17 Februari 1933

Kejayaan dan Keruntuhan Majalah Newsweek

Ilustrasi majalah Newsweek. tirto.id/Gery
Oleh: Tony Firman - 17 Februari 2018
Dibaca Normal 4 menit
Meredup gebyar.
Laju zaman menampar
mesin eksemplar.
Newsweek adalah nama besar majalah mingguan di Amerika Serikat. Selama 80 tahun terakhir, edisi cetaknya dapat dengan mudah dijumpai di toko dan kios kecil di negeri Paman Sam.

Puluhan tahun bertahan dalam industri media bukanlah hal mudah. Beberapa kali majalah ini berpindah tangan seperti pada 2010 dan 2013 akibat krisis finansial. Penyebab lainnya adalah persaingan ketat di sektor internet, yang memaksa mereka harus menyediakan konten digital dan tak sekadar mengandalkan versi cetak.

Baru-baru ini, pada Senin (5/2/2018) lalu, dapur redaksi Newsweek gaduh. Bukan berdebat selisih paham tentang penentuan tema atau koreksi berita, namun soal pemecatan dua editor papan atas. Mereka masing-masing adalah Pemimpin Redaksi Bob Roe dan Direktur Berita Eksekutif Kenneth Li. Menyusul juga Celeste Katz, seorang reporter yang turut dibebas tugaskan oleh perusahaan induk Newsweek yang kini bernama Newsweek Media Group (sebelumnya International Business Times).

Peristiwa itu adalah puncak gunung es dari carut marutnya manajemen Newsweek sejak dimiliki Newsweek Media Group.

Pada 18 Januari kemarin, kantor Newsweek Media Group (NMG) digerebek petugas Kejaksaan Wilayah Manhattan. Seperti dilansir CNN, pencarian petugas kejaksaan berkaitan dengan pinjaman dan pembelian server.


Jurnalis Newsweek di bawah arahan Kenneth Li berinisiatif untuk melakukan investigasi ke perusahaan induk mereka. Dan Celeste Katz adalah salah satu reporter yang mengerjakan laporan tersebut.

Tindakan itu rupanya tak disukai pihak eksekutif perusahaan. Mereka pun mengintervensi dapur redaksi. Dilansir dari The New York Times, para eksekutif memeriksa terlebih dahulu laporan berita dari jurnalis mereka sebelum dipublikasikan.

Nama Celeste Katz sendiri dalam beberapa bulan terakhir menghiasi pemberitaan terkait kisruh di internal kantornya sendiri. Ia mengangkat berita pelecehan seksual yang dilakukan editor senior Dayan Candappa, merespon laporan awal yang dipublikasikan BuzzFeed. Juga soal pengunduran diri pasangan Etienne Uzac, pendiri NMG, dan Marion Kim sebagai direktur keuangannya.

Josh Saul dan reporter International Business Times (IBT) Josh Kafee mendapat skorsing karena turut terlibat melaporkan investigasi keuangan internal bersama Katz. Pemecatan oleh petinggi media dianggap Matthew Cooper sebagai sebuah tindakan lalim. Cooper adalah penulis senior di Newsweek selama 30 tahun. Ia kemudian memilih mengundurkan diri sebagai bentuk protes atas pemecatan rekannya.

“Saya belum pernah melihat kepemimpinan yang lebih sembrono,” kata Cooper seperti dikutip The Star.

Sebelum menjadi media yang menyisakan carut marut seperti sekarang, terlebih dilaporkan telah menaikkan online traffic palsu guna menggaet pengiklan, Newsweek pernah berjaya sebagai majalah berita mingguan yang menyajikan jurnalisme naratif dan memberikan analisis mendalam atas kejadian-kejadian penting.

Pasang Surut Perjalanan Newsweek

Newsweek lahir dari seorang mantan editor majalah Time bernama Thomas J.C. Martyn. Majalah ini pertama kali terbit pada 17 Februari 1933, tepat hari ini 85 tahun silam, dengan mengusung tema politik dan budaya kontemporer. Sajian awalnya kental dengan cita rasa Time.

