Ke Mana Penumpang Pesawat Beralih pada Lebaran 2019?

Oleh: Hanif Gusman - 25 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Harga tiket pesawat yang kelewat mahal bagi sebagian orang membuat pesawat tidak lagi menjadi moda transportasi favorit ketika mudik. Lantas, moda transportasi apakah yang jadi pilihan masyarakat?
tirto.id - "Berita baik untuk [operator] bus, [tiket] pesawatnya mahal. Jadi, enggak ada lagi orang dari Surabaya ke Solo naik pesawat, [lebih suka] naik bus."

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, Jumat (17/5) menanggapi mahalnya harga tiket pesawat. Seperti dilansir Kompas, menurut Budi, para operator bus dapat menuai berkah dari mahalnya tiket pesawat karena masyarakat memilih naik bus ketimbang pesawat di beberapa rute tertentu.

Isu mahalnya harga tiket pesawat memang sudah bergema sejak akhir 2018 lalu. Petisi daring pun muncul, meminta pemerintah menurunkan harga tiket pesawat.

Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) sempat menurunkan harga tiket pesawat pada 13 Januari silam. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akhirnya pun merevisi tarif batas atas pesawat untuk menekan harga pada 13 Mei. Namun, di lapangan, harga tiket pesawat masih tinggi.

Situasi ini membuat penumpang pesawat pada Lebaran 2019 diprediksi menurun. Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Polana Pramesti memprediksi penumpang pesawat domestik pada lebaran 2019 turun hampir dua kali lipat.


Dalam Rapat Koordinasi Finalisasi Kesiapan Angkutan Lebaran 2019 di Jakarta, dilaporkan Antara, Polana menyebutkan pertumbuhan penumpang domestik pada lebaran tahun ini diprediksi hanya 2,38 persen. Angka tersebut turun hampir dua kali lipat dari Lebaran 2018 dengan pertumbuhan mencapai 4,49 persen.

Meskipun pertumbuhan penumpang diprediksi menurun, Polana optimis tingkat keterisian pesawat akan penuh saat puncak arus mudik Lebaran 2019.

"Masih belum terlalu itu lah, mungkin sekitar 60 sampai 70 persen. Tapi, nanti tanggal 30 Mei sudah penuh semua. Pokoknya sampai Lebaran full," kata Polana usai buka bersama anak yatim dan media di Jakarta, Senin (27/5), dilansir Antara.

Lantas, ke mana penumpang pesawat beralih pada Lebaran 2019? Bagaimana pengaruhnya terhadap penggunaan kendaraan pribadi?

Kemenhub melalui Sistem Informasi Angkutan dan Sarana Transportasi Indonesia (SIASATI) mencatat, jumlah penumpang seluruh moda pada angkutan lebaran 2019 — termasuk mobil pribadi — pada periode H-7 sampai dengan H+7 tercatat sebesar 22,50 juta jiwa. Angka tersebut meningkat sebesar 1,4 persen dibandingkan periode yang sama di Lebaran 2018, sebesar 22,19 juta penumpang.

Jumlah penumpang tersebut merupakan total dari jumlah penumpang kendaraan pribadi (mobil) ditambah lima moda angkutan umum yang terdiri atas: Jalan (bus), penyeberangan (Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan/ASDP), kereta api, laut, dan udara.



Infografik Periksa Data Penumpang Pesawat 2019
Infografik Periksa Data Kemana Beralihnya Penumpang Pesawat pada Lebaran 2019. tirto.id/Quita


Dari total 22,19 juta penumpang pada Lebaran 2018, pesawat menjadi moda transportasi penyumbang jumlah penumpang terbesar, yakni sebesar 21,86 persen. Angkutan udara tersebut dipilih oleh 4,85 juta penumpang pada masa lebaran tersebut.

Kereta api menjadi moda dengan penumpang terbesar kedua dengan 21,51 persen. Moda transportasi tersebut membawa 4,77 juta penumpang selama periode Lebaran 2018. ASDP menempati posisi ketiga dengan penumpang sebanyak 4,07 juta atau menyumbang 18,34 persen.

