Menuju konten utama

Kapan Puasa 2026 & Kenapa 1 Ramadhan Muhammadiyah Hari Rabu?

Kapan puasa 2026 dimulai dan kenapa 1 Ramadhan Muhammadiyah jatuh pada Rabu, 18 Februari? Apakah awal Ramadhan tahun ini serentak atau beda hari?

Kapan Puasa 2026 & Kenapa 1 Ramadhan Muhammadiyah Hari Rabu?
Tim Falakiyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Gresik mengamati posisi hilal menggunakan teleskop di Balai Rukyat Bukit Condrodipo, Gresik, Jawa Timur, Sabtu (29/3/2025).ANTARA FOTO/Rizal Hanafi/wpa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kapan puasa 2026 dimulai pekan depan, apakah Rabu (18/2/2026) atau Kamis, 19 Februari? Terkait hal ini, Muhammadiyah sudah menetapkan bahwa 1 Ramadhan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Apakah berarti kalangan Muhammadiyah akan puasa lebih dulu, ataukah hari pertama puasa akan bersamaan?

Awal Ramadhan 1447 H bagi Muhammadiyah sudah ditetapkan dalam Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025. Metode yang digunakan adalah metode hisab dan memakai parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Menurut perhitungan astronomi yang dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, pada Selasa, 17 Februari 2026 yang bertepatan dengan 29 Syaban 1447 H, pukul 12:01:09 UTC, kriteria visibilitas hilal Parameter Kalender Global (PKG) 1 belum terpenuhi. Kriteria visibilitas hilal PKG ialah tinggi bulan minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat sebelum tengah malam UTC.

Namun, PKG 2 terpenuhi. Inilah yang menjadi alasan Muhammadiyah tidak membulatkan Syaban jadi 30 hari, tetapi tetap 29 hari. Artinya, 1 Ramadhan berlangsung pada Rabu (18/2), sedangkan shalat tarawih dilakukan mulai Selasa (17/2) malam.

Lantas, kapan puasa 1 Ramadhan tahun ini untuk kalangan NU dan yang menunggu informasi Kementerian Agama (Kemenag)?

Kapan Puasa 2026 Dimulai, Apakah 18 atau 19 Februari?

Sebelumnya, Muhammadiyah sudah menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Sementara itu, pemerintah Indonesia melalui Kemenag akan melaksanakan Sidang Isbat penetapan awal Ramadhan pada Selasa, 17 Februari 2026. Pada saat itulah, Kemenag akan mengumumkan apakah puasa dimulai Rabu (18/2) atau Kamis (19/2).

Dalam menetapkan awal Ramadhan, Kemenag RI mengacu pada Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004, yaitu menggabungkan metode hisab dengan rukyatul hilal. Setelah mendapatkan data hisab, akan dilakukan pengamatan hilal pada hari yang dianggap sebagai hari terakhir bulan Hijriah. Dalam konteks Ramadhan 2026, pengamatan dilakukan pada 17 Februari yang merupakan 29 Syaban 1447 H.

Mengutip dari laman Kemenag, tahun ini, hilal akan dipantau dari 96 titik di seluruh Indonesia. Jika hilal tampak, maka masyarakat Indonesia mulai melaksanakan puasa Ramadhan pada Rabu, 18 Februari 2026. Namun, jika hilal tak tampak, maka masyarakat Indonesia mulai melaksanakan puasa Ramadhan pada hari Kamis, 19 Februari 2026.

Berdasarkan data BMKG untuk pengamatan hilal pada Selasa (17/2), ketinggian Hilal di Indonesia saat matahari terbenam berkisar antara -2,41⁰ di Jayapura, Papua sampai dengan -0,93⁰ di Tua Pejat, Sumatera Barat. Sementara itu, terkait sudut elongasi, berkisar antara 0,94⁰ di Banda Aceh, Aceh sampai dengan 1,89⁰ di Jayapura, Papua.

Ketinggian hilal dan sudut elongasi pada 17 Februari tersebut belum memenuhi kriteria MABIMS, yaitu minimal tinggi 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat. Kemungkinan, hilal tidak akan terlihat pada Selasa (17/2).

Thomas Djamaluddin, peneliti BRIN, menyebutkan, hasil rukyat pada 17 Februari 2026 diperkirakan tidak teramati karena posisi bulan di bawah ufuk. Dengan demikian, berdasarkan hisab kriteria imkanur rukyat MABIMS dan hasil rukyat, sidang isbat kemungkinan akan memutuskan awal Ramadhan 1447 jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Kenapa Awal Puasa Muhammadiyah Rabu 18 Februari?

Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan pada Rabu, 18 Februari 2026 berdasarkan metode hisab dengan penerapan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

KGHT merujuk pada kriteria hasil Muktamar Turki 2016, yakni ketinggian hilal minimal 5 derajat dan elongasi minimal 8 derajat, serta syarat ijtimak. Terkait penetapan 1 Ramadhan 1447 H, parameter ijtimak sebelum pukul 24.00 UTC di wilayah man apun di dunia memang belum terpenuhi.

Akan tetapi, parameter lanjutan, yakni ijtima’ sebelum fajar di Selandia Baru serta keterpenuhan kriteria 5–8 derajat di daratan benua Amerika, telah terpenuhi.

Kajian Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menunjukkan bahwa sejumlah wilayah di Semenanjung Alaska dan sekitarnya memenuhi parameter tersebut. Seperti wilayah dengan koordinat 56° 48′ 49″ LU & 158° 51′ 44″ BB, serta beberapa kawasan lain, yakni Chevak, Tununak, Hooper Bay, Togiak, Kipnuk, dan Port Heiden. Secara administratif, wilayah-wilayah ini termasuk bagian dari Amerika Serikat dan secara geografis masih termasuk daratan benua Amerika.

Dasar itulah yang digunakan dalam penetapan 1 Ramadhan Muhammadiyah pada 18 Februari 2026. Secara ilmiah, tahun ini Muhammadiyah menggunakan rujukan yang mengacu puasa 1 hari global, bukan berdasarkan kewilayahan.

Ada kemungkinan awal puasa tahun ini akan berbeda, dengan Muhammadiyah memulai pada Rabu (18/2), sedangkan Kemenag pada Kamis (19/2). Perbedaan awal puasa merupakan hal yang lumrah dalam khazanah keilmuan Islam dan bukan kali ini saja terjadi. Setiap pihak memiliki landasan argumen yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2026 atau tulisan lainnya dari Nurul Azizah

Kontributor: Nurul Azizah
Penulis: Nurul Azizah
Editor: Fitra Firdaus