Sampul depan edisi pertama setebal 32 halaman menampilkan tujuh foto tokoh publik dengan garis tepi warna merah khas Time. Perbedaannya, Time umumnya memuat satu foto tokoh dengan ekspresi yang kuat pada sampul depan. Tujuh foto di Newsweek juga merepresentasikan jumlah hari dalam seminggu.

Di antara deretan tujuh tokoh di sampul depan edisi pertama Newsweek, ada foto Adolf Hitler tengah berpidato di Berlin lengkap dengan atribut bendera NAZI. Juga sosok Presiden AS Franklin Roosevelt yang sedang berada di sebuah perguruan tinggi.

Dua tokoh tersebut memang tengah menjadi pusat perhatian. Hitler mewakili kondisi demokrasi di Jerman yang sedang dihajar kebangkitan NAZI. Sedangkan Amerika Serikat era Roosevelt tengah disorot atas perjuangan melepaskan diri dari Depresi Besar yang memporak porandakan perekonomian negeri Paman Sam.

Mulanya, Newsweek ditulis dengan tanda penghubung "News-week". Baru setelah jurnal mingguan Today milik Raymond Moley bergabung pada tahun 1937, tanda penghubung itu dihapus dan berubah menjadi "Newsweek". Dalam perkembangannya, Newsweek kemudian merangsek menjadi tiga besar majalah mingguan terkemuka di AS, bersanding dengan Time dan U.S News & World Report.

Pembelian Newsweek oleh Philip L. Graham, pemilik Washington Post, pada 1961 turut membawa pandangan politik baru. Newsweek sejak itu mengadopsi sudut pandang politik liberal dan memperluas liputannya tentang budaya populer. Salah satu hal paling menonjol yang membuat Newsweek sukses menarik minat pembaca adalah artikel-artikelnya yang ditulis dengan gaya naratif.

Sebuah buku panduan tentang kiat-kiat menulis ala Newsweek pernah diterbitkan dengan judul Essay Writing Step-By-Step: A Newsweek Education Program Guide for Teens. Dalam buku itu dijelaskan secara mudah tentang model penulisan esai naratif.

Masa keemasan Newsweek diraih antara 1960-an sampai pertengahan 1970-an. Menurut Nieman dan Lucius W dalam Encyclopedia of American Journalism (2008), dalam rentang tersebut, beberapa peristiwa penting AS terjadi. Mulai dari perjuangan hak-hak sipil, ketegangan rasial, Perang Vietnam, transformasi kultural dan sosial, program luar angkasa Apollo, hingga skandal Watergate.

Dalam kasus Perang Vietnam, misalnya, Newsweek menerbitkan edisi khusus pada musim panas 1967. Edisi tersebut menyajikan keprihatinan atas taktik Amerika yang menempatkan infanteri besar di pelosok desa-desa Vietnam Selatan. Lantaran korban sipil banyak berjatuhan, Newsweek meramalkan bakal ada kerugian berkelanjutan dari orang-orang yang tidak ikut berperang itu.

Pada pertengahan 1970-an, sirkulasi majalah ini mencapai hampir tiga juta kopi, atau sekitar dua pertiga dari sirkulasi majalah Time. Mereka juga berhasil menggaet pengiklan dari kalangan produsen mobil, perusahaan rokok, minuman keras, kosmetik, hingga fesyen. Sasaran pembacanya jelas: para konsumen muda.


Newsweek mengemas dan menyajikan artikel yang deskriptif dan informatif. Ia juga memberikan ringkasan mingguan dan perspektif editorial yang berbeda dengan media massa sejenis. Ditunjang foto jurnalistik berkualitas tinggi yang menghiasi hampir tiap lembar majalah, Newsweek berhasil menjadi pesaing kuat Time di pasaran AS.

Masuknya era jaringan televisi kabel di AS yang menyuguhkan program berita dan gaya hidup pada 1980-an membuat Newsweek terpengaruh. Ditambah mulai menjamurnya majalah cetak yang menawarkan konten bertema gaya hidup, budaya populer, hingga tumbuhnya koran-koran yang mengadopsi jurnalisme interpretatif. Pada titik ini, sirkulasi penjualan Newsweek mengalami stagnasi.

