Jokowi Paparkan Konsep Transisi Energi RI di Forum Internasional

Oleh: Andrian Pratama Taher - 18 September 2021
Dibaca Normal 2 menit
Jokowi sebut Indonesia mulai mentransformasi diri menuju penggunaan energi terbarukan dan akselarasi ekonomi berbasis teknologi hijau.
tirto.id - Presiden Joko Widodo menghadiri pertemuan Major of Economies on Energy and Climate 2021 secara daring dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Jumat (17/9/2021). Dalam pertemuan yang diinisiasi Amerika Serikat dan dihadiri oleh berbagai perwakilan dunia, Jokowi menyampaikan strategi Indonesia dalam menghadapi permasalahan di bidang iklim dan energi.

Jokowi mengatakan, Indonesia mulai mentransformasi diri menuju penggunaan energi terbarukan serta akselarasi ekonomi berbasis teknologi hijau per Agustus 2021.

"Untuk mewujudkan transformasi ini, kami telah menyusun strategi peralihan pembangkit listrik dari batu bara ke energi baru terbarukan, mempercepat pembangunan infrastruktur energi baru terbarukan yang didukung pelaksanaan efisiensi energi, meningkatkan penggunaan biofuels, dan mengembangkan ekosistem industri kendaraan listrik,” kata Jokowi dalam pertemuan tersebut.

Jokowi juga menerangkan, pemerintah menargetkan Indonesia netral karbon pada 2060 lewat kawasan percontohan yang tengah dikembangkan, salah satunya adalah Green Industrial Park seluas 20 ribu hektar di Kalimantan Utara yang diklaim taman industri hijau terbesar di dunia.

Selain itu, Jokowi menyampaikan langkah transisi energi Indonesia. Menurut mantan Wali kota Solo ini, transisi energi Indonesia memerlukan kemitraan global karena transisi energi bagi negara berkembang membutuhkan pembiayaan dan teknologi yang terjangkau. Oleh karena itu, Jokowi mengundang investor yang ingin bekerja sama di bidang energi terbarukan.

“Kami membuka peluang kerja sama dan investasi bagi pengembangan bahan bakar nabati, industri baterai litium, kendaraan listrik, teknologi carbon, capture and storage, energi hidrogen, kawasan industri hijau, dan pasar karbon Indonesia,” imbuhnya.

Jokowi pun mengaku Indonesian mendukung ikrar aksi bersama dalam kampaye Global Methane Pledge. Gagasan ini bertujuan bertujuan mengurangi 30 persen emisi metana global pada 2030. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini beranggapan, Global Methane Pledge dapat menjadi momentum penguatan kemitraan dalam mendukung kapasitas negara berkembang.

“Bersama Amerika Serikat dan 45 negara lainnya, Indonesia juga telah bergabung dalam Global Methane Initiative. Pengurangan emisi metana telah masuk dalam Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia,” tutur Jokowi.

Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar mengatakan, pertemuan Major of Economies on Energy and Climate 2021 digelar dalam rangka undangan dari Presiden Amerika Serikat, Joe Biden.

"Presiden Amerika, Joe Biden, telah mengundang sejumlah negara-negara utama untuk hadir pada pertemuan ini dan pada kesempatan malam ini Bapak Presiden adalah salah satu dari hanya 10 kepala pemerintahan lainnya yang hadir dan berbicara dalam pertemuan melalui _virtual setting_," ujar Mahendra seusai mendampingi Jokowi dalam acara tersebut.

"Selain 10 kepala pemerintahan ada juga Presiden Komisi Eropa, Presiden Dewan Eropa, serta Sekretaris Jenderal PBB," kata dia.

Mahendra mengatakan, pertemuan kali ini bertujuan untuk membahas langkah kerja sama konkret jelang pertemuan Conference of Parties (COP26) di Glasgow pada November mendatang. Mereka fokus pada tujuan agar suhu dunia tidak berubah lebih dari 1,5 derajat celcius. Mereka membahas agenda kontribusi masing-masing negara dalam mengatasi perubahan iklim serta membahas penggunaan energi terbarukan.

Selain itu, Presiden Biden juga mengundang para peserta yang hadir pada pertemuan ini untuk mendukung apa yang disebut dengan global methane pledge, yaitu kesepakatan atau suatu janji bersama untuk juga mengatasi emisi yang disebabkan oleh gas metan.

"Terkait dengan global methane pledge yang merupakan usulan dan permintaan dukungan dari Presiden Biden, Bapak Presiden menyampaikan secara umum mendukung langkah tadi dengan menyarankan agar seluruh prosesnya dilakukan secara terbuka melalui mekanisme yang transparan dan bersifat partisipatif. Dalam konteks Indonesia sendiri, penurunan gas metan sudah dicakup di dalam NDC Indonesia yang juga sudah di-update dan disampaikan kepada PBB ataupun UNFCCC," kata Mahendra.

Turut mendampingi Presiden Jokowi dalam acara tersebut yaitu Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, dan Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar.


Baca juga artikel terkait PERUBAHAN IKLIM atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Abdul Aziz
DarkLight