Kampanye Ma'ruf vs Prabowo: Saat Kiai Sepuh Meng-KO Mantan Jenderal

Oleh: Reja Hidayat - 15 Maret 2019
Dibaca Normal 4 menit
Ma'ruf Amin, kiai sepuh 76 tahun, mendatangi lokasi kampanye lebih banyak dari Prabowo, mantan Danjen Kopassus berusia 67 tahun.
tirto.id - Prabowo Subianto, usia 67 tahun, sakit flu. Ia seharusnya menyampaikan orasi politik dalam acara Partai Keadilan Sejahtera di Hotel Grand Sahid Jaya, akhir Januari 2018. Alhasil, Prabowo harus beristirahat untuk memulihkan kesehatannya.

Pada saat Prabowo istirahat total, Ma'ruf Amin, 76 tahun, menjalani safari politik selama 13 hari di Jawa Barat, Jakarta, dan Sumatera Selatan. Di Jawa Barat, provinsi yang jadi medan tempur kampanye kandidat nomor urut 1, Ma'ruf mendatangi pondok pesantren Roudhoh Al-Hikam, Ponpes Al-Ghazaly, dan Ponpes Al-Falak.

Sementara di Jakarta, mantan Rais Aam PBNU itu mengadakan "silaturahmi" dengan ulama, tokoh agama, relawan, milad partai, dan tim sukses daerah. Di Sumatera Selatan, Ma'ruf meresmikan posko tim pemenangan, posko rumah Kiai Ma'ruf Amin (KMA), dan mengunjungi Pondok Pesantren Syafa'atut Thulab.

Pulang dari Sumatera Selatan, Ma'ruf melanjutkan safari politiknya ke Jawa Barat dan Banten untuk bertemu ulama dan meresmikan posko pemenangan di tingkat daerah.


Ma'ruf berkata ia selalu menjaga makanan dan istirahat yang cukup untuk membantunya menjaga stamina selama kampanye Pilpres 2019.

"Dengan begitu, bisa menjaga kesehatan. Semua bisa tercapai, bisa melaksanakan tapi juga bisa berjalan dengan santai," kata Ma'ruf pada pekan keempat Februari lalu.

Jika lokasi kampanyenya di Jakarta dan masih dalam radius kediamannya, Ma'ruf Amin menyempatkan waktu berolahraga sepeda statis selama 15-30 menit setiap pagi. Jika di luar Jakarta, ia mengisi waktu pagi dengan membaca koran.

Tirto mengumpulkan agenda kampanye Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto antara 24 September 2018 dan 6 Maret 2019. Data ini bersumber dari tim kampanye TKN Jokowi-Ma'ruf, tim kampanye Prabowo-Sandiaga, dan situsweb resmi Prabowo-Sandi.com.

Merujuk data itu per Januari 2019, Ma'ruf Amin menjalani kampanye politik selama 25 hari di 58 lokasi.

Sementara Prabowo Subianto selama Januari 2019 hanya melakukan perjalanan kampanye selama 5 hari di 6 lokasi kegiatan di Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Sulawesi Tengah. Salah satu kegiatannya itu adalah "Pidato Kebangsaan" di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada 14 Januari 2019--tiga hari sebelum debat perdana.


Merebut Suara di Basis Suara Jokowi

Pada pemilihan presiden 2014, selisih suara Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla sebesar 1,3 juta suara di provinsi Jawa Timur, basis suara warga Nahdlatul Ulama. Sementara di Jawa Tengah, wilayah suara PDIP, selisihnya mencapai 6 juta suara dari Jokowi-JK.

Besarnya selisih suara itu membuat tim Prabowo-Sandiaga mengubah strategi. Salah satunya menempatkan posko Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi di Solo, Jawa Tengah.

Dahnil Anzar Simanjuntak, koordinator juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, mengatakan pihaknya memberi perhatian lebih kepada pemilih di Pulau Jawa. Pasalnya, hampir 58% suara pemilih nasional di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

"Strategisnya 5 banding 2," kata Dahnil, "Lima pertemuan di Jawa, dua di luar Jawa."

Berdasarkan data agenda kampanye Prabowo sejak 24 September 2018-6 Maret 2019, Prabowo telah mengadakan "pertemuan" di 64 lokasi di 11 provinsi. Jawa Timur menempati peringkat pertama dengan 21 lokasi kunjungan kampanye, disusul Jawa tengah (13 lokasi). Dirincikan lagi, Prabowo mengunjungi 43 kabupaten/kota di luar Jakarta.

Bila dibandingkan Ma'ruf Amin, lokasi kunjungan Prabowo jauh lebih sedikit.

Ma'ruf yang dianggap tak cukup punya stamina dalam Pilpres 2019--karena usianya paling tua dibandingkan Prabowo, Jokowi, dan Sandiaga Uno--nyatanya bisa berkampanye di 251 lokasi di 16 provinsi. Di Jawa Timur, ia mendatangi 38 lokasi dan di Jawa Tengah di 15 lokasi. Dirincikan lagi, Ma'ruf mengunjungi 75 kabupaten/kota di luar Jakarta.

Rendahnya kunjungan Prabowo ke daerah pernah dikritik oleh Andi Arief, politikus Partai Demokrat, pada Oktober 2018, "Pilpres itu memilih Presiden, jadi kalau Pak Prabowo tidak mau keliling Indonesia aktif, enggak ada rumus ajaib untuk menang. Kalau Pak Prabowo agak males-malesan, kan enggak mungkin partai pendukungnya super aktif."