Memasuki abad ke-21, Newsweek terus berjuang dengan segala upaya untuk tetap eksis. Majalah ini mencoba bertahan di tengah gempuran televisi dan mulai banyaknya jaringan internet yang mampu mengubah gaya konsumsi berita dari cetak ke media online.

Dalam laporan rekapitulasi Graham Holding, pada 2009 kondisi finansial Newsweek mulai terseok-seok. Pendapatan iklan turun sebesar 37 persen dan kerugian operasional di tahun tersebut mencapai 29,3 juta dolar. Angka kerugian ini membengkak dibandingkan tahun 2008 sebesar 16 juta dolar.

Pada Mei 2010, Newsweek mulai dipersiapkan untuk dijual dan menarik perhatian pengusaha media asal Suriah, Abdulsalam Haykal. Tak mencapai kata sepakat, Newsweek malah dilego dengan harga satu dolar kepada Sidney Harman, seorang pebisnis sukses di AS pada Agustus 2010. Sebagai kompensasinya, Harman menanggung segala beban keuangan Newsweek.


Akhir 2010, Newsweek bermerger dengan The Daily Beast dan bernaung di bawah The Newsweek Daily Beast Company. Hingga pada 31 Desember 2012, induk perusahaan mengumumkan bahwa majalah Newsweek akan beralih total ke format digital dengan nama Newsweek Global.

Tak sampai satu tahun berselang sejak Newsweek berhenti menerbitkan versi cetak, International Business Times Media mengakuisisi Newsweek pada 3 Agustus 2013 termasuk versi digitalnya. Dengan kekuatan dana dan optimisme tentang masih dibutuhkannya media cetak oleh masyarakat, IBT Media kemudian meluncurkan edisi cetak Newsweek pada 7 Maret 2014.

Sampai akhirnya, IBT Media mengubah nama perusahaan menjadi Newsweek Media Group di tahun 2017 dan mengalami kisruh internal dalam beberapa bulan terakhir ini.


Tak Lepas dari Kontroversi

Newsweek bagaimanapun pernah berada dalam lingkaran kontroversi. Sebelum 1970, Newsweek punya kebijakan bahwa hanya para laki-laki yang bisa menempati posisi sebagai reporter. Eleanor Holmes Norton yang mewakili enam puluh pegawai wanita mengajukan kebijakan bias gender itu ke Equity Employment Opportunity Commission.

Kaum wanita Newsweek kemudian menang dan perusahaan mengizinkan para wanita menjadi reporter. Untuk merayakan kemenangan tersebut, Newsweek menerbitkan ulasan mengenai gerakan feminisme dan artikel berjudul “Women in Revolt” yang ditulis Helen Dudar, seorang jurnalis lepas.


Pada 1986, sebuah artikel Newsweek memuat berita bahwa wanita yang belum menikah pada usia 40 tahun punya kesempatan terbunuh teroris lebih besar ketimbang mencari suami. Artikel ini menciptakan gelombang kecemasan pada para wanita profesional berpendidikan. Newsweek kemudian mengakui kesalahan pemuatan dan menerbitkan studi lanjutan tentang wanita dan pernikahan.

Kontroversi yang terjadi baru-baru ini datang dari dapur redaksi. Dayan Candappa, editor senior baru, seperti dilaporkan BuzzFeed News, punya rekam jejak sebagai pelaku pelecehan seksual di beberapa kantor lamanya. Dalam laporan yang ditulis Rossalyn Warren itu, juga disebut bahwa beberapa orang di Newsweek mengetahui rekam jejak Candappa sebelum mempekerjakannya.

Candappa kemudian dipecat dan ia tak mau berkomentar atas tuduhan tersebut. Sementara nasib jurnalis Newsweek yang memberitakan kasus tersebut juga tak lebih baik. Di bawah rezim kepemilikan Newsweek Media Group, sang jurnalis turut dipecat. Sebagai salah satu majalah tua dan berpengaruh di AS, Newsweek tengah berada di titik nadir.

Baca juga artikel terkait JURNALISME atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Tony Firman
Penulis: Tony Firman
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight