Kebodohan Razia di Tengah Peningkatan Minat Konsumsi Buku

Ilustrasi Buku. FOTO/iStockphoto
Oleh: Irfan Teguh - 17 Januari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Selama beberapa tahun terakhir, pertumbuhan penerbit dan konsumsi buku di Indonesia relatif positif.
tirto.id - Tahun baru 2019 di Indonesia dibuka dengan kisruh di dunia perbukuan. Militer dan aparat negara lainnya melanjutkan keranjingannya merazia buku. Mereka juga menutup 2018 dengan hal yang sama. Karena menciderai demokrasi, khususnya kemerdekaan berekspresi, perilaku ini perlu dikecam.

Aktivitas terkait perbukuan, entah itu membaca, berdiskusi, atau sekadar peluncuran buku, sudah sepantasnya memang ditempatkan sebagai kegiatan yang biasa-biasa saja. Tak ada istimewanya, rutin belaka. Dengan kata lain, pemberangusan buku adalah tindakan di luar kewajaran.

Tapi sejauh apa masyarakat Indonesia berasyik-masyuk dengan buku? Jawabannya sebetulnya bisa diperoleh dengan mengukur interaksi antara masyarakat dengan buku, salah satunya dari tren jumlah buku yang diproduksi beserta sebarannya. Sayang, data yang dipublikasikan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) belum dimutakhirkan.

IKAPI sebagai organisasi penerbit terbesar di indonesia sempat merilis hasil riset tentang perbukuan ketika Indonesia menjadi Tamu Kehormatan di gelaran Frankfurt Book Fair 2015.

Dalam riset yang hanya berdasarkan catatan resmi toko buku besar dan pengajuan ISBN di Perpustakaan Nasional, IKAPI mencatat bahwa lebih dari 30 ribu judul buku yang diterbitkan setiap tahun di Indonesia.

Pada 2013, Toko Buku Gramedia mencatat 26.628 judul buku baru yang masuk dalam catatan niaganya. Lalu pada 2014 angkanya menjadi 24.204 judul buku. Sementara ISBN (International Standard Book Number) yang terdaftar di Perpustakaan Nasional pada 2013 berjumlah 36.624. Dan pada 2014 naik menjadi 44.327.


Angka lain yang menunjukkan pertumbuhan buku di Indonesia adalah meningkatnya jumlah anggota IKAPI. Sampai Juni 2015, penerbit buku yang tergabung dengan IKAPI berjumlah 1.328, bertambah 170 anggota sejak 2012.

Dalam Anggaran Rumah Tangga IKAPI, salah satu syarat bergabung dengan organisasi tersebut adalah “Telah menerbitkan sekurang-kurangnya 3 (tiga) judul buku ber-ISBN yang masing-masing sedikitnya berisi 48 (empat puluh delapan) halaman dan benar-benar dijual di pasar bebas”.

Berdasarkan syarat tersebut, sekurang-kurangnya ada tiga judul buku yang diketahui beredar di pasaran setiap kali satu penerbit bergabung dengan IKAPI.

Selain itu, meski sebaran jumlah anggotanya sampai 2015 tidak merata (504 di DKI Jakarta berjumlah, 687 di seluruh Jawa kecuali Jakarta, 137 di luar Jawa) penerbit yang bergabung dengan IKAPI telah hadir di 26 provinsi. Menurut Ketua Umum IKAPI Pusat Rosidayati Rozalina, penerbit-penerbit tersebut tak hanya menerbitkan buku dalam bentuk cetak, tapi juga buku elektronik.

Dari segi ceruk pasar, IKAPI membagi buku-buku yang dijual di pasaran ke dalam sepuluh kategori dengan angka yang disusun berdasarkan pemeringkatan. Dari sepuluh kategori tersebut, buku anak-anak dan sastra menduduki peringkat pertama dan kedua teratas pada 2013 dan 2014.

Peringkat selanjutnya berturut-turut diisi oleh buku keagamaan dan spiritual, buku pelajaran sekolah, kamus dan referensi, bisnis dan ekonomi, pengembangan diri, ilmu pengetahuan sosial, memasak, dan komputer.

Direktur Operasional Gramedia V. Sugiarto mengatakan pertumbuhan dan penjualan buku pada 2018 meningkat hingga dua digit.

“Kita senang sekali pertumbuhan buku bisa mencapai 2 digit. Jadi apa kata orang [bahwa] buku itu hilang, enggak sama sekali, pertumbuhan buku jauh lebih besar di tahun ini kira-kira 12,26 persen,” ucapnya.




Perkembangan teknologi yang mendorong hadirnya buku elektronik, imbuh Sugiarto, tak mengurangi penjualan buku cetak karena juga didorong oleh promosi di media sosial.

Ketua Umum IKAPI Pusat Rosidayati Rozalina menyatakan hal senada saat dihubungi Tirto (12/01). Menurutnya, tahun 2018 bisnis penerbitan mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Kehadiran Indonesia di pelbagai pameran buku internasional juga membuat literasi Indonesia mendapat sorotan banyak pihak.


Dalam Industri Penerbitan Buku Indonesia dalam Data dan Fakta (2015) yang diterbitkan IKAPI mencatat, Bambang Trim, dkk, mencatat bahwa pada 2014 sebaran penerbit berdasarkan jumlah tiras per judul buku terbagi ke dalam empat kelompok.

Pertama, penerbit yang menerbitkan buku dengan jumlah tiras 3.000 eksemplar per judul sebanyak 66 persen. Kedua, yang menerbitkan buku dengan jumlah tiras 5.000 eksemplar per judul sebanyak 19 persen. Ketiga, yang menerbitkan buku dengan tiras 10.000 eksemplar per judul sebesar 12 persen. Dan terakhir yang menerbitkan buku dengan tiras 15.000 eksemplar per judul sejumlah 3 persen.

Selain mendata para penerbit yang tergabung dengan IKAPI, Bambang Trim dkk, juga mencatat sejumlah penerbit yang tidak tergabung dengan IKAPI dan aktif memasarkan bukunya di toko buku modern dan tradisional. Sebanyak 109 penerbit terdata, meski hanya di Pulau Jawa. Rinciannya adalah di DKI Jakarta sejumlah 35 penerbit, Jawa Barat 27 penerbit, dan gabungan Jawa Tengah, Yogyakarta, serta Jawa Timur sebanyak 47 penerbit.

Di luar jumlah buku dan penerbit yang dicatat oleh IKAPI, hari ini masyarakat juga lebih leluasa untuk menerbitkan naskahnya secara mandiri lewat para penerbit independen yang melayani penerbitan personal.

Meski datanya terbatas, peta perbukuan di Indonesia semestinya mampu meyakinkan masyarakat bahwa pelbagai peristiwa perisakan buku di Indonesia, yang di antaranya terjadi di pengujung 2018 dan di awal 2019, bukan sesuatu yang gampang mematahkan semangat.

Namun, meski cuma riak kecil di lautan perbukuan yang terus berkembang, razia tetap mesti dilawan.

Baca juga artikel terkait RAZIA BUKU atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Irfan Teguh
Editor: Windu Jusuf
DarkLight