Meski begitu, kecilnya kunjungan ke daerah oleh Prabowo dibandingkan Ma'ruf Amin--yang sama-sama berumur paling tua di antara kedua kandidat Pilpres 2019--tak membuat khawatir kubu BPN. Menurut Dahnil, hal itu biasa saja. Prabowo dan Sandiaga berbagi tugas sehingga saling melengkapi, kata Dahnil.

"Yang penting kualitasnya," katanya, mengklaim bahwa Sandiaga telah mendatangi 1.400 lokasi di daerah.

"Prabowo enggak mungkin seenerjik Bang Sandi. Beliau lebih senior," tambah Dahnil.

Dan bagaimana Prabowo Subianto menjaga staminanya?

"Banyak makan bawang putih dan berenang," kata Prabowo usai menghadiri deklarasi Aliansi Pencerah Indonesia dan silaturahmi warga Muhammadiyah di Hotel Grand Sahid, Jakarta, 3 Maret lalu.


Infografik HL Indepth Lawatan Pilpres
Infografik Frekuensi Kunjungan Kampanye Ma'ruf Amin vs Prabowo Subianto. tirto.id/Lugas

Frekuensi Kampanye Ma'ruf Amin Lebih Tinggi dari Prabowo

Benny Rhamdani, Direktur Kampanye TKN Jokowi-Ma'ruf, mengatakan tingginya mobilitas Ma'ruf Amin di daerah dibandingkan Prabowo membuktikan isu yang dikembangkan lawan bahwa cawapres 01 akan diganti oleh Ahok adalah tidak benar. Dengan kunjungan mencapai 251 lokasi membuktikan kesehatan Ma'ruf cukup prima, ujarnya.

Kampanye Ma'ruf Amin diarahkan ke Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten. Pada Pilpres 2014, Jokowi tumbang di Jawa Barat dengan selisih suara 4,5 juta dari Prabowo, dan di Banten kalah sekitar 800 ribu suara. Untuk berupaya memangkas selisih suara itu pada Pilpres 2019, Ma'ruf gencar kampanye di dua wilayah tersebut.

Data tim kampanye Jokowi-Ma'ruf menunjukkan Ma'ruf mengunjungi Jawa Barat sebanyak 56 lokasi. Safari politik di Jawa Barat dilakukan lima hari nonstop, dari 25 Februari hingga 1 Maret 2019, di Cirebon, Kuningan, Banjar, Pangandaran, Ciamis, dan berakhir di Cilacap, kabupaten perbatasan di Jawa Tengah.

Ma'ruf mengatakan ia memulai aktivitas kampanyenya dari pagi sampai malam dengan menyapa masyarakat dan santri, lalu bertemu dengan ulama di daerah tersebut. Ia berkata kampanye di Jawa Barat itu menggunakan jalur darat di sejumlah kota dan kabupaten yang memberi gambaran dirinya yang fit dan bugar.

"Saya selalu sehat, saya bisa berjalan lima hari nonstop, mudah-mudahan terus sehat saya," kata Ma'ruf.

Selain itu, Ma'ruf memberi perhatian lebih di Banten, tempat kelahirannya, tertinggi ketiga dari kunjungan kampanyenya setelah Jawa Barat dan DKI Jakarta. Ada 39 lokasi yang dikunjungi Ma'ruf di Banten.

"Kan ada teorinya, siapa yang memenangkan Jawa, dia akan jadi pemenang," kata Benny.


Selain kedua wilayah itu, Ma'ruf berfokus kampanye di Jakarta, mengunjungi sekitar 45 lokasi atau kedua tertinggi setelah Jawa Barat antara 24 September 2018 dan 6 Maret 2019. Pada Pilpres 2014, Jokowi menang tipis 300 ribu suara dari Prabowo di Jakarta. Tapi, Pilkada 2017--yang mobilisasi sentimen agama dan menjungkalkan petahana Ahok--mengubah peta politik di Jakarta yang condong ke pemilih Prabowo.

Menariknya, dari 251 lokasi kunjungan Ma'ruf, sebagian besarnya adalah pertemuan Ma'ruf dengan ulama dan kunjungannya ke pondok pesantren. Upaya itu demi menangkal fitnah dan hoaks di kalangan suara muslim kepada Presiden Jokowi, ujar Benny.

"Kami ingin meluruskan fitnah keji yang dialamatkan kepada Pak Jokowi terkait 'kriminalisasi ulama', 'mendiskriminasi umat mayoritas Islam', 'tuduhan PKI'. Yang termakan isu hoaks ini adalah sebagian besar pemilih Islam sehingga itu menjadi tugas selain Pak Jokowi, Pak Ma'ruf mendatangi pesantren," kata Benny.

Fitnah yang pernah dituduhkan ke Jokowi di Karawang, Jawa Barat, pada medio Februari lalu, misalnya, "tidak akan ada lagi suara azan" bila Jokowi menang Pilpres 2019--dilakukan oleh relawan Partai Emak-Emak Pendukung Prabowo-Sandiaga (Pepes). Alhasil, untuk menetralisir serangan kampanye hitam itu, Ma'ruf sebagai ulama mendatangi Karawang usai kampanye 5 hari nonstop.


Selain itu, ujar Benny, banyak orang tak percaya dengan umur sepuh Ma'ruf tapi mampu melakukan kunjungan tanpa henti. Bahkan di Kalimantan Selatan, Ma'ruf Amin pada jam 11 malam masih melakukan tausiah di lapangan terbuka.

“Aku pun kalau enggak lihat langsung pasti enggak percaya bahwa Abah (Ma'ruf Amin) itu jam 11 malam masih kasih tausiah,” kata Monang Sinaga, Koordinator Media Ma'ruf Amin.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Reja Hidayat
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Reja Hidayat
Penulis: Reja Hidayat
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan