didominasi tradisi Yahudi-Kristiani. Ketelanjangan dalam shunga juga berbeda dengan ketelanjangan dalam karya seni India atau Cina yang dihubungkan dengan mitos atau kepercayaan.

Aktivitas seksual dan ketelanjangan yang tergambar dalam shunga dianggap sebagai hal normal dalam keseharian, bahkan dibalut humor. Kelonggaran kontrol agama di Jepang membuat shunga menjadi seni populer hingga era modern.

Walau demikian, pada sekitar abad ke-19, ekspresi seksual tidak bisa dinormalisasi selamanya. Dalam buku In the Company of Men (2006) dikatakan, gambar Watanabe Seitei yang dimuat di majalah Kokumin no tomo tahun 1889 sempat dipandang sebagai pornografi alih-alih karya seni. Gambar Seitei dipilih penulis cerpen Bimyo sebagai pendukung dalam ceritanya.

Di gambar itu terlihat pahlawan perempuan bernama Kocho yang berdiri dengan kondisi payudara tak tertutupi. Kontroversi tentang gambar yang dipilih Bimyo tersebut membuat Kementerian Dalam Negeri Jepang melarang penyebaran Kokumin no tomo setelah beberapa minggu dirilis.

Sebagai pembelaan, Bimyo mengatakan, “Bila kita percaya penyertaan gambar perempuan cantik telanjang sebagai esensi seni sesungguhnya, bagaimana mungkin kita menilai ilustrasi ini [buatan Seitei] imoral?”

Infografik ketelanjangan dalam seni


Ketelanjangan dalam Fotografi

Beralih ke fotografi, kemunculan model telanjang dapat ditelusuri sejak abad ke-19. Salah satu proyek seni kolaborasi yang memuat ketelanjangan dibuat oleh fotografer Jean Louis Marie Eugene Durieu bersama pelukis Eugene Delacroix. Durieu terlebih dahulu memotret sejumlah model telanjang, lantas Delacroix membuat lukisannya.

Sejak pengujung tahun 1800-an pun, kartu pos bergambar model telanjang sudah ditemukan. Kendati demikian, tabu yang masih berlaku di mana-mana membuat para fotografernya enggan mencantumkan nama di atas karyanya. Nama-nama model pun tak dikenal.

HistoryExtra menulis, ada yang menganggap model-model telanjang yang ada di kartu pos merupakan pekerja prostitusi di Paris, tetapi ada pula yang melihat mereka tidak jauh berbeda dari perempuan kelas pekerja biasa yang mencari uang dari bekerja sampingan sebagai model.

Kartu pos bergambar seperti ini terus beredar hingga awal abad ke-20. Ada yang menampilkan perempuan telanjang di pantai, sedang mengenakan baju renang dengan kondisi sebelah payudara terbuka, bersantai di ruang ganti teater, atau berjalan sembari membawa bejana seperti yang dipotret di lukisan klasik.

Tahun 1962, Marilyn Monroe pernah dipotret nyaris telanjang untuk proyek buku foto Bert Stern bertajuk The Last Sitting. Di balik selendang tipis, bagian tubuh atas Monroe tampak samar. Sempat ada kecanggungan saat Stern hendak mengambil gambar Monroe.

“Kamu mau saya berpose telanjang?”

Pertanyaan Monroe ini dijawab dengan tergagap oleh Stern, “I-iya sepertinya. Tapi tidak benar-benar telanjang. Kamu bisa pakai selendang.”

“Kamu bisa menerawang sejauh mana?”

“Tergantung bagaimana saya mengatur pencahayaan.”

“Apakah bekas luka saya akan kelihatan? Enam minggu lalu saya baru menjalani operasi empedu.”

Stern memastikan kepada Monroe bahwa hal itu bukan masalah. Ia mengutip ucapan editor in chief Vogue, Diana Vreeland: "seorang perempuan cantik karena bekas lukanya.”

Baca juga artikel terkait FOTOGRAFI atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight