KEIN Minta Pemerintah Tak Hanya Andalkan Aliran Modal Asing

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 18 Mei 2019
Dibaca Normal 1 menit
Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) menilai saat ini pemerintah masih terlalu bergantung pada neraca modal dalam menyeimbangkan defisit neraca pembayaran.
tirto.id - Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) menilai saat ini pemerintah masih terlampau bergantung pada neraca modal dalam menyeimbangkan defisit neraca pembayaran.

Anggota KEIN sekaligus dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia, Telisa Aulia mengatakan hal itu terlihat dari berbagai upaya pemerintah yang cenderung mengandalkan arus modal (capital inflow).

Langkah itu, menurutnya, hanya efektif untuk jangka waktu pendek sehingga mengesankan pemerintah agak enggan bekerja keras untuk mencari solusi lain.

Pertimbangannya langkah ini menuntut pemerintah untuk memberi imbal hasil yang besar seperti menaikan suku bunga agar menjaga aliran modal tetap masuk. Namun, di saat yang sama dapat memberatkan kebutuhan modal dalam negeri yang disebabkan karena tingginya bunga pinjaman modal.

“Capital inflow memang lebih mudah daripada memperkuat sektor riil yang perlu kerja keras. Mungkin banyak kendala jadi banyak solusi jangka pendek seperti menerbitkan utang dan obligasi,” ucap Arif dalam konferensi pers di kantor KEIN, Jakarta pada Jumat (17/5/2019).

Menurut Telisa, ada langkah lain yang dapat dilakukan untuk menjaga neraca pembayaran yakni dengan membenahi neraca perdagangan yang kerap menjadi biang negatif.

Solusinya berupa pembenahan hilirisasi sektor-sektor industri Indonesia. Seperti mendorong produksi produk turunan sawit hingga pada nilai tambah tertinggi ketimbang hanya menjualnya sebagai komoditas yang bergantung pada harga internasional.



Meskipun demikian, Telisa mengatakan bahwa hal ini memang merupakan langkah jangka panjang lantaran Indonesia sendiri masih terkendala persoalan sumber daya manusia.

Hanya saja, ia memastikan bila hal ini akan dilakukan maka neraca perdagangan Indonesia dapat semakin membaik lantaran nilai ekspor yang didominasi komoditas non migas memiliki nilai lebih tinggi.

Hal ini tentu akan mengatasi kendala ekspor Indonesia yang terhambat oleh jatuhnya harga komoditas. Sehingga walaupun volume ekspor naik, nilainya justru malah menurun dan tak mampu mengimbangi impor.

“Jadi harus menggenjot industri. Jangan terus mengandalkan capital inflow. Itu proses panjang kapan kita mandiri dengan sektor riil,” ucap Telisa.


Baca juga artikel terkait APBN 2019 atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Maya Saputri