5 Februari 2014

Joop Ave: Tokoh Pariwisata Indonesia, Dipercaya Sukarno & Soeharto

Oleh: Petrik Matanasi - 5 Februari 2021
Dibaca Normal 3 menit
Setelah lama di bidang protokol istana pada zaman Sukarno, Joop Ave yang pandai bergaul dijadikan pejabat pariwisata oleh Soeharto.
tirto.id - Soeharto adalah sosok paling berpengaruh sejak 1965. Kala itu adalah tahun ketujuh Joop Ave sebagai staf protokoler Istana Negara. Usia Joop sekitar 30. Ia mengenal dan dikenal pejabat negara yang berseliweran di istana, termasuk Wakil Perdana Menteri (Waperdam) I Soebandrio.

Suatu hari, Joop diminta Waperdam I untuk mengantar seorang duta besar yang dianggap komunis. Duta besar yang bertugas di Sri Lanka ini pun lalu diantar kepada Mayor Jenderal Soeharto, yang kala itu masih Panglima Kostrad.

“Ketika kami bertemu, Pak Harto memakai sarung dan kaus,” kata Joop Ave dalam buku kenang-kenangan tentang Soeharto, Pak Harto: The Untold Stories (2012: 201).

Itu pertamuan pertama Joop dengan Soeharto.


Pertemuan berikutnya terjadi ketika Soeharto diangkat menjadi kepala staf. Waktu baru datang ke istana, Soeharto bertanya kepada Joop, “Saya duduk di mana?”

“Di barisan depan, Jenderal.”

Soeharto waktu itu tidak percaya dan bertanya lagi, “Yakin, kamu?”

Setahu Joop, menurut aturan protokoler, semua kepala staf dari setiap angkatan memang harus duduk di depan. Maka Joop pun tak ragu untuk bilang, ”Ya, Jenderal.”

Pertemuan penting ketiga terjadi ketika Joop ditugaskan ke Kedutaan Besar RI di Amerika Serikat. Soeharto meminta kepada Joop untuk dicarikan tiga mesin pemotong rumput. “Saya tidak berani bertanya mesin itu akan digunakan di mana. Yang penting, saya bisa memenuhi pesanan beliau,” ujarnya.

Dari Istana Sukarno ke Istana Soeharto

Joop merintis karier sejak 1957 sebagai penyiar dan penyusun program berbahasa Prancis di Radio Republik Indonesia (RRI). Sebagai mantan siswa sekolah elite, bahasa asingnya, termasuk Prancis dan Inggris, sangat baik. Tak heran ia dipercaya menjadi penyusun program berbahasa asing.

Karier penting Joop setelahnya adalah Protokoler dan Kepala Rumah Tangga Istana sejak zaman Sukarno masih jadi presiden. Setelah Sukarno lengser dan Soeharto naik pada 1967, Joop masih jadi pegawai negeri sipil.

“Ketika itu terasa gamang karena ada yang dinilai sebagai 'Orang Sukarno' dan 'Orang Soeharto'. Kondisi ini membuat suasana sangat tidak nyaman,” kata Joop (hlm. 202).

Meski dianggap “Orang Sukarno”, Joop Ave bercerita, “ternyata saya mendapat tempat dalam pemerintahan Presiden Soeharto.”

Joop kemudian dikirim ke Amerika Serikat pada 1967. Selama di sana, Joop Ave pernah menjadi Sekretaris Konsulat Jenderal RI di New York, lalu konsuler hingga 1972. Setelahnya Joop pulang ke Indonesia. Ia kembali ke Istana Negara sebagai Kepala Rumah Tangga Istana Kepresidenan RI, dari 1972 hingga 1978.

Dalam Ensiklopedi Tokoh Kebudayaan (1995) disebutkan bahwa ia pernah pula menjadi Direktur Jenderal Protokol Departemen Luar Negeri. Ia dikenal sebagai pejabat yang ramah, periang, suka bergaul, dan penuh humor. Sejak 1982, Joop dijadikan Direktur Jenderal Pariwisata (hlm. 44).

Dari sekian banyak pejabat Orde Baru, Joop adalah menteri paling “gaul”. “Dia orang yang bisa mewakili negara dengan penuh percaya diri,” tulis jurnalis Desi Anwar dalam Faces & Places - 35 Tokoh & 50 Tempat yang Menginspirasiku (2016: 171).

Ratu Elizabeth II dan suami Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher, Dennis Thatcher, puas dengan jamuan Joop. Ratu Inggris bahkan membawa pulang satu piring tradisional.

“Ketika dia membuka mulut, terasa bahwa kita berhadapan dengan orang yang berbobot dan kata-katanya terus disimak dengan serius,” catat Desi.