Pada Lebaran 2019, pesawat bukan lagi menjadi moda transportasi paling favorit. Kali ini, kereta api menjadi moda transportasi dengan jumlah penumpang terbesar yaitu 5,10 juta atau naik 6,91 persen dari tahun sebelumnya. Jumlah penumpang kereta api tersebut menyumbang 22,67 persen dari total penumpang.

Seperti yang telah diperkirakan, penumpang pesawat pada Lebaran 2019 mengalami penurunan. Jumlahnya kini menjadi 3,52 juta penumpang. Angka tersebut "hanya" menyumbang 15,66 persen terhadap total pemudik pada Lebaran 2019. Penurunan ini membuat posisi pesawat turun dari moda favorit pada tahun 2018 menjadi posisi ke-5 setelah moda jalan dan penyeberangan.

Pemudik yang menggunakan mobil pribadi justru mengalami peningkatan terbesar diantara moda lainnya. Dari setidaknya 3,71 juta penumpang pada 2018, pada 2019 jumlahnya naik sebesar 21,88 persen menjadi 4,52 juta penumpang. Sebagai catatan, mobil pribadi menjadi penyumbang terbesar kedua dengan 20,10 persen penumpang pada Lebaran 2019.


Moda transportasi bus atau angkutan jalan sementara itu berada di posisi ketiga dengan 4,16 juta penumpang atau 18,49 persen. Pada 2018, angkutan jalan tersebut menyumbang 16,86 persen penumpang.

Dilaporkan Kompas, kenaikan jumlah penumpang di jalur darat (mobil dan angkutan jalan) dan menurunnya jumlah penumpang pesawat menurut Menhub Budi Karya Sumadi disebabkan oleh beberapa hal, mulai dari tarif tiket pesawat yang lebih mahal dibanding transportasi lain, hingga banyaknya jalan tol dan jalan alternatif baru yang dibangun pemerintah.

Mobil Pribadi Jadi Favorit


Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, jumlah penumpang angkutan pribadi pada Lebaran 2019 meningkat menjadi 20,10 persen atau 4,52 juta pada Lebaran 2019. Penumpang angkutan umum, sementara itu, mengalami penurunan.

Pada Lebaran 2018, penumpang angkutan umum berjumlah 18,48 juta penumpang atau mengambil porsi 83,28 persen dari total jumlah penumpang. Pada Lebaran 2019, jumlahnya menjadi 17,97 juta penumpang atau 79,90 persen dari total jumlah penumpang.

Infografik Periksa Data Penumpang Pesawat 2019
Infografik Periksa Data Kemana Beralihnya Penumpang Pesawat pada Lebaran 2019. tirto.id/Quita


Sebagai catatan, arus mudik menggunakan mobil pribadi memang menjadi prioritas Kemenhub dalam periode Lebaran 2019. Berdasarkan survei Kemenhub, pemudik dengan mobil pribadi dari Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) saja diprediksi sebanyak 4,3 juta penumpang.

Mengutip Bisnis, dalam mengantisipasi kenaikan tersebut, Kemenhub Bersama Polri telah menerapkan beberapa strategi seperti penerapan contra flow dan sistem satu arah pada beberapa ruas jalan tol Trans Jawa dan melakukan pengalihan arus pada kondisi tertentu.

Namun, peningkatan penggunaan mobil pribadi, meskipun diiringi tersedianya infrastruktur seperti tol Trans Jawa, dapat menjadi masalah lain bagi pemerintah. Kebijakan khusus seperti contra flow yang menguntungkan pengguna kendaraan pribadi justru akan semakin meningkatkan jumlah pengguna mobil pribadi dan menurunkan animo pengguna bus. Hal ini dapat berujung pada berulangnya kemacetan selama periode mudik di masa depan.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Hanif Gusman
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Hanif Gusman
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight