tirto.id - Pemerintah meningkatkan produksi batu bara sebesar 21,9 juta ton pada 2018 dari 485 juta ton menjadi 506,9 juta ton. Hal itu disampaikan oleh Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Ditjen Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM, Sri Raharjo.
"Dan 21,9 juta itu semuanya untuk ekspor, enggak kena kewajiban DMO (domestic market obligation atau wajib memasok kebutuhan dalam negeri) batu bara," ujar Raharjo di Jakarta pada Kamis (4/10/2018).
Sri Raharjo mengungkapkan, peningkatan produksi batu bara ini adalah untuk meningkatkan cadangan devisa Indonesia yang diharapkan mampu menguatkan kembali rupiah terhadap dolar AS. Nilai rupiah saat ini berada di level Rp 15.100 per dolar AS.
"Ada kebijakan peningkatan cadangan devisa, sehingga kebijakan untuk meningkatkan jumlah produksi secara nasional bertambah 100 juta ton. Walaupun realisasi sampai sekarang yang disetujui 21,9 juta ton dari 100 juta ton," ujarnya.
Menurut dia, pemerintah belum bisa memastikan komitmen untuk menurunkan produksi dan penggunaan batu bara di tahun 2019. Ia mengatakan, hal itu tergantung pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
"Kalau rupiah lemah, ya ada kemungkinan genjot produksi (ekspor)," lanjut dia.
Selain itu, kata Sri Raharjo, produksi batu bara juga akan mengikuti tren harga batu bara dunia. Semakin trennya naik, maka produksinya akan ditingkatkan. "Kalau harga batu bata trennya turun, mereka (perusahaan) punya divisi pengembangan usaha sendiri untuk mengamati itu," ucapnya.
Penulis: Shintaloka Pradita Sicca
Editor: Alexander Haryanto