Menurut mantan jurnalis RCTI itu, belum ada menteri atau duta besar yang sepiawai dan seluwes Joop dalam bergaul.

Joop Ave tergolong orang kepercayaan Soeharto. Ia dianggap bisa mengambil hati ibu negara Tien Soeharto. Selain itu, disebut-sebut pula bahwa Joop adalah orang yang memperkenalkan pengusaha Setiawan Djodi kepada anak lelaki tertua Soeharto, Sigit Harjojudanto.


Visit Indonesia Year 1991

Joop Ave punya rekam jejak yang jelas soal kontribusinya dalam menyajikan citra positif Indonesia ke dunia internasional. Tak heran, ia ditunjuk Soeharto sebagai Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi (Menparpostel). Setelah tak jadi menteri, Joop Ave yang pecinta seni ini masih berusaha memperkenalkan batik Indonesia lewat buku Grand Batik Interiors (2007).

Ketika menjabat sebagai Dirjen dan Menteri Pariwisata, Joop Ave punya ambisi besar untuk mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan asing ke Indonesia. Di masanya, ada sebuah program yang disebut Visit Indonesia Year 1991.

“Marilah kita bersama-sama merebut hati bangsa lain agar makin terpikat untuk mengunjungi Indonesia,” kata Soeharto pada pergantian tahun 1990-1991 di Plaza Utama Pekan Raya Jakarta, seperti dicatat dalam buku Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita: Buku XIII (2008: 700-701).

Infografik Mozaik Joop Ave
Infografik Mozaik Joop Ave. tirto.id/Sabit


Kala itu Soeharto didampingi istrinya. Selain Nyonya Soeharto, ada juga Menparpostel Soesilo Soedarman, yang didampingi Menteri Koperasi Bustanil Arifin, Menteri Kehutanan Hasjrul Harahap, Panglima Kodam Jakarta Raya Mayor Jenderal Kentot Harseno, dan Joop Ave yang masih berstatus Dirjen Pariwisata.

Joop Ave dan pejabat pariwisata tentu tak ingin hanya Bali yang ramai dikunjungi, tapi juga daerah lain. Pada 1984, Joop Ave sudah mengunjungi Tana Toraja. Seperti ditulis Kathleen M. Adams dalam "Touting Touristic Primadonas: On Tourism, Ethnic Negotiation and National Integration in Sulawesi Indonesia", Joop Ave kemudian menyatakan Tana Toraja sebagai primadona wisata Sulawesi Selatan.

Uang pecahan Rp5.000 bergambar tongkonan (rumah adat Toraja) adalah modal penting memperkenalkan Toraja yang punya tradisi rambu solo. Joop Ave dan jajarannya juga berusaha mengadakan penerbangan Makassar-Tana Toraja, sebab butuh 8 jam jalan darat untuk mencapai Tana Toraja dari Makassar.

Layak Disebut Bapak Pariwisata

Masa kecil Joop adalah zaman perang. Terlahir sebagai bocah indo cukup tidak nyaman di zaman pendudukan Jepang. Orang indo biasanya selalu dicurigai Jepang sebagai mata-mata Belanda dan tidak sedikit yang jadi penghuni kamp tawanan.

Setelah Jepang menyerah kalah pun, orang-orang indo adalah sasaran buta penjarahan, perkosaan, dan pastinya pembunuhan dalam Masa Bersiap. Ayah Joop meninggal sekitar 1946 dan ibunya jadi orang tua tunggal yang harus banting tulang.

Ibunya ingin Joop dan saudara-saudaranya sekolah setinggi dan sebagus mungkin. Beberapa sumber menyebut, Joop pernah belajar di sekolah menengah elite macam HBS. Lulus sekolah menengah, dia belajar di Sekolah Dagang milik Gabungan Indo untuk Kesatuan Indonesia (GIKI). Dia sempat kuliah di Filipina dan di Akademi Dinas Luar Negeri (ADLN).

Joop Ave tutup usia pada 5 Februari 2014, tepat hari ini 7 tahun lalu. Ada kejadian menarik tak lama setelah dia meninggal. Saat Pemilu 2014 dilaksanakan pada 9 April, di TPS 03 Jalan Brawijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, nama Joop Ave berada di urutan 110 dalam daftar pemilih tetap di TPS itu.

Ketika lelaki kelahiran 5 Desember 1934 itu meninggal, Mari Elka Pangestu menyebut bahwa Joop Ave layak disebut sebagai Bapak Pariwisata. Sebuah gelar yang layak baginya.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 7 Februari 2019. Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight