Ke Mana Saja Ma'ruf dan Sandiaga Sebulan Terakhir Sebelum Debat?

Oleh: Husein Abdulsalam - 14 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
Debat khusus cawapres digelar tiga hari lagi. Sepanjang Februari 2019 Sandiaga dan Ma'ruf rajin menyambangi berbagai daerah.
tirto.id - Sandiaga Uno, cawapres pendamping Prabowo Subianto, pernah dijuluki sebagai santri post-islamisme oleh Sohibul Iman. Bagi Presiden PKS itu, gelar tersebut diberikan sebab Sandiaga ialah "orang modern yang telah mengalami proses islamisasi".

Sedangkan sekutu Sohibul, Wakil Ketua Dewan Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid, menyebut Sandiaga sebagai ulama. Menurut Hidayat, "ulama itu yang menguasai ilmu sejarah dan ilmu pengetahuan" dan perilaku Sandiaga masuk pengertian tersebut.

Di pihak seberang, cawapres pendamping Jokowi, Ma'ruf Amin, mendapat gelar "milenial" dari Ketua Umum Hanura Oesman Sapta Odang (OSO). Kata OSO, "Milenial itu bukan masalah umur [tapi] masalah perbuatan, sikap. Jadi itu bagian dari kombinasi antara nasionalis-religius."

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar juga mengatakan Ma'ruf adalah ahli ekonomi keumatan. Menurut laki-laki yang biasa dipanggil Cak Imin itu, Ma'ruf punya andil besar dalam membangun perbankan syariah di Indonesia. Bahkan pada September 2018, Universitas Islam Nusantara (Uninus) memberikan gelar guru besar perbankan syariah kepada Ma'ruf.

Deskripsi di atas menggambarkan bagaimana citra cawapres dibingkai agar tidak saja diterima kubu sendiri tetapi juga tidak kalah saing dari cawapres lawan. Citra Sandiaga dibentuk agar tidak kalah dengan Ma'ruf, kiai senior Nahdlatul Ulama yang menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejak 2015. Sedangkan citra Ma'ruf turut dibingkai agar unggul dari pengusaha muda yang kerap bicara soal perekonomian seperti Sandiaga.

Belakangan, Ma'ruf mengakui bahwa dia bukan ekonom melainkan ahli ekonomi. Dia mengatakan bahwa dirinya kiai yang ahli syariah namun punya perhatian khusus terhadap masalah ekonomi.

Tapi soal milenial, Ma'ruf amat tidak tepat dinisbatkan dengan predikat itu. Dia lebih pas disebut generasi kolonial—kelompok umur yang lahir sebelum Indonesia merdeka. Ma'ruf lahir pada 1943, waktu Indonesia di bawah kendali Jepang.

Sedangkan sejak awal Sandiaga mengatakan tidak pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Pada pertengahan Februari 2019 Sandiaga mengatakan dirinya bukan ulama.


Mengembara di Pesantren dan Pasar

Itu baru bagian kecil palagan berebut citra sebagai cawapres yang peduli umat dan ekonomi. Di luar itu, kedua cawapres juga turut bertarung di darat, mengunjungi tempat atau kegiatan yang menyimbolkan perhatian mereka terhadap isu tersebut.

Sepanjang satu bulan pertama setelah ditetapkan sebagai cawapres, Sandiaga mendatangi pelbagai pasar. Ia berpolah aneh: memakai wig pete atau menelepon dengan tempe. Selain itu, baik Sandiaga maupun Ma'ruf turut mengunjungi pelbagai pesantren. Keduanya tercatat melakukan lebih banyak safari daripada pasangan mereka.

Sebagian besar daerah yang disisir Sandiaga ada di Jawa Barat. Dia mengunjungi tujuh kabupaten atau kota yang sulit ditembus Sudrajat-Syaikhu, kandidat gubernur dan wakil gubernur usungan PKS-Gerindra-PAN di Pilgub Jabar 2018. Empat di antaranya adalah wilayah kemenangan Jokowi di Pilpres 2014, sementara sisanya merupakan lumbung suara Prabowo.

Pola seperti itu tetap dilakukan Ma'ruf dan Sandiaga selama masa kampanye. Selama Februari 2019, bulan terakhir sebelum keduanya berhadapan dalam Debat Ketiga yang dikhususkan bagi cawapres pada Minggu (17/3/2019), Ma'ruf mengunjungi setidaknya tujuh pesantren. Sementara Sandiaga menyambangi sekurang-kurangnya enam pesantren.

Dalam catatan Tirto, dari 19 kota dan kabupaten yang dikunjungi Sandiaga pada bulan itu hanya enam yang merupakan wilayah kemenangan Jokowi di Pilpres 2014. Sandiaga juga mengunjungi lebih banyak daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur daripada Jawa Barat.

Sedangkan Ma'ruf mengunjungi banyak tempat kemenangan Jokowi di Pilpres 2014. Sebagian di antaranya ada di Jawa Barat seperti Kuningan, Cirebon, dan Kota Cirebon. Ma'ruf mengunjungi pula pelbagai pesantren yang berada di wilayah kekalahan Jokowi pada Pilpres 2014 di Jawa Barat dan Banten: Serang, Purwakarta, Cianjur, dan Banjar. Mantan Rais Aam NU tersebut juga memberikan ceramah di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Selain itu, Sandiaga dan Ma'ruf tidak luput bersaing dalam mengunjungi tilas dua proklamator Republik. Ma'ruf mengunjungi rumah kelahiran Mohamad Hatta di Bukittinggi, Sumatra Barat pada 7 Februari 2019. Dua hari kemudian, Sandiaga menyambangi rumah pengasingan Sukarno di Bengkulu.

Infografik ulah wapres
Infografik ulah wapres. tirto.id/Fuad


Mengejar Elektabilitas

Debat Cawapres 17 Maret 2019 sekaligus menandai genap satu bulan sebelum hari pencoblosan Pilpres. Berdasarkan hasil survei, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf masih di atas Prabowo-Sandiaga.

Survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) terhadap 1.620 responden yang secara statistik mewakili populasi pemilih pada 24-31 Januari 2019, misalnya, menyatakan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebesar 54,9 persen. Sementara elektabilitas Prabowo-Sandiaga hanya 32,1 persen.

Meski demkian, sosok Ma'ruf tidak berpengaruh secara signifikan terhadap elektabilitas Jokowi. Sebagaimana hasil sigi Charta Politika per Januari 2019, pemilih yang memilih Jokowi-Ma'ruf karena sosok Maruf hanya 0,2 persen.

Sementara itu pada Debat Perdana Pilpres 2019, Ma'ruf lebih irit bicara daripada Jokowi, Prabowo, maupun Sandiaga. Soal kelincahan berbicara, berdasarkan debat perdana itu, Sandiaga lebih unggul dari Ma'ruf.

Kita semua masih menanti, apa yang bakal disuguhkan Ma'ruf dan Sandiaga pada debat putaran ketiga.

Baca juga artikel terkait DEBAT CAWAPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Politik)


Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Ivan Aulia Ahsan